Dimohon untuk tidak menjiplak atau melakukan apapun yang sekiranya merugikan penulis. Keseluruhan cerita di lindungi oleh undang-undang.
***
Gadis itu melangkahkan kakinya riang di koridor sekolah menengah atasnya, sambil bersenandung lagu yang terus berputar-putar diotaknya beberapa hari belakangan ini. Sesekali dia menyapa balik murid-murid di sekolah itu yang menyapanya. Dan sekarang, tujuan pertama saat datang di sekolah itu adalah ingin bertemu dengan sahabatnya, ini rutinitasnya dipagi hari. Dan sahabatnya itu juga yang mewajibkannya untuk bertemu sebelum jam tanda pelanjaran dimulai berbunyi. Dan ya, sahabatnya itu selalu datang lebih pagi darinya, katanya lebih nikmat datang dipagi hari saat sekolah belum ramai daripada datang saat anak-anak rese disekolah itu berkumpul. Dan gadis itu pun berdecak malas saat sahabatnya berbicara seperti itu.
"Halo, Gunung Gumalama!" Gadis itu berteriak saat kepalanya berhasil menyembul dipintu kelas Guma, sahabatnya. Yang dipanggilpun langsung mendongak dan menatap gadis itu dengan sebal.
"Dasar Kurma! Sini lo! Gue jitak dulu pala lo!" Guma memasang wajah gaharnya yang dibalas juluran lidah oleh gadis itu. Tapi gadis itu tetap melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Guma duduk. Dia memasang wajah sok manisnya saat berhasil duduk disamping Guma.
"Lo harus tau, gue gemes sama lo!" Pekik gadis itu sambil memeluk Guma gemas.
"Kuma! Sesak nafas gue nih!" Guma berakting seolah-olah telah kehilangan nafas. Dan Kuma yang tahu pun memutar bola matanya malas lalu melepaskan pelukannya sebal.
"Bercanda Kurma, uluh gitu aja ngambek" Guma mencolek pipi Kuma sambil memberikan tatapan jahilnya.
"Gue ke kelas dulu" Kuma sudah hampir berdiri dengan sempurna tetapi Guma menggagalkannya.
"Kurmanya ngambek nih? Ntar nggak manis dong, terus gak ada yang mau beli deh buat buka puasa" Guma berceloteh dan Kuma semakin melipat dalam mukanya. Guma terkekeh.
"Yaudah, ntar kantin ye. Gue traktir deh" Guma mengeluarkan jurus paling ampuhnya karena tidak mendapatkan jawaban dari Kuma. Dan benar saja, sepersekian detik tekukan diwajah Kuma pun langsung merekah. Kuma tersenyum lebar.
"Terimakasih atas pengertiannya" Kuma masih memandang Guma dengan senyum lebar. Guma berdecak sebal.
"Gue balik kelas ya, ada pr yang belum gue kerjain nih. Bye Gunung Gumalama!" Kuma mengedipkan sebelah matanya pada Guma.
"Iyee, dasar males. Bye Kurma pait!" Guma tertawa saat melihat wajah sebal Kuma. Lalu seringai jahil pun muncul diwajah Kuma.
"Teman-teman" teriak Kuma yang mengundang tolehan dari anak-anak di kelas Guma. Guma pun merasakan aura yang tak mengenakkan dari Kuma.
"Awas ya, status waspada nih. Gunung Gumalamanya sebentar lagi meletus! Hahaha!" Setelah berbiacra seperti itu, Kuma langsung berlari keluar. Dan seisi kelaspun terbahak dengan tingkah Kuma. Guma cemberut lalu bergumam, "lelucon macam apa ini".
***
Kuma Larasati : Ma.
Guma Purnama : ape?
Kuma Larasati : pulang bareng dong...
Guma Purnama : kagak
Kuma Larasati : Guma, apa yang kamu lakuin ke aku itu, JAHAT! :')
Guma Purnama : cih! Korban film.
Guma Purnama : gue mau pergi ntar, nyet.
Kuma Larasati : kemana? Gue gak diajak nih? Fine!
Guma Purnama : boys time.
Kuma Larasati : ngapain? Nonton bokep lo ya?
Guma Purnama : monyet lo.
Guma Purnama : kalo ngomong suka bener nich kamu.
Guma Purnama : naik taksi aja.
Kuma Larasati : ntar kalo gue diculik terus diperkosa gimana, Gum? :'(
Guma Purnama : dasar bayi Kurma! Bacotnya ya Allah!
Guma Purnama : iye gue anterin dah, tapi bayar pake martabak telor spesial ya, gak ada yang gratis hari gini mah
Kuma Larasati : iye iye. Makasih cimitkuuu:*
Kuma menutup aplikasi WhatsApp dihp nya sambil tersenyum. Sekarang dia tidak perlu khawatir harus pulang dengan siapa. Lagipula jika dia memutuskan naik taksi, uang sakunya akan berkurang nanti apalagi jika dia mendapat tukang taksi yang curangnya bikin istighfar.
"Yakin sahabatannya gak pake baper nih?" Seseorang disebelah Kuma berbicara. Dia Fani, sahabat Kuma selain Guma.
"Bangke. Ngomong apaan sih lo" Kuma berusaha menutupi kegugupannya. Fani tertawa melihat ekspresi Kuma.
"Awas ntar kalo gak cepet-cepet digebet orang deh" Fani langsung pergi begitu saja meninggalkan Kuma yang setengah mati menahan kekesalannya.
Apa dia bisa menerima jika sahabatnya itu tidak akan dengannya lagi? Apa Guma akan tetap menjadi Guma jika telah memiliki pacar? Apa Kuma akan tetap jadi Kurma pahitnya Guma? Kuma yang memikirkan itu pun langsung tersenyum pahit. Apapun yang terjadi, Kuma tetap milik Guma dan juga sebaliknya. Kuma kembali berkutat pada bukunya untuk segera menyalin pr yang lupa iya kerjakan tadi malam atau lebih tepatnya ia lupakan. Dengan penuh konsentrasi huruf demi huruf dan angka yang ada dibuku Fani ia salin ke bukunya. Dan Kuma pun berteriak senang karena dia dapat menyalin pr itu dengan cepat.
Sekarang Kuma tinggal menunggu dua jam pelajaran lagi dan itu artinya dia bisa pulang dan bertemu dengan Gumanya. Demi apapun, Guma adalah tempat terbaik bagi Kuma saat orang tuanya memilih berpisah saat gadis itu menginjak usia 14 tahun. Saat itu masa pencarian jati dirinya dan ternyata berita itu malah membuat Kuma menjadi seorang gadis pemberontak. Karena selama ini, kedua orang tuanya sangatlah haromis, tak pernah terlihat cekcok apapun. Untung saat itu ada Guma serta keluarga Guma yang memang dekat dengannya, bisa memberi gadis itu pengertian dan selalu ada disampingnya. Itu yang membuat Kuma sadar, dia dilahirkan bukan untuk rusak. Setidaknya dia harus jadi lebih baik daripada kedua orang tuanya itu.
Bel pelajaran selanjutnya berbunyi, itu tandanya guru super jutek bagi Kuma akan segera hadir untuk memberikan aura malas pada kelas ini. Dan biasanya Kuma akan tertidur saat guru itu mengajar. Tapi mungkin Kuma akan mendengarkan guru itu hari ini. Lagipula Ulangan Kenaikan Kelas akan berlangsung dua minggu lagi. Dia juga sudah berjanji pada Guma untuk mendapatkan nilai yang bagus dan di harus menepatinya.
"Kumkum, gue tadi liat Guma sama Carissa" Fani berbicara saat sudah berhasil duduk. Kuma menoleh menghadap Fani dengan ekspresi tak terbacanya.
"Gue gak bohong, suerrr" Fani mengangkat tangannya, dan membentuk jarinya menjadi tanda 'peace'. Kuma mengangguk-angguk.
"Lo gak kesel?" Fani bertanya pada Kuma.
"Emang gue harus ngomong, diem lo. Gue lagi patah hati sekarang" Kuma menggoreskan bolpoinnya sembarang pada halaman bukunya dan Fani pun menahan dirinya agar tidak terbahak.
"Lagian kenapa ngga jujur aja ke Guma kalau lo udah nyimpen perasaan ke Guma selama ini tolol!" Ucap Fani gemas.
"Bentar lagi kita lulus, gue ngga mau lah ngerusak momen mau wisudaan SMA sama dia. Kalau misal gue ditolak karena dia selama ini anggep gue cuma sebagai saudara aja gimana!" Kuma menjambak rambutnya Frustasi. Fani hanya menghela nafas panjang serta menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kuma.
===
Halo guys! Salam kenal. Mohon dukungannya untuk mulai menulis lagi setelah sekian lama. Semoga terhibur ♥️
