Hujan di bulan Desember tahun itu menggerus rindu seorang gadis Jawa yang nestapa hatinya. Waktu ibunya melahirkan ia, ibunya bernama Parmi dan bapaknya yang bernama Warno memberi nama kepadanya Sri Juminten. Tetapi di kampungnya sudah ada yang dipanggil Sri dan ada pula nenek tua yang rada kena sarafnya bernama Juminten. Hingga akhirnya teman karibnya yang bernama Lestari memanggilnya Sinten, agar tidak menyamai nama orang-orang di kampungnya tadi. Sinten adalah gadis Jawa yang berperawakan ideal. Hidungnya mancung dan bulu matanya lentik, membuat perjaka di kampungnya tergila-gila padanya. Dari sekian banyak perjaka yang menggodanya, Sinten menjatuhkan hati pada perjaka dari kampung sebelah yang melarat hartanya, nelangsa pula hidupnya. Ia bernama Guntur. Mas Gun, nama panggilan dari Sinten. Dek Sri, nama panggilan dari Guntur. Mereka berdua sudah memadu kasih sejak dua tahun, hingga akhirnya Guntur merantau ke pulau Sumatra dan meninggalkan kampung halamannya. Sejak Guntur merantau, mereka berdua hanya dapat berkomunikasi lewat surat. Sri tidak mengenal HP untuk berkomunikasi, paling jauh dia pergi ke wartel bila memang mendesak perlunya. Itu saja ia harus mengajak Lestari untuk membantunya menggunakan telepon wartel. Tetapi sudah sejak 4 bulan lamanya, surat yang Sinten kirim tak berbalas juga. Dari pagi memuntahkan malam, dan malam menelan siang, Sinten selalu menunggu, barangkali ada petugas pos yang datang membawa sepucuk surat dari pulau sebrang. Tapi harapannya lama-lama mengecil dan kemudian hilang. "Mas Gun mungkin telah lupa sama aku, Ri," ucap Sinten putus asa. "Tidak mungkinlah, dia mungkin lagi sibuk jadi tidak sempat membalas suratmu," jawab Lestari. "Biasanya kalau sibuk juga masih ada lowongnya, kok , jangan-jangan dia sudah punya pacar lain di sana, atau malah sudah menikah dengan perempuan Sumatra" ucap Sinten. "Alah, kamu itu jangan mengada-ada. Jangan berpikiran seperti itu. Mas Gun tidak mungkin meninggalkanmu," ujar Lestari.
Bapak Sinten adalah seorang petani yang menggarap sawah orang lain. Upahnya tak seberapa dibanding tenaganya. Ia hanya mampu menghidupi keluarganya secara pas-pasan. Hingga suatu malam dipanggillah Sinten yang sedang menjahit sarung yang sobek karena sudah lapuk dimakan usia.
"Nduk, bapak mau ngomong sama kamu," ucap bapaknya.
"Iya pak, ada apa ya pak?" jawab Sinten.
"Kamu kan sudah besar, sudah saatnya kamu meringankan beban bapak lan biyungmu ini. Kemarin keponakannya Pak Slamet yang jadi pegawai di Jogja itu pulang. Kalau berjodoh sama pegawai itu enak loh, Nduk. Hidup mapan dan masa tua terjamin," ucap bapaknya.
"Maksud bapak bagaimana, ya? Saya tidak paham," jawab Sinten.
"Ya begitu, bapak kepingin kamu itu berjodohnya sama pegawai. Seperti keponakannya Pak Slamet itu, si Adi," jelas bapaknya.
"Jadi maksud Bapak, Saya harus menikah dengan pegawai, begitu?" tanya Sinten.
"Ya begitu, yang nggak jauh-jauh carinya ya sama Adi saja. Bapak tahu si Adi itu kelihatannya naksir kamu," ucap bapaknya.
Percakapan itu berlangsung sampai larut malam. Perdebatan-perdebatan kecil menjalari perdebatan yang besar. Sinten mengerti maksud bapaknya itu. Bapaknya ingin menjodohkannya dengan Adi. Sinten tidak dapat memungkiri bahwa hatinya sudah terpatri pada Mas Gun. Mas Gun telah berjanji akan menikahinya setelah dia mendapat modal. Penjelasan mengenai Mas Gun telah berdakik-dakik ia katakan pada bapaknya. Tapi semua penjelasan itu hanya membeku pada saat mata bapaknya memerah dan atmosfer ruang TV saat itu berubah menjadi ruang sidang. "Tidak ada cinta yang tahan lama seperti manisan dalam botol selai! Semuanya seperti tomat, menggemaskan hari ini, lalu layu beberapa hari lagi!" ucap bapaknya. Sinten hanya bisa menunduk dan tangannya gemetar. Ibunya yang baru saja pulang dari warung tidak berani berkata apa-apa. Tiba-tiba petir menyambar, lalu hujan menjatuhi tanah Jawa tempat Sinten dilahirkan malam itu. Air matanya larut bersama hujan dan dingin malam itu. Tidak ada yang mengerti hatinya, tidak bapaknya, tidak ibunya, tidak pula Mas Gun. Tidak satupun orang yang boleh mengerti betapa hatinya kisruh saat itu, karena itu hanya akan membebani orang-orang di sekitarnya.
YOU ARE READING
Sinten
Short StorySinten yang dalam bahasa Jawa berarti 'siapa' ini merupakan gadis Jawa tulen yang telah berhubungan dengan Gunawan selama beberapa tahun tetapi akan dijodohkan dengan perjaka asal Jogjakarta. Siapakah perjaka itu? Bagaimana kelanjutannya? Sila baca...
