'PRAANGG' saat peristiwa mengerikan itu terjadi, usiaku baru 5 tahun. Aku melihat semuanya. Saat tangan besar papa memukul mama, adu mulut yang mereka lontarkan, pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai. Aku melihat semuanya. Mbok Sri mendekapku dari belakang, menutup telingaku seakan mencegah aku mendengar semua yang sedang aku saksikan. Untung saja gemuruh hujan dan petir yang bersahutan meredam sedikit teriakan papa dan mama, meredam sumpah serapah yang mereka lontarkan. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa, hanya menonton mereka dari sudut dinding ruang makan, mendekap kartu ucapan yang sudah seharian ku buat untuk papa. Malam itu, harusnya menjadi malam yang indah bagi keluarga kami.
19 Maret 2002 pukul 21.00 WIB, ulang tahun papa ke-35
"Mbok, gimana kartu ucapan buatanku?"
"Wah, ini non Raina yang bikin? Bagus tenan non! Buat papa ya?", jawab Mbok Sri sambil mengantarkan susu hangat ke kamarku. "Non, nda bobo? Sudah malam loh. Hujan juga, ora takut sama petir?"
"Rain nggak takut sama petir. Rain mau nunggu mama sama papa pulang Mbok."
"Yaudah, kalau masih mau nunggu mama sama papa pulang, mending ikut Mbok aja ke dapur. Kita siapin makanan buat ulang tahun papa. Purun?"
Aku dan Mbok Sri menyiapkan segala sesuatu yang perlu disiapkan. Tangan kecilku berusaha meraih dan menata semua makanan dan minuman di atas meja. Aku memandangi kartu ucapan buatanku. Berharap saat papa pulang, papa akan bahagia dan mendekapku di bahunya yang tegap dan hangat. Bahu yang selalu merangkul aku dan mama dengan lembut.
Tanpa sadar aku tertidur di sofa ruang tamu, sambil mendekap kartu ucapan yang kubuat. Mbok Sri membangunkanku untuk pindah tidur ke kamar. Saat ku lihat jam dinding ternyata sudah tengah malam. Kupikir papa dan mama nggak pulang malam itu, jadi aku beranjak pergi ke kamarku, masih mendekap kartu ucapan itu. Saat sudah setengah tertidur, aku mendengar suara papa dan mama dari dapur. Tersentak, aku pun pergi ke dapur sambil membawa kartu ucapan buat papa. "Papa .... Selamat ..."
Dan saat itu ...
"Suami brengsek!! Ayah nggak bertanggung jawab!! Bisa-bisanya ya kamu mesra-mesraan sama sekretaris kamu yang ganjen ituu!!!"
"Kamu dengarkan aku dulu!"
"Halah penjelasan apalagi??!! Udah berapa kali kamu ketemu sama dia hah??!!! Berapa kali kamu main ke rumahnya??!!! Berapa kali kamu ber .."
'PLAAK' tangan besar papa yang biasanya merangkul aku dan mama, yang mengelus rambutku sebelum aku tidur, yang menggendong aku, saat itu melayangkan pukulan ke pipi kiri mama.
"Istighfar Ma!! Aku nggak seperti yang kamu pikir!! Aku bukan cowok brengsek seperti yang kamu kira!! Berapa tahun kita menikah? Kenapa kamu nggak ngerti sama pekerjaanku??"
"Pekerjaan apa yang malam-malam ketemuan sama sekretaris di hotel berdua aja?? HAH??!! JAWAB MAS!!" suara mama meninggi.
"Si Retno tinggal di sana!! Karena bahas kerjaan di kantor lagi nggak memungkinkan!! Kamu tahu sendiri kantor lagi ada perbaikan, nggak mungkin bisa konsen di kantor!!"
'PRAANGG' mama menarik taplak meja makan, menyebabkan semua makanan yang ku tata tadi bersama Mbok Sri jatuh berhamburan di lantai. Aku terdiam, Mbok Sri yang kaget melihatku, langsung menghampiri dan memelukku erat.
19 Maret 2002 pukul 23.45 WIB, aku melihat neraka di depan mataku.
Di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir yang bersahutan, mobil sedan hitam melesat di jalanan yang basah dengan cepatnya.
Mama memasukkan semua bajuku ke koper besar. "Kita mau ke mana ma? Kan kita mau rayain ulang tahun papa"
"Nggak ada pesta ulang tahun, kita pergi dari sini ya sayang", mama terisak sambil mencium keningku.
"Mbok Sri kamu juga rapikan barang-barangmu ya. Kita pergi dari sini."
"Tapi Bu, apa nda sebaiknya diomongin dulu baik-baik sama bapak? Kasihan Non Raina masih kecil Bu."
Mama hanya diam dan terus memasukkan semua barang-barangku ke koper. Mbok Sri juga mengemasi barang-barangnya. "Papa ikut kan Ma?", rengekku. "Ayo pergi sama papa juga Ma"
"NGGAK!!". Aku terkesiap saat mama membentakku. Aku menangis ketakutan.
"Maafin mama sayang, bukan maksud mama bentak kamu. Kita perginya bertiga aja ya, sama Mbok Sri, papa nggak bisa ikut kita sayang. Maafin mama ya udah bentak Raina.". Mama menangis sambil mendekapku. Aku masih menangis dalam dekapan mama.
"Kamu mau ke mana Sin?", papa mencegah aku, mama dan Mbok Sri keluar rumah.
"Bukan urusanmu!! Minggir!", mama menampis lengan papa. "Paa ... Rain takut pa ... Rain mau pergi sama Papa juga." Tangan kecilku meraih jari-jari papa. Papa memandangku dengan teduh, mata papa selalu menenangkanku, mata teduh papa membuatku merasa aman.
"Iya, Papa juga mau pergi sama Raina. Raina nggak bakal ke mana-mana. Papa bakal ada terus buat Raina.", papa menitihkan air mata sambil melayangkan ciuman hangat ke kening ku.
Mama menarikku dari dekapan papa, merengkuhku dalam gendongannya. Mama berjalan pergi ke mobil, meninggalkan papa.
"Sinta!! Jangan nekat!! Hujan deras begini kau mau ke mana??!! Jangan bahayakan nyawamu dan nyawa Raina!! Sintaa!!" teriakan papa semakin lama makin lemah, tertelan oleh gemuruh hujan dan tertinggal oleh mobil yang melaju menjauh.
"Papa bakal ada terus buat Raina, kapan dan di mana pun Raina butuh Papa, Papa bakal ada buat Raina! Papa selalu sayang sama Raina!!", kalimat terakhir papa yang bisa ku dengar sebelum semua nya menghilang di telan gemuruh hujan.
Mama mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Mbok Sri berusaha menenangkan aku yang sedang menangis di kursi belakang. Seakan tak peduli akan isakan ku, mama menambah kecepatan mobilnya. Hujan yang deras mengganggu pandangan mata.
20 Maret 2002 pukul 01.00 dini hari,
'CRUUSSHH' mobil mama menabrak pohon besar di tepi jurang. Aku tak sadarkan diri selama beberapa menit. "Ma ... Mama .. bangun maa!! Maaa!!" tangan kecilku menepuk pelan pipi mama, tapi semuanya percuma mama meninggal di tempat, bersimbah darah. Hal serupa dialami Mbok Sri. Hanya aku yang selamat dalam kecelakaan itu.
20 Maret 2002, hujan merenggut orang-orang yang ku sayangi.
YOU ARE READING
Bounded
RomanceKetika kesungguhan cinta diuji. Ketika kesetiaan menghantui. Beragam orang dan kepribadian memasuki ruang kosong. Menyesakkan. Kebahagiaan dan kepedihan menghampiri beriringan, saling berkaitan, menimbulkan prasangka-prasangka kepada-Nya. Mempertany...
