Bam, hanyalah anak lelaki yang tinggal dengan orangtuanya, ya tidak berbeda dengan anak seumuran lainnya. Wajahnya memiliki khas orang timur tengah, namun matanya terkadang terlihat seperti orang tiongkok. Inilah hasil dari pernikahan, menghasilkan bentuk yang beragam. Tingginya 168 cm, itu saat terakhir kali ia tes masuk sebuah Sekolah Menengah Atas.
Dikalangan temannya, ia tidak begitu ingin terlihat menarik, jadi ia hanyalah seperti manusia pada umumnya, ya hanya saja ia berjiwa nyentrik dan pecicilan. Namun kalau sudah badmood, hilanglah semua kejiwaan yang dimiliki, ia akan menjadi manusia termalas di dunia.
"Ah, sial banget. Sudah terang aja ini langit." Umpat gue, ya walau masih tergeletak mengenaskan di kasur empuk.
"Ayah dan Ibu pasti sudah berangkat, tega banget gak bangunin. Eh udah biasa deh."
Gue pun bangun dari ranjang kenikmatan pagi hari. Di luar sudah ramai orang lalu lalang. Keluarga gue bukan konglomerat, tapi kami juga jauh dari garis kemiskinan, ya standart orang Indonesia.
Kami tinggal di lingkungan sederhana, semua bekerja pagi hari, dan pulang saat lembayung mulai muncul.
"Ah, kebanyakan lamun nih ah." Gue ambil Handphone, dan mulai ngetik sms buat sobat gue.
"Bro, sekolah?"
Gak lama, sms balasan pun datang. "Males, Bam. Lu ke warung Ma' Oi sini! Daripada sekolah, lagian gak ada jadwal praktikumnya!"
"Iya bro, gue juga males kalau teori mulu wkwk."
Kalian jangan salah, walau gue ini orangnya males, tapi masalah sekolah gue berada dalam peringkat 5 besar. Ya emang sih sekolah gue itu berbasis Kimia Industri, jadinya gue masuk kalau ada praktikum kimia aja.
"OTW bro, tunggu ya."
Rumah gue gak terlalu besar juga sih. Jadinya jarak kamar ke kamar mandi utama cukup berjalan kaki. Jadi gak makan waktu lama buat gue siap-siap pergi "sekolah".
Setelah siap, gue kunci pintu rumah gue. Tapi gue gak sengaja liat ke dalam, ada kaki-kaki kecil yang berjalan jinjit. Pas gue deketin jendela, tak terlihat apapun. Halusinasi? Entahlah sampai sekarang gue gak tau tuh.
Gue naik angkot 38. Dan gue gak lupa buat ngabarin kawan yang lagi "teler" mabok teh manis di warung tempat kami biasa nongkrong, bahwa gue lagi di jalan.
Padahal tuh warung deket sama sekolah, tapi gue gak ngerasa bakal ketahuan sama guru atau teman sekolah.
Habisnya, nih warung dibilang serem sama anak sekolah, gara-gara terjadi keracunan massal saat warung ini mencapai kejayaannya. Tapi, polisi tidak menemukan apapun yang menyudutkan pemilik warung. Ya, namanya manusia, takut ya tetep takut, warung ini sepi abiss. Kecuali, ada kuli mampir mau makan.
"Kiri, bang!" Cara khas memberitahu supir angkot untuk penumpang turun.
Terlihat dari kejauhan, plang bertuliskan "Sekolah 500M". Tapi ya tak ada niatan jalan ke sana sih.
Ah, sosok gadis manis menawan melambaikan tangannya ke arah gue. Siapa itu? Tentu kawan gue, namanya Bambang. Eh kok Bambang gadis? Hehe itu nama bapaknya deh. Nama aslinya Alviana, tapi gue biasa manggil Vi. Hati-hati dia tomboy dan ganas.
"Hey, Vi. Sudah lama nih?" Gue basa-basi.
"Gila ya lu, jam berapa ini?" Dia nunjukin jam tangannya.
"Hah, kok udah jam sembilan? Gue berangkat bukannya jam 7?"
"Lah, emang lu sempet liat jam rumah?" Tanya Vi.
"Kagak."
"Ih, kok dolok." Umpat Vi.
Yap, kami memang akrab. Sebenarnya kami baru saja berteman saat Penerimaan Peserta Didik Baru, tepatnya Masa Orientasi (Masa Bullying).
Untungnya kami mudah bergaul satu sama lain. Ya enak sih punya temen cewek tomboy, tapi terkadang gue harus dibilang banci sama kakak kelas yang ditolak Vi.
Kalau dalam game, Vi lebih cocok sebagai Attacker dan gue Supportnya. Terbalik? Kurasa tidak.
YOU ARE READING
Bam Petualang
Science FictionUdara masih terasa sejuk, di jalanan Kota Bogor. Kota yang berada di kaki Gunung Salak. Sebuah desa yang masih sulit terjamah. Yang hanya diketahui oleh orang-orang yang tak sengaja tersasar. Di sanalah, Bam tinggal. Karya ini dilindugi Undang - Und...
