Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Perkenalan :
Filosofi kopi adalah sebuah buku yang dingkat menjadi film yang cukup terkenal di Indonesia. Film ini disutradarai sekaligus diproduseri oleh Angga Dwimas Sasongko yang menceritakan tentang salah satu kedai kopi di Jakarta yang masih dalam masa perkembangan. Kedai ini dirintis oleh dua pemuda yang diperankan oleh Rio Dewanto sebagai Jody dan Chico Jericho sebagai Ben. Filosofi Kopi lah yang pantas untuk disematkan dalam kedai kopi mereka.
Deskripsi :
Filosofi Kopi bercerita tentang seorang anak petani kopi yang bernama Ben dibesarkan oleh orang tuanya di sebuah perkebunan kopi. Ketika Ben berusia 12 tahun ia memutuskan untuk pergi meninggalkan orang tuanya hingga ia bertemu Jody dan mereka pun langsung akrab. Ben pun diasuh oleh orang tua Jody hingga dewasa. Mereka pun membangun sebuah kedai kopi yang diberi nama "Filosofi Kopi".
Suatu ketika Ben memiliki hutang yang bernilai ratusan juta dan hutangnya pun dapat mengancam kedai Filosofi Kopi kedepannya. Disaat mereka tengah kebingungan memikirkan hutangnya, tiba-tiba ada seorang pengusaha yang datang menyelamatkan kedai Filosofi Kopi. Namun, Ben tidak langsung menerima tawaran dari pengusaha tersebut tetapi dia merundingkan penawaran tersebut dengan Jody. Awalnya Ben tidak setuju dengan penawaran itu, tapi disisi lain dia memiliki hutang banyak yang belum dilunasi. Jody pun membujuk Ben untuk menerima tawaran langka itu.
Ben dan Jody mengikuti lelang biji kopi di suatu tempat dan mereka pun membelinya meskipun dengan harga yang mahal. Ketika Ben menyelesaikan eksperimen pembuatan kopi baru tersebut Ben dan teman-teman merasa kopi tersebut merupakan kopi terenak. Sejak kemunculan El membuat hati Ben runtuh karena El mengungkapkan bahwa ada kopi yang lebih enak daripada kopi baru buatan Ben. Mereka pun tak memiliki pilihan lain selain mencari kopi tiwus karena kopi tiwus sendiri yang dapat menentukan keberadaan kedai Filosofi Kopi dan juga persahabatan Ben dan Jody.
Ketika bertemu dengan Pak Seno (pembuat kopi tiwus) dan Isterinya. Mereka pun disana berbincang-bincang membicarakan tentang kopi tiwus. Ketika Ben diajak oleh Pak Seno ke kebun kopinya, Disitu Ben mulai mengingat kejadian saat ia kecil dengan ayahnya yang membuat dia bisa seperti sekarang. Setelah dia selesai dari kebun kopi, Ben, Jody dan El kembali ke Jakarta untuk melakukan peracikan kopi tiwus.
Setelah sampai di Jakarta Ben pun mulai meracik kopi tiwus sampai larut malam dan setelah dicoba ternyata rasanya benar-benar enak bahkan lebih enak dari pada kopi sebelumnya yang awalnya dikira kopi itu sudah paling enak. Setelah meracik dan ternyata enak menurut mereka bertiga, keesokan harinya kedai Filosofi Kopi ramai dipenuhi penikmat kopi salah satunya penggemar kopi yang sudah pernah mencoba kopi dari berbagai belahan dunia teman dari pengusaha yang pernah menjajanjikan uang 1 miliar jika memang kopi yang dicobanya adalah kopi terenak. Ketika penggemar kopi itu mencoba, ia langsung menyatakan bahwa kopi yang barusan ia minum adalah kopi terenak yang pernah dirasakan. Ia pun langsung memberikan uang 1 miliar tersebut, Jody pun teriak dan kaget sambil memeluk Ben. Tapi Ben terlihat tidak begitu senang ketika ia mendapatkan uang 1 miliar itu, ternyata Ben masih kepikiran dengan perkataan ayahnya bahwa dulu ia tidak boleh membuat kopi bahkan menjadi peracik atau penemu kopi pun tidak diizinkan oleh ayahnya. Ia pun memutuskan untuk tinggal di desa orang tuanya saja. Jody semakin bingung dengan pemikiran Ben padahal ia sudah mendapatkan uang 1 miliar dan dia lebih memilih untuk tinggal di desa. Jody terus membujuk Ben untuk tetap tinggal di Jakarta tetapi Ben tetap ingin tinggal di desa.
Ketika di desa, Ben bertemu dengan ayahnya dan ayahnya pun sangat senang melihat anaknya kembali. Ayahnya yang sebelumnya berprofesi sebagai petani kopi rupanya telah beralih profesi menjadi petani sayur. Saat malam hari, ia pun minta dibuatkan kopi oleh Ben dan Ia menyanggupi. Ayahnya mengatakan kepada Ben bahwa ia sudah lama tidak meminum kopi. Ben pun mengusap lengan bapaknya. Setelah itu Bapaknya pun memberikan secarik kertas pada Ben. Kertas tersebut ditemukan bapaknya digenggaman sang Ibu saat jenazahnya ditemukan. Kertas tersebut bertulisan "kalau kau tidak berhenti, berikutnya anakmu yang mati" dan inilah yang rupanya membuat sang bapak sempat membenci kopi. Alhamdulillah sang bapak dan sang anak pun berbaikan kembali.
Namun, kebahagiaan tersebut rupanya berbanding terbalik dengan kondisi Jody yang tengah meratapi nasib. Ia seakan kehilangan separuh jiwanya. Hingga satu saat, El datang ke Filosofi Kopi. Ia membuat kopi Tiwus namun rasanya tidak enak dan ternyata membuat kopi itu tidak segampang yang dilihat.
Setelah itu Jody pun menemui Ben dan mengajak Ben kembali ke Jakarta namun sayangnya, Ben menolak dengan alasan ia sudah kerasan untuk tinggal bersama dengan bapaknya. Namun demikian, sang bapak rupanyanya memiliki jalan pikiran yang berbeda.
Ayahnya mengatakan bahwa kalau Ben memang gemar dengan dunia kopi ia merestui Ben untuk melanjutkan hobinya tersebut dan mengizinkan untuk bekerja di Jakarta kembali. Ben pun memutuskan kembali ke Jakarta dan menemukan kedai Filosofi Kopi sudah dijual. Masih keheranan, tiba-tiba ada sebuah mobil modifikasi bertuliskan Filosofi Kopi. Ternyata Jody memutuskan untuk menjual kedai miliknya dan memulai kedai berjalan.
Diakhir cerita, El menulis sebuah buku berjudul Filosofi Kopi. Saat peluncuran bukunya, Ben menyempatkan diri untuk datang dan meminta bukunya ditanda tangani El dan sambil mengatakan bahwa Ben tidak hanya ingin meminta tanda tangan namun ingin lebih dekat dengan penulisnya.
Komentar :
Melalui efek visual yang memukau, penonton disuguhkan dengan adegan dan latar yang tidak biasa seperti proses pembuatan kopi, baik modern menggunakan mesin gerus maupun tradisional dengan cara ditumbuk, dan juga nuansa alam perkebunan kopi yang luas serta pondok sederhana tempat Pak Seno tinggal yang menyejukan hati. Selain itu, efek suara seperti bunyi mesin kopi, sendok, dan sisipan lagu Dongeng Secangkir Kopi yang dibuat oleh pengarang novelnya, Dee, membuat film ini semakin berwarna dan menghanyutkan.
Walau konsep ceritanya cukup sederhana, film ini mengandung makna dan nilai kehidupan yang cukup mendalam. Filosofi Kopi mengajarkan kita bahwa hanya pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati dan cintalah yang sanggup membuat hasil berbeda lebih dari yang kita bayangkan. Karena strategi dan tahapan bisa sama, tetapi pada akhirnya yang membedakan adalah ketulusan yang mengiringi pekerjaan itu, termasuk dalam hal membuat kopi.