I

4 0 0
                                        

Mario Haris Leonard, namanya. Seseorang yang mampu membuat hatiku berpacu ketika aku mendengar suaranya. Seseorang yang mampu membuat bibirku terangkat menunjukan seulas senyuman penuh kebahagian hanya karna aku melihat wajahnya.

Mario Haris Leonard. Seorang pria berpawakan tegap nan tinggi ini, telah berhasil memikat hatiku jauh-jauh hari. Pria dengan sebuah senyuman indah yang mampu memikat berjuta-juta kaum hawa ini, telah membuatku merasakan arti dari cinta pertama.

Tunggu, jika aku sudah mengatakan 'cinta' itu artinya aku memang benar-benar mencintainya. Tidak, menurutku, cintaku bukanlah sejenis percintaan yang penuh dengan kemenyean pada remaja umumnya.

Aku, Aline Cantika Largard, seorang perempuan yang mempunyai sejuta kecerobohan serta kebodohan, menyukai seseorang yang jelas-jelas tidak akan bisa ku gapai.

Ku ulang sekali lagi, aku, Aline Cantika Largard, seorang perempuan yang jauh dari kata perempuan anggun, menyukai seseorang yang jelas-jelas tidak bisa ku capai.

Orang itu? Mario Haris Leornard tentunya.

Mario Haris Leornad, dia bukanlah tipe-tipe cowok badboy yang biasanya digandrungi banyak perempuan.
Yang ku ketahui saat ini, Mario adalah seorang pria yang dikenal dengan julukan pria es oleh seantero penghuni SMA DANULAND--- sekolah ku dan dia tentunya---
Kuakui, sifatnya yang cuek dan terkesan dingin memang pantas membuat dirinya menyandang sebutan pria es. Pria dengan hati dingin tak tersentuh.

"Lin, jangan dilihatin terus Rionya."

Sialan, gara-gara Alfero Evans Largard--- saudara kembarku yang tentunya akan kukenalkan kepada kalian--- lamunanku terhadap Rio membuyar! Padahal melamunkan sesosok Rio ditengah keramaian kantin adalah hal terpositif yang bisa ku lakukan.

Sebenarnya aku dengar suara Fero yang terus menerus memanggil namaku, tapi aku lebih memilih diam sembari memandangi wajah indah Rio--dari jarak yang cukup jauh-- dari pada harus berbincang dengan Fero.

"Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan," gumamku pelan seraya memaparkan seulas senyuman ketika melihat Rio tertawa bersama teman-temannya.

Ku lihat, mata elang Rio menyipit---karena kebanyakan tertawa. Tangannya yang lumayan berotot memegangi perutnya yang mungkin terasa geli karena banyolan yang dilontarkan oleh teman-temannya. Sesekali dia terbatuk karena terlalu asyik mentertawakan hal yang sama sekali tidak ku ketahui, bersama teman-temannya. Tapi tak apalah, menurutku, melihat Rio tertawa lepas seperti itu adalah suatu rezeki paling indah yang telah diberikan oleh Tuhan tanpa bisa kutolak.

"Lo dengerin gue gak sih?"

Fero bertanya seraya mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku menghela nafas panjang, kemudian menatap sepasang mata hazelnya dengan tatapan polos.

"Enggak," jawabku sambil menyengir, menampakkan deretan gigiku lebar-lebar, berharap Fero akan memaafkanku karena telah mengacuhkannya.

Fero mendecak kesal beberapa kali, kemudian lebih memilih melanjutkan aktivitas makannya yang tadi sempat tertinggal karena ku.

Selagi Fero makan, kembali ku arahkan pandangan ku menuju meja Rio beserta kawanannya, tetapi nihil. Dia--dan kawanannya sudah pergi begitu saja bagaikan hilang ditelan bumi.
Aku memberenggut dalam hati, karena telah melewatkan kepergian Rio karena Fero.

Karena Rio sudah pergi, ku gantikan fokusku menuju Fero yang tengah melahap sotonya dengan penuh nafsu. Aku terkekeh melihat sebutir nasi menempel di pipinya. Karena suara tawaku, Fero sekarang menatapku seraya berkata, "Ngapain lo liat-liat gue? Ganteng?"

"Najis," cibirku kepada Fero sembari mengambil sebutir nasi itu menggunakan tissue yang selalu ku bawa. Awalnya, Fero kaget ketika melihat tangan mungilku dengan bebas meluncur di pipinya, tapi nampaknya dia memahami bahwa ada sebutir nasi yang mengurangi kadar ketampanannya sebanyak 0,01%

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 31, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MarioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang