Prolog

242 21 7
                                        

Matahari tak berani menampakkan diri, goresan-goresan kapas putih tak menemani langit yang saat ini berwarna kelabu. Siang masih menggantung. Angin berhembus kencang meniup semua yang ada di tempat ini.

Daun keringnya berguguran rapuh, mengotori jalan kecil di antara nisan-nisan berdinding batu. Sebuah makam yang di hias batu nisan itu tampak masih baru, permukaan tanah yang masih basah di temani bemacam bunga warna-warni tersebar mengitari tempat itu.

Seorang lelaki bersimpuh di sisi makam. Tubuhnya yang kurus terbungkus jaket kulit berwarna hitam. Wajah tirus pucatnya memperlihatkan matanya yang sembab. Meskipun angin menderu, lelaki itu tetap bergeming. Ia masih belum menerima kenyataan bahwa Gadis Pujaan nya terbujur kaku di bawah sana.

'Dia memang ada, dengan jiwa dan raga yang kemana Aku mengunjungi ketika Aku ingin menemuinya lagi? Dia pergi meninggalkan Aku yang akan takut membuka mata di Pagi hari untuk menyadari, menyadari Dia tidak akan pernah ada lagi untuk Hidup Ku.'

Lelaki itu berbicara pada angin. Cairan bening masih berjuang turun keluar dari kelopak matanya. Membuktikan betapa berharganya Seseorang itu.

Beside YouWhere stories live. Discover now