Water girl

286 22 27
                                        

Multimedia : Valeria Haley

Tubuhku terbaring diatas tanah kering hutan mati, menatap matahari senja yang membuat hatiku tenang, tas bekas latihan kugunakan sebagai penyangga kepala. ah indahnya

Setelah latihan dan berendam tubuhku sangat lemas untuk digerakkan, lebih tepatnya malas. jadi apa salahnya jika nanti pulang setelah hari gelap

"Hei!" seseorang membangunkanku, sontak aku terkejut

Mataku menatap wajahnya yang berada tepat diatas wajahku, tetap saja aku menatapnya intens tanpa membalas sapaanya atau bahkan tersenyum manis kepadanya

"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN KOLAMKU HAH?!"

apa apaan ini tiba tiba saja ia membentakku. Benar benar menyeramkan melihat wajahnya ketika marah. Aku duduk untuk membenahkan posisiku dihadapanya, bisa saja kan gadis ini menyerangku?

Kolamku? Bukankah ini kolam bebas untuk siapa saja? Ck.

"Maaf. jangan katakan juga ini hutan milikmu, kolam ini berhak untuk siapapun" ujarku seenaknya,

"Tapi kau membuat kolamku kumuh" jelasnya sedikit lebih tenang, rupanya ia masih sangat labil, benar benar gadis yang labil. Aku jadi tak ingin bertu dengan gadis yang banyak bicara sepertinya.

"Yasudah. Lagi pula aku tak peduli"  aku beranjak untuk pergi dari sini sekarang juga. Kukemasi seluruh bawaan dan persenjataanku segera, tak lupa handuk dan tas yang menjadi temanku saat seperti ini.

"Eh! Kau mau kemana?" gadis itu mencekalku dengan tangannya, wajahnya nampak bingung.

Aku mendelik menatapnya bosam, "Bukan urusanmu" lalu aku melepaskan genggamannya ditanganku dengan sedikit kasar. Tak berlebihan'kan? Yah, tentu saja. Aku kan Leo.

"Kau kasar sekali. Aku kan hanya bertanya, lagipula.. Kenapa kau membuat kolam ini penuh abu? Aku juga beberapa kali melihatmu memanah, mengendalikan api, lalu bagaimana kau melakukannya?" dengan terang - terangan ia menjelaskan bahwa aku memang bukan sekali dua kali kesini, bisa dibilang beberapa kali. Dan jangan bilang kalau gadis itu melihat saat aku berendam dikolam.

"Kau.. penguntit" aku menatapnya intens, tapi ia malah menatapku balik dengan mata yang berbinar, dan sebuah rona yang menghiasi wajahnya.

"Setiap hari yang datang ke hutan ini, aku selalu mengawasinya! Dan baru kali ini aku melihat orang api seperti mu" jelasnya berusaha membela diri. Dia menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu dan takut. Tenanglah sedikit, aku sedang tak ingin mengubahmu jadi abu.

"Oh" jawabku enteng.

"Aku juga memiliki yang seperti itu, hanya berbeda sedikit darimu. Boleh kutunjukkan?" ia tersenyum, matanya secara otomatis terpejam. Dan semua itu terlihat tulus,

Aku hanya mengangguk untuk memberinya respon, dalam hitungan detik ia bersemangat.

ia membuka telapak tanganya pelan pelan, tak perlu berlama lama menunggu aliran air yang entah dari mana berkumpul pada satu pusat dan membentuk bola seukuran bola sepak dengan bulatan kecil sukuran kelereng seperti terambang ambang itu berada disekitarannya, sebenarnya itu biasa saja bagiku. Dia silement? Dari kelas dan level mana? Oke kali ini aku peduli.

"Kau waterest dari Asrama mana?" lanjutku kemudian, wajahnya kembali tersenyum. Terlihat sedikit dipaksakan, matanya juga beralih tak memandanjgku seperti biasa.

Ia menghela nafas panjang, "Aku disini, bersama para Centaurus. Selain itu, tak ada manusia yang menemaniku. Lalu kau?" ia menyembunyikan kedua tangannya dibalik badannya yang ramping.

"Xylement" ucapku singkat, aku melupakan waktuku untuk pulang dan berbincang dengannya.

"Aku ingin kesana" ia membuang muka, eh?

The Controller : The Great WarWhere stories live. Discover now