Aku menatap sendu pemandangan yang ada di luar kaca mobil. Ibu sedang sibuk menyetir sambil bersenandung lagu kesukaannya yang sedang diputar di Radio. Sher—kakakku—asyik dengan ponsel dan headphonenya. Tangan kanannya sesekali meraih keripik kentang favoritnya. Aku menghela napas dengan berat. Sesak terasa didadaku. Bukan sesak seperti penyakit, namun, sesak karena sakit. Sakit harus meninggalkan semua harapan yang sudah kubangun sejak lama. Sakit ketika harus menyelami kesedihan lama itu. Aku sudah mencoba dengan keras untuk menahan air mata itu jatuh ke permukaan. Nampaknya, aku berhasil sejauh ini.
"Ayesha?"
Seketika aku menoleh ke sumber suara.
"Are you okay?" tanya ibuku dengan pandangan yang tetap mengarah ke depan.
"Yes. Aku gak papa kok, Ma." Jawabku dengan suara bergetar
"Ah! Mama pernah baca di majalah ceweknya Shara, katanya, if a girl said 'It's okay', it means she's not okay."
Lalu, ibuku tersenyum yang aku tak tau apa maksudnya.
"Paling Aya masih sedih ma harus pisah sama temennya. Itupun kalau dia punya temen. Kalau udah sampai juga girang lagi." Saut Shara dari belakang.
Rasanya, aku ingin menyumpal mulutnya dengan ikatan rambutku. Dasar gak peka
"Oiya, you'll have a new friend in your new school, honey."
"Tapi, yang lama gak bakal bisa dilupain walau udah ada yang baru." Gumamku pelan.
"Kenapa?"
"Enggak, ma. Mama salah denger kali."
---
Aku menatap kosong tungkai kakiku yang sedang berjalan ketika tiba-tiba sebuah suara yang familiar terdengar.
"Jangan nunduk mulu dong."
Aku terdiam. Setelah otakku berhasil memproses sesuatu yang baru terjadi, seperti telah terprogram otomatis, aku sibuk merutuki diriku sendiri seraya menggigiti bibir bawahku.
"Kok diem?" tanyanya kembali.
Aku mendongak sejenak untuk memastikan sosok tersebut. DAN ITU MEMANG DIA! Seketika aku langsung menunduk kembali.
"Kamu tetep sama ya, masih suka kicep gitu ngeliat aku." tuturnya lembut.
Ia berjalan mendekat hingga aku bisa melihat sepatunya walau dengan keadaan menunduk . How stupid me?! Bego banget tau gak sih Ay, lo liat dia, kicep bentar, terus nunduk lagi. Gak guna banget.
"Kamu masih bisa denger aku kan?"
Belum selesai aku kaget dengan kedatangan makhluk ini, ia sudah bersuara lagi. Sabar, Ayesha. Tenang. Calm down. One, Two,...
"What the heck is it?! Gak usah sok-sok an aku-kamu sama gue. Lo pikir lo siapa?"
Aduh, oneng banget. Ngapain coba gue marah-marah gajelas. Tenang Ay, stekul.
"Jadi, siapa sih yang harusnya marah? kalo orang yang disayang tiba-tiba pindah gak kasih kabar?" tanyanya tenang dengan alis yang dinaik-turun kan.
Aku terdiam. Bibirku terkatup rapat. Tak tau harus bilang apa. Tanpa kusadari, ia tersenyum. Dan bayang-bayang menyedihkan itu, muncul kembali.
---
a/n
Hai! Duila. Ini cerita ada yang baca gk ya? lol. Anyway. Big Thanks to princessofia- for the
cover!
KAMU SEDANG MEMBACA
Adesha
Fiksi RemajaMandiri. Terampil. Sempurna. Itulah deskripsi orang tentangnya. Ayesha Marcove. Seorang gadis yang nyaris bisa melakukan semuanya sendiri. Seakan tak butuh siapapun, ia bahkan tak punya teman selain sepupunya sendiri. Ia tidak dingin--malah tergolon...
