Cerita ini sampah, mungkin. Kisah ini menggurui, memuakkan atau malah membosankan, bisa jadi. Bahkan barangkali akan dianggap bualan, omong besar, dan rasa negatif lain yang muncul tiap kali hal ini disentil. Jadi, apa kau siap untuk masuk dalam cerita ini? Cerita di mana kau akan datang dan menjadi anggota suatu komunitas?
Kau ingin tahu soal komunitas ini?
Yakin?
Aku bersungguh-sungguh memperingatkanmu.
Baiklah kalau kau memaksa.
Asal dengan satu syarat:
Setelah selesai membaca ini, kutantang kau lahir untuk berjuang.
Kau bingung dengan frasa 'lahir untuk berjuang'? Tenang saja, kau akan menemukan jawabannya nanti.
Kau sanggup?
Jika tidak, cukup sampai di sini saja kau membaca. Namun jika kau seorang pemberani, maka akan kumulai cerita ini.
...
"Kamu dapet berapa, Dun?"
"77," Adun menjawab enteng. "seenggaknya tuntas, 'kan?" Diiringi seringai lebarnya yang membuat sebagian besar teman-teman sekelas muak melihat tingkah anak laki-laki itu. Bagaimana enggak muak? Dari tigapuluh siswa di kelas, hanya Adun, Alda, Fukfuk, dan Cak Dan yang mendapat nilai di atas atau malah pas dengan batas ketuntasan yaitu 76.
Ulangan fisika kali ini emang enggak main-main. Top score masih dipegang sama Alda, si ketua kelas yang cantik dan baik—cewek sempurna idaman tiap lelaki di kelas. Mereka justru terkejut ketika Fukfuk dan Cak Dan—nama sebenarnya sih Daniel, cuma entah kenapa jadi begitu—bisa lolos lubang neraka yang bernama ulangan fisika. Mereka mendapat nilai 76! Keajaiban sedang berpihak pada mereka berdua.
"Dun, elu bisa tuntas hasil nyontek, ya?" James yang memiliki nama asli Mahmud itu menuduh secara frontal pada Adun.
"Enak aja! Noh, gue belajar sama malaikat kelas," balas Adun agak sakit hati sambil mengedikkan kepala ke arah Alda.
Semua mata melirik Alda yang sedang sibuk membaca sesuatu. Mungkin modul kimia? Hanya Alda, buku di depannya, dan tuhan saja yang tahu.
Alda yang merasa diberikan tatapan tajam dari berbagai penjuru, langsung mengangkat kepala dan memberikan balasan tatapan bingung yang kelewat manis bagi sebagian besar cowok kelas sepuluh itu. Tentu saja begitu. Lihat rambut Alda yang tergerai panjang. Belum lagi kulit kuning langsatnya itu bikin ngiler para lelaki.
"Ada apa?" tanya Alda polos.
Salah satu siswi yang duduk di pojok belakang ruangan berujar sedih, "Kenapa Alda enggak ngajarin kita juga?
Alda yang semula duduk tenang mulai berdiri dan mendatangi bangku Adun di baris kedua dari depan. Tangan gadis itu terulur untuk mengambil hasil kertas ulangan Adun yang bertulis 77 itu.
Alda memandangi jawaban ulangan itu cukup lama lalu tersenyum muram. "Padahal Adun bisa dapet lebih dari ini."
Semua teman yang mendengarnya langsung melongo mendengar komentar Alda.
"Andai aja Adun mau lebih serius lagi tutorial kemarin, pasti bisa lebih dari ini," kata Alda sedih. Rautnya menunjukkan kekecewaan.
Adun langsung merasa bersalah mengingat bagaimana kemarin dirinya malah asyik dengan gadget dan game onlinenya saat Alda menjelaskan materi alat optik.
YOU ARE READING
[Giveaway Melintas Batas NGKWI 2016] [Komunitas Menembus Batas]
Short StorySelamat datang untuk kalian, para pejuang!
![[Giveaway Melintas Batas NGKWI 2016] [Komunitas Menembus Batas]](https://img.wattpad.com/cover/72204999-64-k427223.jpg)