11 Mei 2011
Namanya Max Earth. Lelaki yang aku kagumi sekarang ini. Ingin sekali aku berkenalan dengannya.
12 Mei 2011
Hari ini aku mengikuti lomba olimpiade Fisika tingkat provinsi. Dia juga mengikuti olimpiade yang sama dengan ku.
13 Mei 2011
Tidak sesuai harapan. Aku berhenti di babak awal. Harus menerima kekalah yang memalukan. Sedangkan Max maju di babak selanjutnya.
14 Mei 2011
Aku melihat dia berjalan dengan seorang wanita yang tidak aku kenal. Bercanda gurau mereka membuatku cemburu.
15 Mei 2011
Max memenangkan olimpiade Fisika itu. Sedangkan wanita yang tidak aku kenal itu memenangkan olimpiade Biologi.
Lara Chalondra. Baru kali ini dia merasakan bagaimana sebuah kegagal. Sebuah keinginan yang tidak terpenuhi olehnya. Sesuai dengan arti namanya cerdas, pekerja keras, lembut, tetapi sedikit keras kepala. Merasa geram dengan hasil olimpiadenya, ia terus belajar untuk melampaui Max atau 'salah satu cara untuk berkenalan dengan Max Earth'.
Aku di tempatkan di kelas yang paling terpencil, duduk yang paling sudut, sendirian. Aku mendengar para wanita itu bergosip, tidak meiliki keinginan untuk bergabung, tetapi memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Sampai mereka membicarakan soal aku ikut olimpiade. Tidak heran aku di gosipin. Seorang Lara yang tidak aktif dalam setiap pelajaran sampai di cap pemalas, tiba tiba mengikuti olimpiade, yang memalukannya lagi ketika aku mendengar " Wajarla jika dia berhenti di babak awal, namanya juga pemalas." Tanpa melihat wajah mereka aku sudah tau itu suara Ella, orang yang duduk di bangku paling depan di barisanku.
Malam yang diselimuti awan merah. Mendung yang tidak di harapkan, suara gemuruh mulai terdengar semakin keras. Lara yang pulang larut untuk pertama kalinya membuat kedua orang tuanya khawatir. Papanya yang paling mencemaskannya sampai tidak bisa mengontrol nada bicaranya.
"Jam berapa ini?!" kata papanya dengan nada tinggi. Sedangkan mamanya hanya duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan.
"Tadi baru pulang dari perpustakaan" Jelas Lara. Raut wajah papanya berubah menjadi tenang dan mamanya tersenyum ketika melihat Lara.
" Kamu kan bisa minta sama papa. Kalau kamu mau les atau buku minta saja. Papa kasih uangnya, kamu bisa beli sama temen kamu atau sama supir papa". Jelas papanya.
"Lara mau beli buku besok, tapi Lara tidak butuh supir papa, Lara bisa sendiri".
"Kamukan bisa lebih mudah jika ada supir. Mungkin mama sama papa bisa mencarikan kamu asisten pibadi." Jelas mamanya.
"Tidak usah ma, Lara bisa mengerjakannya sendiri. Mungkin mama sama papa bisa membantu waktu Lara butuhin" Pintaku.
"Apapun untuk kamu" Ucap papanya.
Anak tunggal yang hidup di keluarga kaya. Apapun yang diminta Lara, pasti di turuti. Hanya saja Lara ingin terliahat biasa di hadapan banyak orang, tidak ingin di perhatikan atau di kenal banyak orang. Bahkan tidak ada satupun temannya yang masuk ke dalam rumahnya. Bahkan tidak ada yang tau siapa temannya.
16 Mei 2011
Ternyata wanita Biologi itu bersebelahan dengan kelas Max. Tidak sia – sia aku pulang larut. Untunglah sebagian rencanaku berhasil. Sedikit gugup ketika aku melukai wanita jalang itu.
Esoknya ku dengar kabar wanita Biologi itu terbaring di rumah sakit. Ntah kenapa berita tentang sakitnya wanita itu menjadi pembicaraan yang hangat. Isunya karena di celakain oleh adik kelasnya yang belum di ketahui. Aku sangat kasihan? atau tidak puas dengan berita yang beredar. Kenapa tidak beredar berita wajah dan bagian tubuhnya yang tersayat dan terkelupas? Sesuatu yang sangat menyenangkan melihatnya menderita.
17 Mei 2011
Semakin hari apa yang kurasakan kepada Max semakin 'GILA'. Aku mengikuti Max selama di sekolah. Selama jam istirahat Max hanya murung. Mungkin karena wanita Biologi itu. Wanita biologi itu membuatku geram. Tidak pernah aku melakukan ini selama hidupku.
Yang benar saja, esoknya Max tidak hadir ke sekolah dan aku tidak ikut hadir ke sekolah. Ya, sudah pasti Max mengunjungi pemakaman Wanita Biologi itu. Kesempatan bagiku untuk mengecek rumah Max. Tentu saja aku sudah menyelidiki tentangnya, letak rumahnya di mana, tetangganya bagaimana, dan waktu yang tepat untuk mengunjungi rumahnya.
Sudah ku temukan jalan pintas untuk memasuki rumah Max. Tidak lupa menggunakan sarung tangan karet untuk jaga – jaga dan pisau di genggaman. Kulihat jam tangganku yang menunjukan pukul 8.25 . pemeriksaan rumah dalam waktu 1 jam. Rumah yang minimalis dan nyaman. Pintu pertama yang ku buka ternyata kamar tidur Max. Kamar tidur yang nyaman. Ada foto kelurganya di meja belajarnya, tidak heran karena dia jauh dari keluarganya yang di Inggris. Hampir sebagian dinding ruangan di penuhi buku, tertarik untuk melihat yang privasi, kulihat album foto di atas meja belajarnya. Foto – foto itu membuatku terbakar cemburu. Ku ambil album foto itu agar Max tidak melihatnya lagi. Mungkin kamera di meja belajar oke. 20 menit berlalu. Cklik . suara pintu? Aku buru – buru mencari tempat persembunyian. Di bawah tempat tidur. Detakan jantung ku sangat cepat. Telihat oleh ku kaki yang bolak – balik seperti kebingungan. Setelah menemukan apa yang dia cari lalu dia pergi. Terlalu takut untuk melanjutkan penyelidikan aku buru – buru pulang kerumah.
"Lara tidak sekolah? Wajah kamu kenapa pucat?" pertanyaan mama membuatku terkejut.
"Tadi Lara permisi pulang karena sakit." Kataku memberi alasan spontan.
"Yauda kamu istirahat. Kalau mau sesuatu bilang sama mama"
"Iya ma. Lara cuman mau istirahat"
PENGINTAIAN DIMULAI...
