[ o n e ]
Hari ini hari senin. Hari yang biasanya dibenci sebagian pelajar, kecuali aku. Ya, kalian tidak salah baca, aku tidak benci senin. Aku menyukai hari senin.
Bukan karena pelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Aku menyukai senin karena aku mempunyai alasan yang sama dengan remaja remaja kasmaran lainnya. Aku, suka senin karena hari ini aku dapat kembali melihatnya, melihat dia yang sering menampilkan senyum terbaiknya, dia yang sering mengerjaiku kapan saja dan dimana saja, dia, Keenan Avram Pramudya.
Kami telah berpacaran-ah aku tidak biasa menyebutkan kalimat itu dengan Keenan- selama hampir setahun. Lama bukan? Ya, itu bisa dibilang lumayan lama daripada teman-temanku yang hanya mampu mempertahankan hubungan mereka selama 2minggu atau mungkin yang paling lama hanya 3bulan.
Banyak temanku yang bingung mengapa aku dan Keenan masih bertahan sampai sekarang, sebagian dari mereka bahkan masih tak percaya bahwa aku dan Keenan sudah lama berpacaran-ah kata-kata ini lagi-, mereka bilang aku dan Keenan terlampau santai untuk suatu hubungan serius. Padahal aku dan Keenan sering sekali bertengkar-ok, pertengkaranku dan Keenan sebenarnya hanya pura-pura dan sebagainya,sih. Kita hanya membuat lelucon satu sama lain. Dan bagi kami itu semua yang membuat hubungan kami berwarna.
Tapi, ternyata fikiranku dan Keenan berbeda dengan teman-teman kami. Mereka terlalu menganggap leluconku dan Keenan adalah sebuah keseriusan. Bahkan kalau aku ceritakan nasihat nasihat Avy, temanku, kepada Keenan, dia akan tertawa keras.
Ya, teman terdekat sekaligus sahabat terbaikku adalah Avy. Cewek urakan ini sebenarnya mempunyai hati yang lembut, namun karena cover yang sudah ia ciptakan dari awal seperti 'cewek urakan dan pecicilan' maka jarang ada lawan jenis yang meliriknya. Kasihan juga, sih. Tapi, serius, dia memiliki hati yang lembut, dia berfikir dengan tenang, tapi kadang tidak, sih. Dan dia adalah satu dari beberapa orang yang sering sekali menceramahiku tentang hubunganku dan Keenan.
Contohnya sekarang, aku sedang berada di kelas bersama Avy, menunggu bel istirahat berbunyi, mumpung tidak ada guru yang masuk, kita melakukan rutinitas cewek-cewek, yaitu ngegosip-Astaga, kedengarannya seperti kita adalah penggosip profesional- namun, Avy malah merembet ke hubunganku dan Keenan. Avy sedang terus terusan mengoceh karena kelakuanku dan Keenan yang makin hari makin aneh, katanya.
"Ni, beneran deh! Kalian tuh gila apa gimana sih? Pacaran tapi nyie-nyiein satu sama lain. Ya Keenan cie cie-in lo sama Farez lah, ya lo cie cie-in Keenan sama Saza lah. Duuuhh kalian tuh! Terlalu keliatan kayak, gimana ya... Main main, tau gak?!" Ucap Avy panjang lebar.
Aku tertawa sebentar, "Vy, kan gue udah bilang, itu yang bikin hubungan gue sama Keenan tuh seru. Lagian kita juga santai santai aja kok. Hahaha." Balasku enteng sambil sesekali tertawa.
"Agnia! IH! Jangan terlalu bercanda canda gitu! Nanti kalo kelewatan gimana?" Avy mulai keliatan sewot.
"Enggak kok, serius deh. Kita berdua tuh tau, kalo satu sama lain itu bohong apa enggak." Jawabku yakin.
"Ngeyel aja terus." Avy menggumam namun suaranya masih bisa kudengar.
"Yaaah neng geulis marah deh," Aku sengaja mencolek colek dagu Avy, mencoba menggoda Avy agar tidak cemberut. Tapi, sepertinya gagal. "Avyyyy ih! Masa gitu doang bete sih? Ah gas--"
"Siapa yang lagi bete?"
"Idihhh anak kecil mulai sok sok bete lagi deh pasti."
"Hush! Nu! Jangan ngegodain Avy mulu!"
Omonganku terpotong oleh manusia manusia rempong ini. Ya, mereka teman-temanku. Selain Avy dan Keenan, mereka yang biasanya membuat mood-ku membaik. Mereka juga yang sering menceramahiku tentang hubunganku dan Keenan selain Avy. Ada Vadya, cewek alim, lembut, dan sangat feminim. Dan dua lainnya adalah perusak suasana, Farez dan Danu. Farez, cowok charming yang menjabat sebagai wakil ketua osis. Walaupun imagenya begitu indah di depan cewek cewek yang menggilainya, dia tetap Farez yang tidak bisa diam, jail, dan idiot jika sudah berkumpul seperti ini. Lain lagi Danu, cowok jail, ngeselin, sama idiotnya dengan Farez dan cowok ini doyan banget sama game, tapi anehnya, dia tetap meraih nilai tertinggi dikelasnya.
YOU ARE READING
Ties. (Truths and Lies)
Short StoryDi setiap hubungan pasti ada kejujuran dan kebohongan bukan? Bagi Farra Agnia Rafifa dan Keenan Avram Pramudya, kebohongan dan kejujuran hanya di batasi oleh seutas benang. Tak jarang mereka selalu terbalik. Jika Agni sedang berada di area kejujuran...
