Bab 1 Kesialan

47 1 0
                                        

Perjalanan masih panjang untuk ditempuh. Di depan masih ada jembatan yang penuh dengan duri.

Sebuah jembatan masa depan dengan ikatan yang tidak kuat, siapa saja yang berjalan di atas jembatan itu tanpa adanya keraguan. Maka ikatan jembatan akan kuat dengan sendirinya. Dan kamu tidak akan goyah juga tidak akan takut saat kamu berjalan di atasnya.

Kamu tak akan jatuh kebawah dan tidak akan menjadi santapan para binatang buas yang kelaparan di bawah jembatan. Walau berkali-kali kamu tersandung, kamu tidak akan jatuh. Karena orang sukses itu jatuh sepuluh kali bangun sebelas kali.

Seorang gadis sedang berjalan sambil menendang batu yang di trotoar. Suasana hatinya sedang kacau. Baru beberapa saat dia merasakan bagaimana cinta itu tumbuh di dalam hatinya. Namun, dalam seketika cinta itu layu karena keputusan sepihak.

Tak pernah merasa akan jatuh cinta kepada seseorang, tidak pernah seserius ini dalam menanggapi soal perasaan. Sekarang dia terjebak dalam sebuah cinta semu, cinta yang hanya permainan dari seorang laki-laki yang hanya bisa memberikan sebuah harapan tanpa mampu menunaikannya.

Apakah itu bisa dikatakan laki-laki? bukan laki-laki, tapi pengecut dan pembual.

Saat cinta itu datang menghampiri kita, tangisan menjadi senyuman. Kesunyian menjadi keceriaan. Kedinginan menjadi kehangatan. Cinta mengubah segalanya. Kekerasan pun menjadi kelembutan. Sang gadis yang selalu berharap agar hati sang pujaan menjadi lembut, selalu berharap sang pujaan bisa merasakan akan ketulusan cintanya.

Sebesar apa cinta sang gadis terhadapnya. Tanpa rasa malu sedikitpun sang gadis itu dengan terang-terangan meminta sang pujaan kepada Tuhannya. Bagaimana bisa dia tidak memiliki rasa malu sedikit pun, itulah cinta, karena cinta hal yang salah menjadi benar. Itulah cinta.

"laki-laki sialan, brengsek, kurang ajar. Dia kira gue siapa. Dia pikir gue boneka berbie yang tidak punya otak dan perasaan hingga bisa dimainin olehnya."

Satu tendangan tepat sasaran.
Pranggg
Suara apakah itu?
Gadis itu menutup mulutnya dengan ketakutan. Menyadari apa yang telah dilakukannya.

Dari mana asal batu itu? Dia mulai merasa panik. Kenapa batu itu bisa begitu kuat dan mampu memecahkan kaca mobil. Dia tidak bisa bergerak lagi, dadanya mulai naik turun, nafasnya menderu. Matanya mulai mengeluarkan air. Sungguh dia sangat ketakutan. Kenapa begitu sial?.

Seseorang membuka pintu mobil, sepertinya itu sang pemilik mobil. Kemudian memeriksa keadaan mobilnya. Sungguh menyedihkan, kaca belakang mobil pecah.

Orang itu melangkah mendekati gadis yang berdiri bak patung di atas trotoar.

"what are you doing? Stupid!!!" tanya orang itu dengan mata melotot. Sepertinya sangat marah. Kini dia benar-benar marah. Gadis itu hanya diam dan tidak bergerak sedikit pun. Tapi matanya sudah banjir. "gue sedang bicara dengan lo, idiot."

Gadis itu masih tidak bergeming. "ikut gue ke kantor polisi. Lo jelasin semuanya di sana," dengan sangat kesel orang itu menarik tangan gadis itu.

"maafkan saya tuan, saya tidak sengaja, jangan bawa saya ke kantor polisi. Saya mohon jangan tuan, kasihani saya, saya tidak mau dipenjara. Bagaimana bila orangtua saya tau. Tuan maafkan saya, sayamasihinginkuliah, saya masih sangat muda dan saya juga belum menikah." gadis itu mulai terisak dan kini dia sudah terduduk di atas trotoar.

"hei nona. Anda pikir dengan maaf bisa menyelesaikan masalah. Bila maaf berlaku, untuk apa ada hukum di Negara ini. Ikut gue ke kantor polisi sekarang. Lo harus membayar apa yang sudah lo lakukan."

Sang gadis pun tidak bisa memberontak, apa pun yang terjadi ini adalah kesalahannya. Jadi sebagai penghargaan terhadap privasinya, dia harus bertanggung jawab. Dengan sangat kasar orang itu menutup pintu mobil setelah gadis itu masuk ke dalam mobil miliknya.
Gadis itu membatin, 'masih untung tidak ada yang melihat kejadian tadi, kalau tidak gue akan menjadi tontonan banyak orang.' Terus bagaimana bila ada teman sekampusnya yang tau. Dia akan sangat-sangat malu.

Daris & SamiraWhere stories live. Discover now