Pagi dihari jumat, maret. Angin dikota tempat tinggalku pagi ini sepertinya memang ingin menemani hembus nafas yg memburu. karna cinta.? Konyol. Tapi memang itu alasannya.
"Baiklah! Katakan, maksudku akhiri hubungan ini seperti yg kamu katakan di telfon kmarin" aku menatapnya. Air mata yg susah paya kutahan berusaha kualihkan dngan hembusan nafas gusarku."Kita putus saja" cara bicaranya seperti mengakhiri permainan, memancing emosi.
"Ya sudah. Kita putus. Kali ini ayo kita buat ini jadi keputusan akhir! Rasanya bosan jika keadaannya begini terus. Ahh! Aku juga lelah menghadapi kamu yang labil seperti ini"
Radit menatapku seolah meremehkan pertahananku. Enak saja. Apa dia pikir 6 bulan makan asam, pahit, manis dan segala rasa nano-nano selama bersamanya tida bisa membuatku kuat menghadapinya lagi??. Aku tidak akan runtuh kali ini.
Hubungan kami memang seperti air laut. Kerjanya pasang-surut, diterjang badai sudah biasa bagi hubungan ini. Ada saja yg membuat hubungan ini diguncang prahara. Mulai dari gadis-gadis centil dari kelas sebelah sampai ego kami sama besarnya
Setelah berbicara serius dengan pangeran sok tenang itu kulangkahkan kaki kembali kedalam kelas. Disana dua sahabatku sudah menunggu drama yg akan kubawa.
"Bagaimana??" Ina bertanya dngan antusias. Layaknya ini benar-benar drama korea favoritnya. Dasar gadis ini
"Sudah selesai. Ayo kekantin" ada sedikit sesak saat mengatakan kata 'selesai' tp mau bagaimana lagi suatu hubungan tidak hanya mengandalkan salah satunya saja untuk bertahan
"Santai sekali.. kali ini benar-benar ikhlas sepertinya" sindiran putri tidak kuperdulikan.
Sebenarnya bukannya tidak perduli hanya sedikit ragu dngan air mata yg sedari tadi kutahan .takut akan mengalir deras. dan aku juga tidak ingin dibilang terlalu teropsesi dengannya. Sudah berkali-kali putus massa raksiku sama semua. Menangis? Tidak untuk kali ini.
○○○○○
Gosip putusnya aku dan radit ternyata beredar cepat hingga sampai pada teman-teman sekelasku dan radit. Awalnya kutanggapi biasa saja tp saat mendengar alasan radit memutuskanku dari teman nya, kepalaku tiba-tiba seperti gunung berapi yg siap untuk meledak.
"Kata siapa?? Lo lagi manas-manasin gue ya!!" Kutatap zaki dngan serius
"Idih. Kayak gak punya kerja aja gue manasin lo," geram. Kupukul saja kepalanya dngan buku yg ada ditanganku. Memangnya kurang apa wajah serius yg kuperlihatkan ini.
"Sakit. Gandisa!!"
"Mangkanya serius sedikit!!" Ucapku
"Ini juga gue serius!! Denger ya. Kemarin pas dia nelfon Lo buat bilang putus dia lagi sama gue, temen-temen yg lain plus si via-via itu" rasanya ingin memotong-motong seseorang saja mendngar cerita zaki
"Jadi dia selingkuh dan mutusin gue buat cewek itu??" Pertanyaanku dijawab dngan anggukan kepala oleh zaki
"Yap.. tuh cwek udah ngegantungin radit mulu. Ditanya kenapa dia lebih milih via katanya si via lebih gampang buat diatur. Benar-benar alasan yg gak masuk diakal?" jawab zaki begitu saja tanpa terlihat berusaha menahan kata-katanya
Belum juga rasa kagetku mereda. Pemandangan yg kudapat sudah menyulutku lagi. Dipojok meja kantin dngan jelas radit dan sigadisnya itu tengah berpegangan tangan dngan santainya meskipun aku yakin dua orang itu sudah menyadari tatapanku
Rasanya mau marah saja. Tp bisa apa kalau suda begini bukan hakku lagi. Sudalah! Barangkali Memang bukan jodoh.Siapa tau dngan kejadian seperti ini aku jadi punya jalan untuk mendapat orang yg lbih baik. Optimisme.
"Astaga... astaga!! Berani sekali anak itu" tunjuk ina. Anak ini tidak bisa melihat suasana
"Ina!!! Jangan ditunjuk!" Ucap putri lalu memberikan tatapan tajamnya pada ina, mreka sahabat sekaligus tikus dan kucing didunia nyata untukku
