PINDAH RUMAH

28 1 0
                                        

Hah! Bagaimana? Cukup menakutkan kan? Aku yakin dengan pindahnya aku ke rumah pohon ini, akan memperkuat aroma mistis yang ada di sekelilingku

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hah! Bagaimana?
Cukup menakutkan kan?
Aku yakin dengan pindahnya aku ke rumah pohon ini, akan memperkuat aroma mistis yang ada di sekelilingku.
Hemm, tapi tunggu dulu. Rasanya masih ada yang kurang sih. Apa ya? Biar aku lihat dulu catatanku.

Mengecat dinding rumah pohon dengan darah hewan sesembahan, oke.
Mengambil beberapa tulang dari mayat wanita muda yang masih gadis dan dijejerkan di sisi pintu, sudah.
Menyiapkan sesembahan untuk penghuni lama sekitar, beres.
Selebihnya hanya barang-barangku yang dari rumah lama dan masih berserakan di sini, ha-ha-haaah.

"Dari mana mulai dibersihkan?" Aku menendang salah satu kotak sihirku dari sekian banyak dan berakhir dengan serangan balasan dari si kotak.
"Main tendang seenaknya! Aku bukan bola, tau! Oiya, kau bodoh ya, aku lupa. Pasti nggak ngerti." Mendengar si kotak itu berbicara tanpa filter kemanusiaan aku langsung segera memukulnya keras-keras.
"Aku bukan bodoh. Aku penyihir yang baru buka praktek. Nantinya aku bakal menguasai dunia. Dan kau akan menyesal karena telah mengataiku."
"Adaaw, sakit, bodoh! Lepas!!"
Tok tok tok. Terdengar suara ketukan dari luar rumah pohon. Dan aku refleks memeluk kotak sihirku.
"Bikin kaget aja...."

Aku menghampiri pintu dan dengan ragu mengintip siapa gerangan yang bertamu di tengah hari begini.

Hegh! Badannya besar, batinku.
"Si-siapa ya?" Tanpa kusadari suaruku bergetar.
"Pembantu penyihir."
"Siapa?"
"Pembantu penyihir."
"Pembantu siapa?"
"Penyihir."
Aku sempat putus asa dan mengakui kalau aku lah penyihir bodoh di zaman ini, sebelum aku menyadari bahwa aku hanya salah bertanya.
"Siapa penyihir yang kau maksud?"
"Penyihir Ziswiv."
"Eh? Aku tidak pernah memesan jasa pembantu penyihir. Kau pasti salah."
"Ibumu mengutusku untuk menemanimu di rumah praktek barumu."

Lagi-lagi ibu! Kegagalanku di rumah lamaku karena ibu yang ikut campur tanpa henti. Dan sekarang setelah membuatnya berjanji untuk tidak ikut campur, dia malah mengirimkanku orang besar yang menakutkan ini.
TIDAK BISA DIMAAFKAN!!

"Jadi... sebaiknya aku mulai dari kandang yang berantakan ini dulu."

KANDANG??
Bahkan dia sudah menginjak-nginjak harga diriku sebagai penyihir.

Dia mengayunkan tangannya dengan pelan dan berirama, kemudian barang-barang itu berterbangan di udara sebelum akhirnya tertata rapih di tempat semestinya.
Karena terkesan dan baru saja ingat ada mantra sihir seperti itu, aku terbengong hebat.

"Lalu? Tidak ada kerjaan lain selain bengong seperti orang bodoh di sana?"
"Eh? Ba-banyak. Kalo gitu aku ke belakang dulu." Buru-buru aku berlari, namun akhirnya aku kembali ke hadapannya.
"Mohon bantuannya." Aku menundukkan kepala dengan sopan.

Jadi, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku bisa lupa soal sihir sederhana yang harusnya sudah kuhapal di luar kepala?
Sekeras apapun kuputar otakku, tidak tersisa satu serpihan pun dari ingatan itu.

Aku sampai pada bagian belakang rumah pohon. Dapur dan tempat cuci piring ada di sana. Dan kamar mandinya 100meter dari belakang rumah. Tentu saja itu bukan kamar mandi umum. Itu kamar mandiku dan hanya aku yang akan memakainya. Kecuali kalau muncul penghuni atau tetangga yang tak kasat mata...

CLUMSY WITCHWhere stories live. Discover now