Bab I :
Mata yang dulu telah tertutup, Mata yang baru akan membuka dunia kedua.
Aku duduk di atas pasir, menggaruk pasir-pasir itu ke ember ku, dan melihat tanda dua buah bulan sabit besar dan kecil saling berhadapan. Kadang aku bertaya-tanya, kenapa hanya aku di keluarga ini yang mempunyai tanda seperti ini. Aku kembali ke ember berisi pasir. Menekan-nekannya hingga padat dan menumpahkannya, membuat sebuah istana pasir. Semua hampir selesai, hanya tinggal menaruh bendara di atas menara tinggi yang ku buat. Tanpa ku sadari hari sudah petang, aku menatap matahari itu terbenam, dan mengedipkan mataku, menutupnya beberapa lama. Tidak! Makhluk apa ini!? Sesosok makhluk berbadan dan wajah hitam tepat berada di depan mataku sekarang, beberapa di bagian wajahnya mengalir darah, tidak ada kaki. Mulutnya menganga, di dalamnya penuh belatung. Jantungku saat itu seperti berhenti, aku tak dapat menutup mataku, tak ada lagi oksigen masuk dalam otakku karena paru-paru dan hidungku berhenti bekerja. Mataku tetap memandangi wajah itu walaupun batinku sudah menyuruhnya untuk menutup. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap, gelap dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.
Aku mendapati diriku di pantai, pasir yang menempel di telapak kakiku memberiku jawaban atas pertanyaan; Di manakah aku? Semua gelap, tak ada lampu penerangan. Aku meraba-raba dengan tanganku untuk memastikan tidak ada apa-apa di depanku, aku bergerak maju. Terus bergerak maju dan tanganku tak tersentuh oleh apa pun. Aku terus saja bergerak maju. Tidak, pikiranku salah mengambil jalan. Badanku tiba-tiba terjatuh, bukan menggelinding, langsung jatuh. Aku masih dapat meraba-raba dengan tanganku saat aku jatuh, tapi aku tak merasakan apa-apa. Badanku menggesek dengan udara, hingga akhirnya mendarat di bawah air. Badan ku sekarang bersentuhan dengan air, semua masih gelap, aku tak dapat melihat apapun.
Aku terus menggerakkan tanganku agar badanku tidak terjatuh ke bawah. Tiba-tiba saja tanda dua buah bulan sabit yang berhadapan di tangan kiriku bersinar biru terang, membuat mataku dapat melihat. Aneh, ternyata bukan hanya ada aku saja di dalam laut ini. Ada seorang perempuan dan seorang lelaki. Tangan mereka juga menyala terang, kami saling nenatap. Mereka diam, aku pun tak dapat bicara.
Makhluk itu muncul lagi, wajah dan badan yang berwarna hitam tapi dengan jumlah yang lebih banyak, mengilingi kami. Mereka mulai mendekati kami.
"Tiga indingo ini? Mereka terlihat lemah. Ayah dan ibu mereka dapat kita habisi dengan mudah, tinggal menghabisi mereka dan tidak akan ada lagi yang akan mengganggu dan membunuh kita. Dengan itu kita dapat kenyang memakan jiwa manusia dan memakai tubuh mereka." sesosok makhluk dengan suara berat itu memimpin bicara. Aku masih memiliki banyak pertanyaan namun makhluk itu hilang menjadi butiran-butiran kecil yang mengilingi tubuhku dan dua orang di depanku. Benda itu membuat mataku pedih dan membuat tubuhku terjatuh ke dasar laut.
Aku membuka mataku, ini bukan di surga ataupun di neraka, ini di rumah sakit. Nafasku masih tidak beraturan, dengan keringat yang mengalir deras di wajahku, masih teringat wajah yang muncul di depan mataku saat itu. Aku tak berani mengedipkan mataku, namun otakku bekerja dengan caranya sendiri, membuat kantong yang membungkus mataku tertutup beberapa saat. Jatungku berdetak kencang saat kubuka mataku,dan untunglah tidak terjadi apa-apa. Aku kembali melakukannya berulang-ulang. Hanya mimpi, aku tidak benar-benar terjebur di laut, itu mungkin hanya mimpi buruk.
Wajahku memutar sembilan puluh derajat ke kiri dan ke kanan, melihat keadaan di sekitarku. Sesekali aku menengok kebelakang, untuk memastikan tidak ada makhluk itu lagi. Ayah, ibu tertidur. Aku memutuskan untuk menggerakkan kepala ku keatas, dan sial aku melihat makhluk itu lagi. Kali ini darah dari wajahnya menetes hingga ke selimutku, aku tak bisa berteriak, bahkan untuk memanggil ayahku saja mulutku tak bisa mengeluarkan suara. Ayah, tolong aku!
******
Pagi ini aku di perbolehkan pulang dari rumah sakit, ayah dan ibu tak menanyaiku mengenai darah-darah yang tertetes di selimut dan tempat tidur ku saat di rumah sakit. Mereka hanya diam dan menyaiku beberapa pertanyaan yang wajar; sudah lapar belum? Mau makan? Kamu tak apa? Tak menanyaiku alasan mengapa aku pingsan saat itu. Pagi ini pun aku memutuskan untuk pergi ke sekolah, dan anehnya ayah dan ibuku mengizinkanku untuk pergi ke sekolah, padahal aku baru saja pulang dari rumah sakit, bukan melarang. Aku mulai berpikir tentang keanehan-keanehan yang terjadi padaku. Aku mulai terpikir oleh perkataan salah satu makhluk yang ku temui saat aku bermimpi; kita akan kenyang memakan jiwa manusia dan menggunakan tubuh mereka. Aku mulai berpikir bahwa makhluk itulah yang membuat ayah ibuku berubah, mungkin mereka sudah membunuh dan menggunakan tubuh mereka, tidak! Mungkin hanya kebetulan. Aku memutuskan bersiap untuk pergi ke sekolah.
Kelas telah di mulai dua jam yang lalu, tetapi pikiranku tak dapat aku hilangkan dari ibu dan ayahku serta makhluk buruk rupa itu. Tak ada satupun materi yang ku tulis dalam bukuku, tak ada sekatapun ucapan guruku yang masuk ke dalam otakku. Aku menaruh kepalaku di meja, dan makhluk itu muncul kembali, kali ini dia berada di samping temanku. Mulutnya melempar senyum sinis ke arahku, darahnya masih keluar dari pori-pori wajahnya. Aku melihatnya masuk ke dalam tubuh temanku dan tiba-tiba saja temanku itu berdiri dan menunjukku. Sontak pandangan seisi kelas langsung tertuju pada temanku yang tiba-tiba saja menunjukku. Tak sedikit pula orang yang memandangiku.
"Arnold!" Ucapnya keras sambil menunjuk ke arahku. Ku rasa makhluk yang memasukinya imgin menakut-nakutiku.
"Arnold, kau akan mati!"setelah mengeluarkan kalimat itu semua siswa dengan kompak menarik pendek nafas mereka dan memandangiku. Tubuh temanku itu tiba-tiba terjatuh dan aku melihat makhluk itu keluar dari tubuh temanku. Tidak kau salah, aku tak akan mati.
Aku, guruku, dan beberapa anak lainnya memenuhi UKS, mewawancarai Delta, temanku yang tubuhnya di masuki oleh makhluk tadi. Delta benar-benar tidak ingat kejadian yang menimpanya. Bahkan, ketika saat seorang temanku memperlihatkan videonya kepada Delta, dia menggeleng. Dia benar-benar tak mengatakan itu.
"Delta, apakah kau benar-benar tidak ingat tentang kejadian itu?" guruku menanyai pertanyaan yang sama berulang kali, dan jawabnya selalu sama, tidak. Sekarang makhluk itu perlahan mulai menyerangku, tidak, aku tidak akan bertahan dan terus diam begitu saja. Mereka telah membuat mataku dapat melihat dunia mereka, dunia ke dua, aku tidak akan diam. Aku akan mencari semua jawabab atas semua pertanyaan yang menjadi sebuah tanda tanya besar dan pikiranku. Bahkan, saat aku selesai mengucap sumpah itu dalam batinku, makhluk itu muncul kembali dan mengucapkan sepatah kalimat.
"Permainan baru di mulai, Arnold!"
Permainan baru di mulai? Maka aku yang akan memenangkan permainan tersebut.
"Bukan, ini akan menjadi pemainan yang sulit untukmu." untuk pertama kalinya, mulutku dapat melontarkan kata-kata kepada makhluk itu.
Written at 09-05-2016
*KKP : Duh, UN malah kepingin buat cerita dengan genre yang bertumpuk-tumpuk (menurutku). Baru keluar Genre Horror dan Fantasinya, Untuk action dan SemiRomance (romance tapi tidak banyak gua ceritakan)nya bakalan nyusul di pertengahan.
*koar-koar penulis xD
Thanks For Reading!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
MASQUERADE
FantasyAku tak percaya hantu, namun aku dapat melihatnya. Aku ingin tak melihatnya, agar aku tak mengganggap hantu itu ada. Mereka terus menggangguku, bahkan saat aku di sekolah. Wajah mereka selalu berubah, tidak bukan hanya wajah, tetapi juga wujud merek...
