PERTEMUAN

50 0 0
                                        

Hari ini aku memakai gaun tanpa lengan dengan rok selutut berwarna hijau tosca, dengan memakai sepatu hak rendah hitam dan tas tangan sewarna. 20 menit berlalu, aku hanya duduk mengagumi wajahku sendiri didepan cermin.

"Apa aku harus melakukan ini?, menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal." gumamku dalam hati, kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarku.

"iya..." kataku sambil membuka pintu.

"Hai sayang apa kau sudah siap?" tanya mama lembut.

"Iya sudah." jawabku sambil tersenyum.

"Baiklah ayo kita berangkat, papa sudah menunggu di bawah." ujar mama sambil membalas senyumku.

Kami berjalan menuruni tangga, menuju mobil yang ada didepan rumah. Disana papa telah menunggu aku juga mama, setelah itu kami mengendarai mobil menuju ke sebuah perumahan elit milik para konglomerat. Kami berhenti tepat disebuah rumah mewah tingkat 3, dengan taman yang begitu luas didepannya. Kami semua turun dari mobil dan bertemu dengan tuan Liam dan istrinya.

"Apa ini putri anda itu tuan Yumu?, dia sangat cantik mirip sekali dengan ibunya." puji tuan Liam dan aku hanya bisa membalas dengan senyuman.

"Panggil Len kemari dia harus menyapa keluarga barunya." kata tuan Liam.

"Sayang keluarlah, kau harus menyapa calon istri, dan mertua mu." panggil istrinya.

Tak lama seseorang muncul dari dalam, dan tak lain dia adalah Christian Len lelaki yang dijodohkan denganku. Para orang tua membicarakan tentang tanggal pernikahan kami, orang tua Len ingin segera menikahkan kami karena mereka ingin cepat-cepat menggendong cucu. Dan akhirnya pernikahan akan berlangsung 2 bulan lagi, tepatnya tanggal 5/7/20xx.

"Len agar kalian cepat mengenal, bagaimana kalau kau ajak dia mengobrol dilantai atas?" Suruh ayah Len.

"Baiklah pa, em.....Yuki lewat sini." ajak Len.

Aku mengikutinya ke lantai atas, dimana lantai itu sangat luas dan di lihat dari dekorasinya ini ruang anak kecil.

"Apa ini ruangan adikmu?" tanyaku.

"Adik?, aku anak tunggal dan ini ruanganku. seluruh lantai atas." jawabnya.

"Em... ruangan ini milikmu?, kau bercanda ruangan ini seperti milik anak kecil?" ujarku tidak percaya.

"Tidak aku serius, ini ruanganku. Memang apa salahnya kalau aku mendekornya dengan tema anime?" balasnya

"Benar yang dikatakan teman-temannya, dia memang moe. Bagaimana aku bisa menjalani sisa hidup dengan orang sepertinya?" batinku sambil memandangnya dengan pandangan datar.

"Duduklah aku ambilkan minum dan cemilan." katanya.

"Hebat apa aku akan berani memberitahukan ini pada teman-temanku?" batinku dengan muka sedikit cemas.

Dia kembali membawa nampan berisi minuman dan cemilan, dia duduk juga disofa tempatku duduk. Tak ada yang memulai pembicaraan, kami hanya terdiam dan tak tau harus membicarakan apa?. Setelah cukup lama dia akhirnya angkat bicara,

"Kenapa kau mau menerima perjodohan ini?" Tanya dia.

"Jika bisa aku akan menolak, sayangnya itu mustahil." jawabku.

"........" dia hanya terdiam.

Pada akhirnya tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya suara pembawa berita yang sedang melaksanakan tugasnya. Tak lama terdengar suara orang tua Len yang sedang memanggil anaknya, lalu...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 12, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Putri Es Dan Pangeran MoeStories to obsess over. Discover now