Wildan duduk manis di kursi dan terlihat dari dahinya yang berkerut menandakan dia sedang berpikir keras. Matanya terus saja bergerak melihat benda yang ada di depannya. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan tak setuju dengan apa yang dilihatnya.
Awan yang baru saja duduk di bangkunya tergelitik melihat Wildan yang masih serius dengan bukunya itu. Dia menyenggol lengan Wildan keras dan membuat mata Wildan melotot. Persis seperti wajah melotot Suzana.
"Paan sih lo? Ganggu aja!", kata Wildan masih terus melotot ke Awan. Dia menutupi bukunya dari Awan dengan lengannya.
"Ih sewot banget sih. Baca apaan sih lo?", kata Awan sambil mengadahkan kepalanya tertarik dengan apa yang dibaca Wildan. Namun tangan Wildan yang tidak mau bergeser membuat Awan harus mendorong kuat tubuh Wildan agar lengannya bisa menjauh dari bukunya itu.
"Oh majalah toh", kata Awan saat tau apa yang membuat teman sebangkunya itu sampai mengerutkan dahinya. Dia sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya karena hanya sebuah majalah Wildan sampai harus menutupinya.
Sepersekian detik Awan langsung membelalakkan matanya. Jari telunjuknya mengacung ke wajah Wildan. "Lo baca majalah apa?!", kata Awan keras.
"Lo baca majalah apa dan? Jangan-jangan! Astaga! Belum sembuh juga ya lo, baca majalah gituan", Arsy yang tak sengaja mendengar percakapan kedua sohibnya itu melebarkan kedua matanya ke arah Wildan. Wildan hanya menatap bingung kedua temannya yang sekarang sama-sama mengacungkan jari telunjuk ke wajahnya.
Suara Arsy yang cukup -sangat- kencang membuat beberapa cewek yang sedang bergosip melihat Wildan dengan tatapan curiga. Merasa di tatap, Wildan segera memberi pembelaan.
"Kagak lah! Dah tobat gue. Eh sumpah lah, gue gak baca gituan!", kata Wildan sambil mengibas-kibaskan tangannya. Khawatir karena semua cewek dikelasnya ember. Mati dia jika gurunya tau. Sedikit memicingkan matanya, cewek-cewek itu lalu melanjutkan acara menggosipnya. Wildan menghembuskan nafas lega lalu menatap nyalang kedua temannya yang sekarang pura-pura tidak menyadari raut sebal Wildan.
"Emang baca apaan sih lo?", tanya Abril penasaran mendengar percakapan Wildan dan Awan yang membuat Arsy berteriak histeris. Abril yang duduk bersama Arsy tepat di belakang meja Wildan, melirik sedikit kearah benda yang menjadi biang dari kurusuhan ini.
"Baca majalah gadis", jawab Wildan kalem setelah selesai menatap galak Awan dan Arsy.
Sontak teman-temannya membelalakkan matanya tak percaya. Untuk apa Wildan membaca majalah untuk perempuan? Mereka seakan tak percaya dengan jawaban Wildan tapi memang itu yang dibacanya.
"Ini lebih parah daripada majalah gituan", Cahyo yang daritadi diam akhirnya bicara. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Wildan yang hanya melebarkan seyuman bodohnya.
"Ngapain lo baca gituan!", Awan bergidik ngeri melihat Wildan yang hanya menyengir bodoh. Dia sedikit memundurkan tubuhnya pelan, menjauh dari Wildan.
"Gue lagi nyari artikel tentang irene-ku di majalah, ada apa kagak. Eh ternyata kagak ada", jawab Wildan yang masih saja menyengir bodoh.
Sontak semua temannya membelalakkan matanya (lagi) kaget, tak percaya dengan jawaban dari Wildan.
Arsy menatap sinis Wildan, "Sejak kapan irene jadi milik lo. Tapi betewe cantikkan juga Seulgi", kata Arsy setelah menyelesaikan sesi membelalakkan mata itu.
Awan hanya menatap tak percaya kedua fanboy yang sekarang sedang berdebat itu. Kemarin mereka memperebutkan Krystal-Krystal itu tetapi Krystal katanya dah taken. Yang Awan dengar langsung dari Wildan dan Arsy yang saat mengetahui berita itu langsung berteriak tak jelas keliling kelas. Dan berita tentang datingnya Krystal membuat mereka menjadi pendiam selama 1 minggu.
Setelah Arsy dan Wildan menyelesaikan debat ronde pertama, bel masuk berbunyi. Tepat saat bel itu berbunyi guru matematika datang. Guru yang tak pernah bolos itu sudah berada di depan pintu kelas sambil memelototi anak-anak yang masih berhilir mudik di depannya.
"Sla....mat siang anak-anak", katanya setelah meletakkan barang-barangnya di meja.
"Pagi bu...", jawab anak-anak. Wildan dan Arsy sempat kelepasan tertawa, namun mereka langsung bungkam setelah mendapat eye-contact dari guru matematika bernama There itu.
"Di sini ibu perempuan dan perempuan selalu benar. Jadi ikuti saja apa yang ibu katakan. Paham?", kata Bu tere sambil memelototi Wildan karena masih tertawa.
Setelah memposisikan wajahnya dia kembali menatap guru matematika kesayangannya itu yang masih saja setia memelototinya.
Setelah memastikan murid-muridnya semua ada di kelas, Bu tere memulai pelajaran matematika.
Wildan yang bosan dengan cerita rumus-rumus itu menoleh menatap jendela. Di lapangan, kelas sebelah sedang melakukan olah raga pagi. Tiba-tiba, dari ekor matanya dia menangkap sosok yang sudah lama dia rindukan. Dia menatap lama sosok yang sedang mengelap peluh di dahinya dengan tangan.
Sedikit tertawa pelan namun tersirat akan frustasi, Wildan menatap dalam sosok yang menjadi pikirannya beberapa tahun terakhir ini. Sosok yang dulu pernah menjadi yang mudah di jangkau, namun sekarang sekedar senyum dan sapa pun sudah tak pernah. Bukankah manusia bisa berubah?
Tiba-tiba Arsy menendang kursi Wildan. Wildan menghembuskan nafasnya berat lalu menoleh ke belakang.
"Jangan di liatin terus, gue tau kok perasaan lo", kata Arsy sambil menatap sedih sahbatnya sejak SMP ini. Arsy satu-satunya dari keempat sahabatnya yang mengetahui masalahnya ini.
Wildan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Sambil bersiap membalikkan badannya. Tapi...
Sialan.
Bu tere sudah tepat di depan meja Wildan sambil mengetuk-ngetukkan penggaris kayunya di meja.
"Tadi kamu habis ngapain Wildan", kata Bu tere mengimitidasi Wildan. Mata jelinya sudah mengetahui gerak-gerik Wildan dari ia memulai pelajaran tadi.
"Bernafas bu", jawab Wildan kalem. Tatapan nyalang dari guru nya pun tidak ampuh untuk membuat takut Wildan.
"Kamu gak nanya ibu lagi ngapain?", kata bu tere cepat.
"Enggak bu, takut di bilang kepo", jawab Wildan.
Awan dan teman-temannya -Arsy, Abril, Cahyo- sempat tertawa kecil namun dengan cepat mereka mengontrolnya karena gurunya itu sudah melayangkan tatapan maut.
"Ibu lagi jelasin materi tapi kamu malah ngobrol sama Arsy", kata bu tere.
Arsy yang sedang melihat jendela lantas menoleh, "Weh!", mendengar namanya disebut ia lalu melebarkan kedua matanya. Tak terima namanya di bawa-bawa.
"Oh gitu bu", jawaban Wildan membuat bu tere gemas.
"Rapatkan gigimu", kata bu tere cepat.
Wildan lalu segera merapatkan giginya.
"Oke fine, kamu keluar dari kelas. Sekarang!", kata guru matematika berambut pendek itu.
Wildan melangkah gontai keluar kelas. Saat membuka pintu kelas, dia melihat anak-anak kelas sebelah yang baru saja selesai olah raga sedang berjalan menuju kelasnya. Seperti semesta bermain dengan mereka. Kelas mereka yang bersebelahan mau tak mau membuat mereka sering bertemu -walau hanya sekedar berpapasan-.
Dan sepertinya semesta lagi-lagi sedang mempermainkan mereka. Wildan secara tidak sengaja bertatapan dengan salah satu dari cewek kelas sebelah. Mereka saling menatap. Lalu dengan cepat, cewek itu memutuskan tatapan mereka dan berlari menuju kelasnya.
Wildan menghembuskan nafasnya lagi. Selalu saja seperti ini. Selalu.
Scene 1, cut!
A/N:
Cerita non k-pop kedua -sebenernya tiga. Yeeey. Semoga suka ya.... Vomment nya ya.
YOU ARE READING
Wildan
Teen FictionSosok gelap dari diri Wildan ia tutupi. Masa kelam nya ia buang jauh-jauh dari pikirannya. Ini bukan hanya masalah lampau Wildan, tetapi juga Citra dan beberapa orang yang berhubungan. Cuma satu permasalahannya. Masa lalu.
