Sudah sekitar setengah jam gadis cantik ini duduk di hadapan sebuah piano yang yang sudah sangat lama tidak pernah tersentuh lagi. Tatapan gadis ini terlihat kosong! Pikirannya saat ini sedang memaksanya untuk mengingat kenangan masa lalunya. Ia kini beralih menatap tuts-tuts piano itu. Tangannya mulai terangkat sedikit demi sedikit dan sekarang hampir menyentuh tuts-tuts itu. Tapi…. dengan cepat kembali ia turunkan tangannya, mengurungkan niatnya untuk kembali bermain piano setelah 2 bulan terakhir ini dia tidak pernah lagi bermain piano. Air matanya menetes perlahan, ia menangis! Dan sebelum air matanya semakin deras menetes, ia memutuskan untuk pergi saja dari ruangan itu.
*******
“ Cindai!! “ seorang ibu paruh baya sedang mengguncang-guncangkan tubuh sang anak yang masih enggan untuk bangun dari tidurnya. Padahal, matahari sudah mulai meninggi.
“ Hemm “ sang anak hanya berdehem saja sambil matanya terus tertutup.
“ Cindai bangun .. Ini sudah jam setengah 7 “
Seketika gadis ini langsung terlonjak kaget, sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menatap sang mama . “ Kak Iel mana ma? Biasanya dia yang bangunin Cindai. Atau dia udah berangkat kuliah? ”
Sang mama diam sambil menatap gadis ini penuh kasih, ia mengelus puncak kepala anaknya. “ Kamu lupa Ndai? “ tanyanya pelan.
Gadis itu termenung sejenak, ia mulai sadar dan mengingatnya.
“ Cindai mandi dulu, Ma “ ujarnya singkat lalu turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Sang mama hanya menatap sedih .
Gloria Cindai Lagio, nama gadis cantik ini. Berkulit hitam manis, pipi chubby, mempunyai rambut panjang yang lurus serta poni yang tertata rapi di keningnya. Seorang gadis kelas 2 SMA yang periang, selalu tersenyum, dan sangat suka bermain piano, DULU! Ya, dulu.. sebelum sesuatu itu terjadi. 2 bulan terakhir ini Cindai berubah drastis. Tidak lagi menjadi gadis yang periang, sangat jarang tersenyum, dan sangat membenci piano.
SMA Bakti Bangsa
Cindai bisa bernafas lega sekarang karena beruntung gerbang sekolah belum ditutup oleh pak satpam. Ia turun dari mobilnya, berpamitan dengan supirnya lalu mulai memasuki gerbang.
Berjalan di koridor sekolah memang sudah hal yang biasa dilakukannya bahkan siswa yang lain, namun akhir-akhir ini terasa beda, biasanya ia selalu tersenyum dan menyapa anak-anak yang berpapasan dengannya dengan kalimat “ Pagi.. “ dengan senyuman yang selalu mengembang manis. Tapi kini tidak, wajah datar tanpa ekspresi lah yang terus ia tunjukkan.
Suasana kelas sudah sangat ramai, terasa gaduh sekali. Chelsea sahabat Cindai dengan hangat menyambutnya dengan sebuah senyuman. Cindai hanya tersenyum tipis membalas senyuman Chelsea. Bel pun berbunyi, pelajaran pertama akan segera dimulai. Anak-anak dikelas mulai duduk tenang dan rapi, sejurus dengan itu Bu Ira telah memasuki kelas dan memulai pelajaran. Sepanjang pelajaran Cindai cukup konsen, ia selalu menyimak Bu Ira yang sedang menjelaskan di depan kelas. Namun, memasuki pelajaran kedua, Cindai sudah merasa bosan dan sangat tidak konsen, fikirannya melayang kemana-mana sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kelas dengan alasan ingin pergi ke toilet.
Ia terus berjalan dikoridor yang sepi tanpa tau harus kemana, karena tujuannya memang bukan untuk pergi ke toilet. Saat hendak melewati ruang musik, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada suara piano yang mengganggu telinganya, matanya terpejam, ia sangat tidak menikmati permainan piano itu. Pikirannya mulai berkecamuk, dadanya terasa sesak.Kedua tangannya ia kepalkan. Entah apa yang ada didalam pikiran gadis ini, tiba-tiba ia berjalan mendekati pintu ruang musik dan membukanya.
“ Stooppp!! “ Cindai berteriak sangat nyaring sehingga membuat seorang cowok yang memainkan piano itu terkejut dan menghentikan permainannya. Cowok itu berdiri dari duduknya, di baju sebelah kanan seragamnya tertulis nama ‘ Bagas R Dwi Saputra ‘ , seorang cowok tampan, berpostur tubuh tinggi, putih, dan rambut jambulnya yang membuat penampilannya tambah terlihat cool, ia juga duduk dibangku kelas 2 namun berbeda kelas dengan Cindai. Seorang cowok yang mempunyai satu kesamaan dengan Cindai, yaitu sangat hobby bermain piano . Dan seorang cowok yang dulu juga pernah menjadi bagian hidup Cindai. Ya dulu, setelah 2 bulan lalu Cindai memilih untuk mengakhiri hubungan dengannya.
Bagas berjalan mendekati Cindai. Cindai diam dengan nafasnya yang tak beraturan. “ Kenapa? “ tanya Bagas dengan tatapan hangat.
Cindai masih diam dan hanya menatap datar cowok yang berdiri didepannya itu.
“ Lo marah? Lo gasuka kalo gue main piano? Iya?! “ tanya Bagas.
Cindai tetap diam, matanya mulai berkaca-kaca, ia hanya menggeleng .
“ Mana Cindai yang dulu? Manaa??? “
Cindai sedikit tersentak, dadanya semakin terasa sesak. Ia diam sejenak lalu mendekatkan wajahnya ditelinga Bagas. “ Cindai yang dulu udah MATI! “
Gadis itu segera berbalik dan langsung berlari keluar ruangan, pergi meninggalkan Bagas yang hanya diam tak bergeming.
“ Apapun yang terjadi , gue tetap sayang lo “
******
Saat istirahat tiba, Chelsea segera bergegas keluar kelas. Mencari Cindai sahabatnya yang dari tadi belum juga balik ke kelas bahkan sampai istirahat tiba. Terlihat dari raut wajahnya, ia sangat cemas.
“ Heii lo liat Cindai gak? “
“ Gak liat Chel “
“ Eh.. eh liat Cindai “
“ Gak.. “
Chelsea terus berjalan dikoridor sekolah sambil terus bertanya ke anak-anak yang berpapasan dengannya. Matanya juga terus menyapu setiap sisi sekolah dan langkahnya terhenti ketika ia menangkap sosok Cindai yang sedang duduk di taman di sebrang lapangan. Ia kembali berjalan dengan langkah yang dipercepat dan menghampiri Cindai.
“ Ndai! Ternyata lo disini, gue daritadi nyariin lo . Kenapa ga balik-balik sih. Katanya tadi Cuma mau ketoilet, kok lama bener? “ tanya Chelsea panjang lebar.
“ Gue lagi gak mood “ singkat Cindai, tatapannya lurus kedepan.
“ Kenapa? “
“ Bagas “ jawab Cindai malas.
“ Bagas? Bagas kenapa Ndai? “
Cindai diam, tidak merespon Chelsea. Chelsea hanya menghembuskan nafas panjang.
“ Ndai.. cerita sama gue. Bagas ngapain lo? “ tanya Chelsea dengan sabar, berharap kali ini pertanyaannya akan dijawab.
“ Dia…dia main piano diruang musik dan gue gasuka. Karena dia udah ngingetin gue sa.. “
“ Ndai.. lo gabisa kayak gini terus. “ potong Chelsea .
“ Lo gangerti Chel “
“ Gue ngerti Ndai. Gue ini sahabat lo, gue bisa ngerasain apa yang lo rasain. “ Chelsea merangkul Cindai dan mengusap-usap bahu Cindai perlahan.
‘ Dan gue mau lo balik kayak dulu lagi. ‘
********
Malam harinya Cindai duduk di balkon kamarnya, ia memandang langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip dengan indah. Ia menatap satu bintang yang palin terang.
“ Ka..k i..el “ ucapnya terbata-bata.
“ Gue kangen lo kak “
“ Gue kesepian disini kak “ Air matanya tak dapat lagi ia bendung. Ia teringat akan kenangannya bersama sang kakak dahulu. Gabriel Stevent Damanik, kakak kandung dari Cindai yang sudah meninggal 2 bulan yang lalu. Semua itu terjadi karena kecelakaan motor yang ia alami ketika dalam perjalanan pulang dari tempat kuliah. Cindai sangat terpukul atas kepergian kakaknya itu. Dan piano? Cindai bisa bermain piano berkat Gabriel, waktu Cindai SD Gabriel sudah mengajarkan Cindai bermain Piano. Gabriel sendiri bisa bermain piano akibat ia mengikuti les piano disekolahnya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama , bermain piano bersama, dan masih banyak lagi. Gabriel sangat menyayangi Cindai, begitupun dengan Cindai yang sangat amat menyayangi Gabriel. Bagi Cindai Gabriel adalah sosok kakak yang sangat hebat . Ia selalu menjaga dan melindungi Cindai dengan penuh kasih sayang, sebab hanya ia sosok laki-laki yang ada dikeluarganya karena sang Ayah sudah lama pergi meninggalkan mereka. Hilangnya sosok ayah tidak lantas membuat Cindai sedih karena Gabriel mampu mengganti sosok tersebut. Namun semua itu kini tidak berlaku lagi bagi Cindai. Beruntung ibu mereka tetap tegar dan masih sanggup menghidupi mereka sampai saat ini.
Cindai tidak ingin lagi bermain piano karena piano sangat mengingatkan ia dengan sang kakak. Dia selalu rindu akan kenangan saat ia dan gabriel bermain piano bersama sambil bernyanyi-nyanyi riang. Dan sekarang, Cindai seperti kehilangan semangat hidupnya .
******
Keesokan harinya di SMA Bakti Bangsa. Saat istirahat tiba Cindai keluar dari kelasnya, langkahnya terlihat sangat tergesa-gesa. Ia takut jika Chelsea akan menyusulnya, oleh sebab itu ia berjalan sangat cepat. Saat ini ia ingin menyendiri, tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Cindai berjalan melewati Bagas yang sedang berjalan dengan arah yang berlawanan. Mereka berduapun berpapasan, mata mereka saling beradu, dan kemudian berlalu. Bagas menoleh ke belakang, terus memperhatikan Cindai. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi kekantin dan berbalik arah mengikuti Cindai.
Bagas berjalan perlahan, namun Cindai merasa ada yang aneh. Ia menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa yang mengikutinya. Bagas sangat gesit, sebelum Cindai menoleh ke arahnya ia langsung bersembunyi dibalik tembok.
Cindai kembali berjalan lurus kedepan, Bagas keluar dari persembunyiannya dan kembali mengikuti Cindai. Tanpa sepengetahuan Bagas tiba-tiba Cindai menoleh lagi dan alhasil Bagas belum sempat bersembunyi. Bagas jadi salah tingkah.
“ Lo ngikutin gue? “ selidik Cindai.
“ Eng..engga, gue ga ngikutin lo. Geer banget. “ jawab Bagas gugup tapi sok cuek lalu menghadap ke arah lain.
Cindai berbalik kembali, dan melanjutkan langkahnya.
“ Ehh tunggu-tunggu! “ Bagas berlari mengejar Cindai. “ Gue emang ngikutin lo “ lanjutnya.
Seketika langkah Cindai terhenti dan Bagas sudah berada didepannya. “ Gue mau sendiri! “ ujar Cindai ketus.
“ Kenapa sih Ndai.. Gue cuma mau nemenin lo, mau ngehibur lo, gue mau pastiin kalau lo baik-baik aja. “
“ Lo gadenger gue tadi bilang apa? Gue cuma mau sendiri Gas! “
Bagas diam menatap dalam mata Cindai, ia memegang kedua bahu Cindai lembut. “ Lo denger gue ya. Gue ini masih sayang sama lo Ndai. Perasaan gue gapernah berubah sama lo. “
“ Gass pliss. “ Cindai menurunkan tangan Bagas dari bahunya. “ Gue ga mau dengar apa-apa lagi dari mulut lo. Biarin gue sendiri, jangan ngikutin gue. “ Cindai melanjutkan langkahnya pergi melewati Bagas .
Kali ini Bagas membiarkan Cindai pergi. “ Arrgghh! “ ia menendang dinding dengan kasar. Pikirannya semakin kacau. Ia bersender di dinding tersebut sambil mengacak rambutnya.
“ Gue harus apa Ndai. Gue harus apa supaya bisa ngerubah lo seperti dulu lagi. “
******
Saat pulang Bagas yang ingin mengambil motornya, tiba-tiba terhenti langkahnya. Ia melihat Cindai sedang duduk dengan Chelsea di dekat gerbang sekolah, ingin rasanya ia menghampiri mereka. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, ia hanya jalan lurus kedepan tanpa menoleh ke arah Cindai dan Chelsea. Namun Chelsea malah menegur Bagas.
“ Ehh Gass .. “ ujar Chelsea. Dengan berat hati Bagas pun berhenti dan menoleh.
“ Iya Chel.. “ jawab Bagas, kemudian matanya sedikit melirik ke arah Cindai yang sedang menunduk memainkan ponsel.
“ Mau pulang ya ? Sini aja dulu sama kita. Ntar aja pulangnya. “ ajak Chelsea.
‘ Degg ‘ jantung Bagas berdetak cepat. “ Ta..tapi . Gu..e “
“ Udah ga usah tapi-tapi. Ayoo sini “ Chelsea langsung berdiri dan menarik Bagas, lalu menyuruhnya duduk disamping Cindai. Bagas menurut saja. Sedangkan Cindai terkejut, dan langsung melotot ke arah Chelsea. Chelsea hanya tersenyum simpul. Keheningan menyelimuti mereka.
Tapi beberapa detik kemudian jemputan Cindai datang.
“ Chel, jemputan gue udah datang. Duluan ya “ Cindai langsung berdiri dan bergegas pergi.
“ Yahhh “ ujar Chelsea kecewa. “ Padahal gue berharapnya gue yang dijemput duluan. Biar lo bisa berduaan sama dia Gas “
Bagas tersenyum pahit. “ Udah gapapa. Santai aja . “
Chelsea mengangguk. “ Ohh iya kebetulan juga, udah lama gue ga ngobrol-ngobrol sama lo semenjak.. hmm semenjak “ Chelsea menggantungkan kalimatnya, ia jadi tak enak hati.
“ Semenjak dia mutusin gue , ckck .. Lo tau kan Chel. Gue masih sayang banget sama sahabat lo itu . Tapi gue bisa apa supaya dia bisa sama gue lagi. Ngedeketin dia lagi sekarang susah banget buat gue “ .
“ Iya gue tau kok Gas. Lo yang sabar yaa.. Dia memang udah berubah sekarang. Lebih suka menyendiri, gue aja sering banget di cuekin. “ chelsea menghela nafas kecewa.
Chelsea kemudian memandang Bagas yang ada disampingnya, dari sorot matanya, Chelsea bisa merasakan kalau Bagas sangat merasa sedih dan kecewa. “ Lo tenang aja ya Gas, Gue yakin dia masih sayang sama lo kok. Dia Cuma butuh waktu buat nerima kenyataan itu. “
“ Udah 2 bulan Chel, 2 bulan.. “
Chelsea menepuk-nepuk pundak Bagas. “ Makanya lo harus ngelakuin sesuatu Gas. Supaya dia bisa balik sama lo dan berubah seperti dulu lagi. “
“ Tapi dia selalu aja ngehindar dari gue. Kenapa bukan lo aja ? Lo kan sahabat dekatnya.“
“ Gue udah coba Gas. Tapi tetap aja gabisa, mamanya juga udah sering nasehatin dia. Tapi tetep aja gabisa. “ jelas chelsea. “ Tapi gue yakin satu hal. “
“ Apa? “
“ Gue yakin cuma lo yang bisa ngerubah dia. Gue tau sekarang lo susah ngedeketin dia lagi. Tapi gue mohon lo jangan nyerah Gas. “
Bagas hanya diam termenung.
“ Gass.. “
“ ….. “
“ Gass?? “
“ Iya..iya oke.. gue akan usahain . “ jawab Bagas menatap Chelsea.
Chelsea tersenyum puas mendengar jawaban Bagas “ Thanks ya Gas. Lo pasti bisa ngerubah dia. “
Bagas hanya mengangguk tersenyum.
‘ Semoga ‘
******
Hari-hari berikutnya Bagas mulai berusaha untuk bisa mendekati Cindai lagi, setiap ia bertemu dengan gadis itu, ia selalu menyapanya dengan ramah meskipun sapaannya sama sekali tidak pernah dibalas oleh Cindai.
Sampai suatu waktu, ketika Cindai menangis seorang diri di taman, Bagas melihatnya dari jauh dan kemudian datang menghampiri.
“ Ehemm “ Bagas berdehem, Cindai terkejut dan langsung mengusap air matanya.
Bagas duduk di samping Cindai dengan jarak yang agak jauh. “ Nangis aja kalau nangis bisa nenangin hati dan fikiran lo. “ ujar Bagas, pandangannya lurus ke depan. Sedangkan Cindai menoleh ke arahnya dengan tatapan datar.
“Kita udah ga ada urusan apa-apa lagi kan Gas. Kenapa lo selalu ganggu gue?”
Bagas tersenyum miring. “ Ganggu? Gue gapernah ngerasa ganggu lo. Gue cuma mau berusaha selalu ada buat lo apapun keadaannya. Dan lo masih ada urusan sama gue. Urusan hati.. “ Bagas menoleh ke arah Cindai dan menatapnya lekat. “ Lo gabisa seenaknya mutusin gue gitu aja Ndai. Gue tau lo masih sayang sama gue. “
Cindai mengarahkan pandangan ke arah lain. “ Tau apa lo sama perasaan gue. Gue gabutuh siapa-siapa lagi . “
“ Lo gabisa hidup sendiri Ndai . Lo butuh teman, lo butuh sahabat, lo butuh…. “
“ Gue Cuma butuh kak IEL balik lagi ke dunia ini Gas. Gue kangen dia. “ potong Cindai cepat. Bagas sedikit tersentak.
Cindai kembali meneteskan air matanya dan menangis terisak, Bagas memberanikan diri untuk menggeser duduknya mendekati Cindai. Tangannya mengusap lembut pundak Cindai. “ Gue ini sayang sama lo sama seperti lo sayang dengan kak iel. Lo tau kan? Dulu sebelum kak iel pergi dan kita masih sama-sama, gue juga selalu ngejagain dan ngelindungin lo sama seperti yang kak iel lakuin ke elo. Masih ada gue Ndai, masih ada gue disini. “
Cindai hanya terdiam, ia masih menangis terisak. Ia tau jika Bagas memang benar-benar tulus dan sayang sama dia. Dia bisa merasakan itu, tapi entah kenapa, sekarang hatinya belum bisa terima jika iel sudah benar-benar pergi dari hidupnya. Seorang kakak yang sangat ia sayang dan banggakan kini telah pergi jauh.
******
Keesokan harinya di saat waktu pulang sekolah. Bagas kembali beraksi. Ia mendekati Cindai, kali ini ia berniat mengajak Cindai ke suatu tempat.
“ Ndai ikut gue yuk “ tawar Bagas yang sedang berjalan beriringan dengan Cindai.
“ Kemana? “
“ Makanya lo ikut gue yah. Plisss “
Cindai hanya menggeleng dan kemudian mempercepat langkahnya. Namun tangan Bagas dengan sigap menarik pergelangan Cindai . “ Apaan sih. Lepasin “ pinta Cindai.
“ Gak! Pokoknya lo harus ikut gue “ Bagas menarik Cindai dengan paksa menuju parkiran motornya. Cindai berusaha untuk melepas tangannya dari genggaman bagas namun genggaman Bagas sangat kuat.
“ Oke..oke gue ikut lo. Tapi pliss lepasin tangan gue. Sakit tau! “
“ Males! Ntar lo kabur! “
“ Engga! gue ga kabur. Janji deh , lepasin pliss. “
Bagaspun akhirnya melepaskan genggamannya. Cindai meringis, melihat pergelangan tangannya yang sudah memerah. Bagas tersenyum tipis. “ Sorry, kalau ga gitu. Lo gabakal mau ikut gue “ ujarnya cuek.
Cindai hanya ngedumel kesal.
Bagas kemudian naik kemotornya dan memakai helm. Cindai masih diam ditempat. “ Ehh! Buruan naik.. ngapain masih diam disitu “ tegur Bagas.
“ Ish! Iyaiya bawel lo! “ ujar Cindai manyun lalu naik ke motor Bagas.
******
Kini mereka berdua sudah berada di depan sebuah gedung tinggi.
“ Lo ngapain ngajak gue ke sini? “ tanya Cindai bingung.
“ Gue mau ngajak lo keatas sana “ Bagas menunjuk ke arah puncak gedung .
Cindai terbelalak, dia masih cengo. “ Tapi Gas, lo kan … “
“ Ssttt udah gausah bawel! “ Potong Bagas. Tanpa basa-basi lagi Bagas langsung menarik Cindai untuk masuk ke dalam .
Langkah mereka terhenti di depan sebuah tangga. “ Sekarang kita balapan! “ ujar Bagas.
“ Haaa? Gue gak mau! “
“ Harus mau! Ntar kalo lo menang, gue traktir lo es krim sepuasnya. “ ujar bagas tersenyum. Cindai menoleh ke arah Bagas. “ Kalo lo yang menang? “
“ Yaa lo yang harus nraktir gue es krim. Gimana? “
“ Idih gue gamau.! “
“ Ya makanya.. Lo harus kejar gue sekarang! “ Bagas langsung naik tangga duluan meninggalkan Cindai. Cindai melotot. “ Bagas! tungguin gue!! “ Cindai langsung naik mengejar Bagas. Bagas hanya cengengesan sambil sesekali menengok ke belakang.
“ Bagas, tungguin! “ Pinta Cindai lagi.
“ Kejar dong. “ ujar Bagas tertawa .
“ Iya makanya lo pelan-pelan!! “
“ Bawelll ahh ! “
Setelah melewati anak tangga yang begitu banyak, sebentar lagi mereka akan sampai di puncak gedung. Bagas sengaja melemahkan langkahnya dan kemudian berhenti .
“ Kenapa lo? Capek ya? Makanya jangan ninggalin. Duluan ya “ ujar Cindai dan langsung meninggalkan Bagas. Bagas hanya tersenyum “ Gue sengaja ngelakuin ini, biar lo menang, dan biar lo senang “
Akhirnya sampailah Cindai di puncak gedung. Kemudian di susul oleh Bagas.
“ Yeyyy gue menang hahaha “ Cindai tertawa lepas sambil melompat girang. Bagas masih dengan senyumannya. Akhirnya dia bisa melihat Cindai yang dulu .
Bagas menatap Cindai lekat. Cindai hanya tersenyum. “ Gue senang bisa ngeliat lo senyum lagi. “ tutur Bagas.
Dibilang seperti itu, senyum dibibir Cindai sedikit demi sedikit memudar. Ia juga heran kenapa tadi ia bisa senyum dan tertawa lepas. Rasa sedih yang menyelimuti didirinya sama sekali tidak terasa saat ini, yang ada ia malah merasa senang.
Bagas mengangkat dagu Cindai lembut. “ Kenapa? “ tanyanya halus.
Cindai hanya menggeleng.
“ Jangan sedih lagi Ndai“ ujar Bagas membelai rambut lurus Cindai.
“ Gue mau liat senyum lo lagi. Masa bentar doang. Mana coba tunjukin? “ Pinta Bagas tersenyum .
Cindai diam, namun kemudian ia ikut tersenyum memandang Bagas dan kali ini senyumannya jauh lebih manis dari yang tadi.
Kini Cindai beralih menatap sekelilingnya. Kemudian berjalan menuju ke tengah. Ia takjub, tempatnya sangat indah. Sepi, tinggi, seluruh kota Jakarta bisa terlihat dari atas sini.
“ Keren ga tempatnya? “ tanya Bagas lalu mendekati Cindai.
“ Keren banget, anginnya sejuk. Kenapa dulu lo gapernah ngajakin gue kesini sih? “ ujar Cindai sedikit cemberut.
Bagas tertawa. “ Kan lo tau gue takut ketinggian. Tapi sekarang gua berani kan… ini demi lo. “
Seketika Cindai langsung terdiam. ‘ Bagas rela melawan rasa takutnya demi gue? ‘
“ Udah-udah.. Kata-kata gue tadi gausah di masukin hati. Sekarang mendingan lo teriak sekencang-kencangnya “
“ Teriak? “
“ Iya teriak Ndai, biar perasaan lo lega. Gue contohin ya? “
Bagas pun mengambil ancang-ancang, ia menarik nafas panjang lalu . “ Aaaaaaa “ ia berteriak sangat nyaring. Cindai tersenyum melihat ekspresi Bagas. “ Sekarang giliran lo. Ayo Ndai . “
Cindai mengangguk lalu kemudian mengambil nafas panjang dan mulai berteriak.
“ Aaaaaaa “
“ Gue kangen lo kak ieellllll “
“ Gueee kangennn looo “
Setelah selesai, Cindai tersenyum puas. Memang benar, perasaannya akhirnya terasa lebih lega.
“ Udah “ tanya Bagas .
“ Belum sih sebenernya, tapi ntar suara gue abis “ ujar Cindai tertawa.
“ Hahaaha “ Bagas mengacak rambut Cindai gemas. “ Ntar kapan-kapan kita kesini lagi deh. “ ujarnya.
“ Bener? “
“ Iyaa bener, kalau lo mau ke sini lagi. Tinggal bilang aja sama gue “
Cindai mengangguk tersenyum. “ Tapi bener lo udah gatakut lagi ? “
“ Lo tenang aja. Sekarang gue sadar rasa takut gue ga akan ada lagi kalo gue ada sama lo. Apalagi ngeliat lo seneng gue ajak kesini. “
“ Thanks ya Gas. “ ujar Cindai tersenyum.
Bagas ikut tersenyum, tangannya mengelus lembut pipi Cindai. “ Sama-sama .. Duduk yuk, gue mau bicara sama lo. “ Bagas berjalan kepinggir lalu duduk bersender, Cindai mengikuti dan duduk disamping Bagas.
“ Mau bicara apa? “ tanya Cindai.
“ Hmm gini, Lo sadar ga? Selama ini banyak orang-orang yang sayang sama lo berharap lo bisa berubah kayak dulu lagi “
Cindai terdiam, ia memalingkan kembali wajahnya ke depan.
“ Tapi selama ini gue sempat berfikir hidup ini ga adil Gas. Lo tau kan Ayah gue udah pergi dari gue kecil dan sekarang kakak kandung gue yang selalu ada buat gue juga pergi dari gue. Sekarang dirumah.. gue cuma punya mama Gas. Ga ada lagi Kak iel yang selalu bikin rumah gue berasa hidup, ga sepi kayak sekarang. Gue kesepian.. “
“ Gue ngerti perasaan lo Ndai. Tapi lo harus ikhlas, inilah hidup. Kita harus siap kalau orang-orang yang kita sayang pergi dipanggil Tuhan. Semua manusia pasti mati, tapi takdirlah yang akan menentukan waktu, waktu kapan manusia itu akan dipanggil. “ ujar Bagas penuh arti.
“ Lo tadi bilang lo kesepian.. Lo salah Ndai, lo gabakal kesepian kalau lo berubah seperti dulu lagi. Karena tanpa lo sadar masih banyak orang-orang yang peduli dan sayang sama lo… termasuk gue. “
Cindai mendengarkan dalam diam. Mulutnya seakan-akan terkunci. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Bagas tersenyum dan menatap Cindai hangat, ia menggenggam tangan Cindai. “ Keren ga kata-kata gue? sampe-sampe lo gabisa ngomong gitu. “ canda Bagas.
“ Hahah apaan sih.. masih sempet-sempetnya bercanda “ ujar Cindai memukul pelan lengan Bagas.
“ Hahaha, oke oke. Gue lanjutin ya” . Cindai hanya mengangguk.
“ Hidup itu terus berjalan Ndai , masa depan masih panjang. Lo harus lawan keterpurukan lo, lo harus terima semuanya. Gimana lo mau maju ke masa depan kalau lo terus tangisin masa lalu. “
Perlahan-lahan Cindai mulai tersadar, ia seperti mendapat pencerahan. kata-kata Bagas benar. Dia tidak bisa terus-terusan terpuruk didalam kesedihan. Bagas semakin mengeratkan genggamannya. “ Sekarang.. gue mau lo berubah. Berubah menjadi Cindai yang dulu, Cindai yang periang, Cindai yang ramah sama semua orang, Cindai yang selalu tersenyum. Karena orang-orang yang sayang sama lo sangat merindukan Cindai yang dulu“
Cindai hanya mengangguk kecil lalu menyenderkan kepalanya di pundak Bagas. Bagas hanya tersenyum, hatinya sangat senang karena sekarang sudah bisa mencairkan hati Cindai. “ Dan lo sekarang gaboleh benci lagi sama piano. Walaupun piano itu ngingatin lo sama kak Iel tapi lo harus lawan ingatan itu. Karena tanpa lo sadar, sebenarnya dengan lo main piano lagi, lo malah bisa ngobatin kerinduan lo dengan kak iel. Gue udah ngerasain itu Ndai, 2 bulan terakhir ini saat lo udah jauh dari gue, gue sering banget main piano karena dengan main piano rasa kangen gue ke elo bisa hilang, karena gue bisa ngerasain saat-saat indah dulu waktu kita main piano bareng dan kenangan yang lain.“
Cindai diam, air matanya menetes perlahan. Ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Bagas, memeluk Bagas erat. “ Maafin gue Gas.. Maafin gue karena sempat mutusin lo. Waktu itu perasaan gue lagi kacau banget, gue mau sendiri, gue ga tau harus apa. Asal lo tau, sebenernya gue juga kangen banget sama lo Gas. Perasaan gue juga gapernah berubah kok. Gue sayang sama lo dan gue gamau jauh lagi dari lo “
Bagas tersenyum senang mendengar penuturan Cindai, tangan kanannya merangkul Cindai dengan lembut. Tangan kirinya mengusap air mata Cindai perlahan. “ Lo ga salah Ndai. Gue ngerti kok perasaan lo gimana. Yang penting mulai sekarang Cindai yang dulu, sekarang udah balik lagi. “
Cindai hanya diam mengangguk.
“ Jadi.. kita balikan nih? “ tanya Bagas .
“ Iyalah Bagas.. Lagian gue kan waktu itu ga serius mutusin lo “
“ Ohh gitu. Hmm gue gamau ah “ ujar Bagas jutek.
“ Ihh kok gitu sih “ ujar Cindai manyun, kemudian melepas pelukannya .
“ Hehehee.. becanda sayang “ Bagas mengacak poni Cindai gemas.
Tampak dari kejauhan, sesosok bayangan laki-laki berpakaian serba putih tersenyum ke arah Bagas dan Cindai. Cindai melihatnya dan ikut tersenyum.. “ Kak Iel “
Beberapa detik kemudian sosok itu mulai menghilang.
“ Kenapa senyam-senyum gitu?, “ tanya Bagas .
“ Hehe gapapa, gue seneng aja “ jawab Cindai masih dengan senyumannya.
“ Ciee seneng, Ohya gimana nih, jadi gak aku traktirin es krim “
“ Ehh iya iya, Jadi.. jadi.. Yukk “ Cindai langsung berdiri dengan semangat.
Bagas tersenyum dan bangkit dari duduknya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Cindai, lalu berbisik “ Tapi turunnya balapan lagi yah.. “
Cindai melotot. “ Bagasssss!!! “
SELESAI
