Prolog [REPOST]

515 21 0
                                        


Mentari pagi menyinari seluruh bagian negri Douglash, menyambut lahirnya seorang putri negri tersebut. Semua orang bersuka cita karena Raja mereka memiliki satu lagi keturunan.

Istana sangat sibuk dari tengah malam sampai pagi ini. Para pelayan lalu lalang di sekitar pavilliun Ratu, sibuk membereskan bekas persalinan. Seorang pria dengan jubah kerajaan berjalan dengan gagahnya menuju pavilliun Ratu. Semua pelayan menunduk dalam ketika pria itu memasuki ruangan depan pavilliun.

"Yang Mulia Raja tiba! " kata seorang pengawal dengan lantang,

Pria itu masuk dengan senyum mengembang.

"Yang Mulia. " sapa Ratu Elisabeth pada suaminya, Raja Edward,

Raja Edward memberikan isyarat pada para pelayan untuk meninggalkan mereka bertiga di ruangan tersebut. Setelah semua pergi, tinggallah sang Raja, Ratu dan putri mereka.

"Bagaimana keadaan Clarion, Anna? " tanya Raja Edward sambil berjalan mendekat kearah putrinya,

"Ia sangat sehat, Edd. " jawab Ratu Elisabeth dengan senyum lemah, "tapi, apakah Clarion itu nama yang kau berikan untuknya? " Ratu Elisabeth bertanya,

Raja Edward menimang putri bungsunya dengan sayang.
"Ya, aku sudah sejak lama menyiapkan dua nama untuknya. Jika ia seorang Pangeran, namanya Elga. Dan jika ia seorang Putri namanya Clarion. " jelas Raja Edward tersenyum lembut pada istrinya, "Clarion Edward Douglash. " tambah Raja Edward sambil tersenyum menatap Clarion,

"Maafkan aku. " sahut Ratu Elisabeth sendu,

Raja Edward menatap istrinya, "Kenapa meminta maaf? "

"Aku tidak bisa memberimu seorang pangeran lagi.. untuk mendampingi Edmund. " kata Ratu Elisabeth dengan bibir bergetar,

"Ini lebih dari cukup, Anna. " sahut Raja Edward dengan senyum tulusnya, "Sekarang istirahatlah, kau pasti kelelahan melahirkan putri cantik kita. " tambah Raja Edward sambil menidurkan putrinya di samping Ratu Elisabeth.

*

Sepuluh tahun telah berlalu. Putri kecil dari kerajaan Douglash kini tengah tumbuh menjadi anak yang pintar, cantik dan berbakat.

Clarion menarik busurnya, menahan dan melepaskannya tepat kena sasaran. Tepuk tangan para pelayan meramaikan lapangan memanah. Tak jauh terlihat seorang anak berlari kearah Putri Clarion.

"Kenapa kau berlari? Kau akan kelelahan, Shakira. " kata Putri Clarion sambil melepaskan anak panahnya lagi dan lagi mengenai sasaran,

"Clarion, Charlotte merusak rangkaian bunga tulip milikmu! " kata Putru Shakira tanpa memperdulikan peringatan kakaknya,

"Apa? Apa yang dilakukan anak itu?! " Putri Clarion tampak geram dengan laporan yang diberikan adiknya,

Putri Clarion berjalan cepat menuju belakang pavilliun. Dan benar apa yang dikatakan adiknya bahwa bunga rangkaiannya hancur berantakan. Putri Clarion berjalan melewati para pelayan yang baru saja tiba karena mengejarnya yang berjalan terlalu cepat. Di tengah perjalanan, Putri Clarion bertemu dengan 'si penghancur bunganya', Putri Charlotte. Ia pun menghadang jalan Putri Charlotte.

"Apa yang kau lakukan?! " bentak Putri Charlotte dengan nada tinggi,

"Apa yang kulakukan? Justru aku yang bertanya, apa yang kau lakukan terhadap bunga rangkaiaku?! " bentak Putri Clarion tak mau kalah,

PLAKK

Satu tamparan mendarat di pipi Putri Clarion, ia meringis perih akibat tamparan tersebut.

"Itu akibat dari ketidak sopananmu terhadap kakakmu. " kata Putri Charlotte tajam kemudian berjalan melewati Putri Clarion,

Putri Clarion berbalik dan menarik pergelangan Putri Charlotte dan memutarnya.

"Aaaw! " Putri Charlotte memekik menahan sakit,

"Clarion!! " teriak seseorang dari jauh dengan nada tegas,

Putri Clarion dan Putri Charlotte menoleh bersamaan. Putri Clarion tampak kaget dan melepaskan cengkramannya sementara Putri Charlotte menatap orang itu dengan wajah sedih.

"Ayah.. " Putri Charlotte dengan tampang memelas,

"Apa yang kau lakukan? " tanya Raja Edward pada Putri Clarion,

"A-aku.. " Putri Clarion tercekat,

"Ayah, maafkan aku. Sebagai kakak tak bisa mencontohkan kebaikan pada adikku sendiri. " Putri Charlotte menunduk dalam,

Putri Clarion menatap tak percaya pada kakaknya.

"Ayah, dengarkan aku. Aku melakukan itu karena ia memukulku duluan. Jadi, aku membela diri.. " Putri Clarion mememlankan suaranya sambil menatap nanar Raja Edward,

"Sampai menyakiti kakakmu? " tanya Raja Edward,

Putri Clarion menatap Raja Edward dengan tatapan benci. Ia pun berbalik dan berlari meninggalkan semuanya.

*

Putri Clarion berjalan ke pavilliun Putra Mahkota. Ia disambut beberapa pelayan yang baru selesai mengganti pakaian Putra Mahkota. Ia berjalan mendekati kakaknya yang tertidur pulas diatas ranjang mewah.

"Kakak.. "

"Kakak sadarlah! "

"Aku merindukanmu, bisakah kau bangun untuk membelaku dihadapan ayah? "

"Charlotte berbuat jahat padaku lagi. Bangunlah, kak! "

Putri Clarion berbicara dengan lirihnya. Tak terasa air matanya mengalir, ia menangis dalam diam.

*********

Haloooo
Author sadar cerita ini ga sebagus penulis lain di WP. Maka dari itu author ga berharap kalian kasih vote, tapi author minta kritiknya ya, tapi yang positif hehe. Biar bisa lebih berkembang lagi dalam menulis.

Thank you🙏

The Great QueenUnde poveștirile trăiesc. Descoperă acum