Hangat

51 6 1
                                        

Aku mengenakan mantel berwarna hijau lumutku lalu berjalan menuju pintu utama. Air hujan masih merintik meninggalkan butiran air di jendela yang kemudian merosot jatuh ke tanah. Udara belakangan ini tak begitu baik, hujan terus menerus turun tanpa henti. Kabarnya pula, badai akan datang disekitar wilayah Timur.

Baru saja jariku menyentuh gagang pintu, suara Chandra membuatku menoleh ke asal suara.

"Mau kemana, Ris?" Tanya Chandra yang sekarang berdiri sekitar empat langkah dari pintu utama, mengenakan piyama kuning pucat yang dilapisi dengan jas tidur berwarna merah marun.

"Jalan," jawabku sambil memasukkan kedua tanganku ke kantung mantel.

Hening sebentar. Chandra sibuk merogoh kantung jas tidurnya. Aku hanya diam membisu.

"Boleh titip kopi? Aku perlu lembur," tanyanya lalu mengulurkan selembar uang seratus ribu.

Aku mengangguk lalu menerimanya. Chandra berterimakasih lalu berbalik menuju ruang kerjanya. Aku mengantongi uang seratus ribu darinya, lalu berjalan keluar rumah.

Hujan baru saja berhenti ketika aku berjalan di pelipir jalan. Aroma khas tanah setelah hujan benar-benar menusuk. Sepanjang perjalananku, orang orang mengenakan pakaian tebal dan masing masing mengeratkan pakaian itu pada tubuhnya guna menghangatkan dirinya.

Padahal menurutku, udara selalu hangat.

UNDEATHWhere stories live. Discover now