Sore yang mendung, aku sedang duduk sendirian pada balkon rumahku di lantai dua. Tetes - tetes sisa air hujan masih berjatuhan dari daun pohon yang masih basah. Dan langit yang hanya masih tertutupi oleh awan putih kehitaman. Aku menghirup udara sejuk yang lembab setelah selesai diguyur hujan tadi. Di sekelilingku begitu sunyi dan tenang, aku dapat merasakan angin menerpa wajahku. Ketenangan yang kurasakan saat ini bukanlah hal sesungguhnya yang kutunggu. Aku disini menghabiskan waktu ku hanya untuk seseorang yang sudah lama ku kagumi, biasannya ia sering berjalan di depan sana. Lebih tepatnya tidak pernah lagi. Hanya sekedar lewat, hanya sekedar berjalan, dan hanya sekedar melintas di sana. Yap! walaupun bukan sekedar di depan rumahku saja, dia juga pernah melewati hatiku yang sedang kosong, bahkan ia pernah berjalan di hati ini untuk meninggalkan jejak, tapi dia pergi melintas begitu saja setelah meninggalkan jejak rasa rindu.
Sebenarnya ini adalah salahku, aku terlalu berharap pada orang yang jelas tidak akan menyadari keberadaanku. Dan mungkin kebiasaanku untuk memperhatikannya secara diam-diam tak pernah terjadi lagi. Dia menghilang begitu saja, entah kemana.
"Betah amat bengong disini." Ucap sepupuku membuyarkan semua yang kupikirkan. "Merhatiin apaan sih emangnya?" Tanyannya sambil melihat-lihat sekeliling untuk mencari tahu.
"Sejak kapan lo disini?" Tanyaku balik.
"Yaelah udah dari tadi siang kali. Lo nya aja yang hilang." Celetuknya.
"Diem deh! gue mau masuk dulu, capek." Aku berdiri dan memasuki kamarku untuk meninggalkannya. Aku sedang malas untuk menanggapi perkataanya.
"Eh, kok gue malah di tinggal sih?!" Teriaknya. "Parista!" Dia berteriak lagi, lalu akhirnya memilih untuk mengikutiku.
Author Pov
Setelah memasuki kamar, gadis bernama Parista atau nama lengkapnya Sarah Nabila Parista duduk pada sofa yang ada di kamarnya. Ia lebih suka dipanggil Parista, menurutnya panggilan itu lebih cocok untuk dirinnya yang sangat menanti bisa berdiri di sebuah kota paling romantis sekaligus kota impiannya, kota Paris. Dia gadis yang manis, berkulit putih dan cantik. Orang yang sudah mengenalnya mengatakan dia begitu ramah, dan menurut orang yang belum mengenalnya mengatakan bahwa dia gadis sombong. Padahal mereka hanya belum mengetahui bagaimana Parista.
Parista anak yang santai dan paling menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan pikiran sesorang. Ia juga cukup keras kepala bila sudah bertentangan dengan hal yang tidak cocok dengannya.
"Monic! Bekas makanan siapa nih di meja belajar gue?" Parista memanggil sepupunnya yang bernama Monica, dan Monic baru saja memasuki kamar Parista. "Liat nih!" Parista menunjuk piring sisa makanan pada meja belajarnya tepat saat Monic sudah berdiri di hadapannya.
"Ooh itu punya gue." Balas Monic tanpa ekspresi bersalah.
"Cepet sana bawa ke dapur." Suruh Parista sambil memberikan piring kotor itu pada Monic dengan mendorongnya pelan agar Monic segera keluar. "Dan inget ya, lo gak boleh lagi masuk kamar gue seenaknya kayak hari ini!" Perintah Parista. Ia dengan segera menutup pintu kamarnya.
"Baru sekali jugaan." Balas Monic yang juga ikutan kesal. Ia kemudian menuruni tangga dan menuju ke dapur di lantai satu.
Mereka memang jarang akur. Parista tidak suka apabila Monic ikut campur dalam urusan pribadinnya, jadi ia bersikap cuek pada Monic yang selalu penasaran tentang hidupnya.
Parista kembali duduk di sofa empuknya sambil menonton drama kesukaannya di televisi. Sesekali ia mengecek i-phone nya untuk melihat adanya notif dari grup line atau bbm, namun belum ada satupun chat dari sahabat-sahabatnya. Setelah lima menit menunggu, baru ada notifikasi line yang muncul dari teman Parista.
YOU ARE READING
At Least
Teen FictionSaatnya, kamu harus mensyukuri apa yang terjadi hari ini. Walaupun yang kau tunggu belum pernah datang. Walaupun yang kau perjuangkan tak pernah menghiraukan dengan apa yang kau perjuangkan. Rasakan saja. Kelak, dia yang kau cintai akan tahu, keras...
