"Dale!" teriak seorang perempuan memanggil namaku, "Dale!" teriaknya lebih kencang lagi. Aku berlari mengikuti sumber suara tersebut, aku berlari semakin dekat dan suara itupun semakin jelas, aku mengenal suara itu. Suara ibuku. Aku akhirnya sampai didepan rumah dimana suara itu berasal, tetapi suara itu sudah tidak terdengar lagi. Aku berlari masuk dan suara beep - pun berbunyi. Aku mendapati tubuh ibuku yang tergeletak di lantai dengan keadaan tidak sadar. Air mataku mulai mengalir, aku mencoba untuk membangunkan ibuku tetapi sia - sia. Aku mengeluarkan benda yang mengeluarkan bunyi beep itu dari saku celanaku. benda itu berbentuk segitiga dengan tiga warna lampu di tengahnya dan gagang yang cukup panajang untuk digenggam, ini adalah alat pendeteksi radiasi. Dan aku mendapati lampu kuning pada alat ini menyala, yang menandakan adanya radiasi tingkat menengah di dalam rumah ini. Itulah yang membuat ibuku tidak sadarkan diri. Aku menyesal karena meninggalkan ibuku sendiri. Aku hanya bisa memeluk ibuku yang sudah tidak sadarkan diri dengan air mata yang mengalir semakin deras.
Terdengar suara ketukan, ketukan antara besi dengan besi. Aku membuka mataku dan air mataku keluar, badanku berkeringat, dan aku merasa sangat panik. Aku menarik napas yang panjang melalui hidungku lalu membuangnya melalui mulutku. Lalu aku benar - benar tersadar kembali ke dunia nyata. Ketukan itu menandakan waktunya untuk bangun. Aku beranjak dari tempat tidurku ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Sekarang waktunya untuk sarapan. Aku keluar dari kamarku. Melewati lorong yang cukup panjang dengan pintu - pintu kamar yang menempel pada setiap sisi temboknya dan orang - orang yang keluar untuk sarapan dari pintu - pintu itu.
Delapan tahun aku tinggal dibawah sini, ya, bangunan ini terdapat dibawah tanah, bangunan ini awalnya merupakan bunker anti - nuklir dan saat ini menjadi tempat tinggal seratus ribu orang. Aku mengambil makananku lalu pergi menuju meja makan. Aku duduk disamping sahabatku, Jenna.
"Kau terlambat, bermimpi buruk lagi?"
"Ya, semacamnya"
"Tentang Ibumu lagi?"
"Iya"
Kamipun berbincang sambil menghabiskan makananan mengenai hal lain karena aku tidak ingin membicarakan tentang ibuku. "kau merasakan suatu getaran?" Tanya Jenna. "ti..", tiba - tiba saja bumi bergetar begitu keras. Piring - piring berjatuhan, getaran ini membuat saluran gas pada kompor terlepas yang mengakibatkan tabung gas itu meledak, aku melihat koki yang terbakar berteriak kesakitan dan Jenna juga melihatnya. getaran ini juga membuat putusnya saluran listrik, saat geteran itu berhenti, listrik padam. Ruangan ini menjadi sangat gelap yang hanya dapat kita lihat adalah garis bantu menuju ruangan aman. Garis yang menjadi terang dalam ruangan gelap. Harapan yang muncul dari kegelapan.
Banyak orang berbondong - bondong mengikuti garis itu dan aku salah satunya. Aku langsung menggenggam tangan Jenna karena aku tidak ingin kehilangan dia. Aku melihatnya menangis, "koki itu..," kata dia tersedu, "kita tidak bisa menyelamatkannya, kau tahu itu," aku memeluknya.
Disepanjang perjalanan menuju ruangan aman, kami melihat banyak bagian bangunan yang rubuh, tidak banyak orang yang selamat setelah gempa itu terjadi, orang selamat segera berbaris mengikuti garis terang itu. Aku beruntung hanya mengalami luka ringan.
Tidak lama, kami pun bisa melihat pintu ruangan aman itu, pintu itu sangat lebar, 15 orang bersampingan dapat memasukinya sekaligus. "Tolong!" kami menoleh. Suara itu tidak hanya datang dari satu orang. Aku bisa melihatnya, para korban yang terkena reruntuhan. "kita harus membantu mereka" kata Jenna, dan langsung menghampiri para korban itu. Dia mendekati seorang laki - laki yang menyeret satu kakinya. Laki - laki itu melilitkan satu tangannya ke pundak Jenna, dan Jenna mulai menopangnya.
Tiba - tiba muncul suara sirine, diikuti dengan menyalanya lampu kuning yang berputar di sisi pintu. Pintu itu mulai menutup. Orang - orang menjadi panik dan langsung berlari menuju pintu. "Dale, bantu aku!" teriak Jenna, aku datang menghampirinya, melilitkan tangan lelaki itu yang satunya lagi kepundakku, aku menengok kebelakang, segerombolan korban itu mencoba berlari walaupun mereka mengetahui mereka tidak akan berhasil. "lebih cepat!" teriakku. Sekitar 5 meter lagi menuju pintu lalu ada orang yang mendorong kami, membuat kami terjatuh. Orang - orang terus berlari, itu membuat kami sulit untuk berdiri, aku kembali menopang lelaki itu berdiri, "Jenna!" langsung terdengar teriakkan dari perempuan itu, terlihat ada orang yang menginjak tangannya.
Aku menghampirinya sambil menopang lelaki itu dan menghadang orang yang menabraknya. Dia akhirnya dapat berdiri dan membantuku menopang lelaki itu. Hanya selebar 3 orang pintu itu sekarang dan jarak kami kurang dari pintu itu kurang dari 2 meter. Kembali lagi ada orang yang mendorong kami, dorongan itu membuat kami semakin dekat dari pintu tetapi membuat lelaki itu jatuh kembali, sudah menjadi 2 orang lebar pintu itu. Aku melihat Jenna membantu lelaki itu yang sekarang sudah setengah berdiri. Aku langsung melilitkan satu tanganku ke perut Jenna lalu mengangkatnya dan menggenggam tangan lelaki itu dengan tangan yang lain. Aku mendorong tubuhku melewati pintu itu yang sekarang tinggal 1 setengah orang lebarnya. Dentuman besi terdengar, pintu itu tertutup rapat.
Tidak aku sadari ternyata genggaman ku dengan lelaki itu terlepas, aku memandangi sekelilingku, tempat ini terasa sesak, terlalu banyak orang dalam ruangan ini. Dan dari banyak orang itu tidak aku temukan lelaki berkaki pincang itu. Aku melihat ke arah pintu besar itu dan tersadar lelaki itu ada baliknya.
://H
ESTÁS LEYENDO
Yang Terakhir
Ciencia FicciónDi masa depan, dimana permukaan bumi menjadi tempat berbahaya yang memaksa manusia tinggal dibawah tanah. Dale, seorang lelaki yang sudah hidup disana selama 8 tahun ditemani sahabatnya Jenna. Dan saat terjadi bencana yang muncul dari bawah tanah...
