Prolog

184 7 0
                                        

24 April 2016

Dhavy masih sibuk dengan tumpukan buku yang harus dibacanya. Ya, walaupun hari libur Ia masih harus belajar untuk ujiannya. Dhavy mendapat ujian susulan karena Ia sudah 5 hari izin dari sekolah untuk keperluan keluarganya yang sangat merepotkan pikirnya. Bagaimana tidak? Hanya rapat keluarga tentang pembagian harta warisan kakeknya, Ia juga harus ikut dalam hal ini. Walaupun begitu, Dhavy memang lah cucu lelaki satu satunya dikeluarga kakek dari ibunya itu. Jadi mau tak mau ia harus hadir, walaupun keberadaannya dipentingkan tapi ia merasa tak begitu penting disana. Hingga ia harus melupakan kalau Ia harus ujian semester genap, untuk kenaikan kelas. Dhavy memang anak yang tidak terlalu pintar dalam bidang akademis, nilai rapornya pun hanya memenuhi standar rata-rata, tapi jangan heran dengan segudang prestasinya dalam bermain piano. Jadi, walaupun tak pernah juara kelas, Dhavy tetap terkenal di lingkungan sekolahnya karena prestasi yang dimulainya sejak sekolah dasar.
"Dhav, ajarin pr gue nih, pusing banget Dhav"rengek Indie, adik satu satunya Dhavy.
"Ya entarlah, lu pikir gue gak pusing, ujian susulannya 10 mata pelajaran sekaligus! Pusing dah gue. Nanti aja kalo masalah pr, pulang gue ujian aja."
"What the? 10? Gue gegar otak langsung tuh, haha. Ganbatte Dhavy-san!"
"Yaiyalah pulang pulang muka gue kusut nih pasti. In, punya pulpen? Pinjem dong"
"Ah enak aja, lu anak SMA macem apa? Pulpen aja gak punya!"
"Udah abis kemaren, pinjem dong ah pelit banget lu" Dhavy langsung saj mengambil pulpen yang ada ditangan Indie
Dengan wajah penuh kekesalan, Indie tetap tak mau kalah " Dhavy lu ya, ah pulpen yang itu baru beliii"
"Biarin deh In, beli lagi lu sana"
"Lu ngeselin banget yaa." Dengan nada teriak teriak yang bisa memecahkan keheningan rumah bahkan satu komplek karena lingkungan komplek yang lumayan sepi seperti tak berpenghuni.
Sementara Dhavy sudah berada di rak sepatu.
Diam-diam Indie berjalan dan udah berdiri disebelah kakaknya yang sedang mengikat tali sepatunya itu.
"Dhav!" Secepat kilat Dhavy langsung terlonjak kaget saat tiba tiba Indie menyebut namanya.
"Apaan sih lu In, gak ada kerjaan apa? Nyapu rumah kek bantuin Mama, udah sana ah!"
"Ih Dhav beliin siomay dong dideket sekolah lu itu yaa, sebagai ganti lu pinjem pulpen gue, ya Dhav yaa?" Dengan wajah yang memelas Indie terus memohon kepada Dhavy yang notabene adalah kakaknya sendiri, walapun bisa dibilang kelewat manja.
"Yaudah iya gue beliin nanti"
"Serius?? Aaah makasiiih" sambil memeluk Dhavy dari belakang dengan kesusahan karena terhalang tas Dhavy yang agak besar. Tapi tetap saja, Indie memeluknya seperti boneka saja.
"Udah lepasin, kena virus H1N1 gue ntar"sambil menjauhkan tubuh Indie, dengan tangannya Ia mengibaskan tangannya.
"Kampret lu ya, jadi gue lu anggep babi gitu?"
"Yaiyalaah, hahaha. Lucu tau, ngok ngok ngok" Dhavy terus mengejek adiknya terus begitu, Indie juga tak mau kalah dan berbalas-balasan terus ejekan mereka dan siapa yang menang? Tentu saja Dhavy. Dan siapa yang kalah? Indie pastinya. Apa yang terjadi? Indie menangis dan mengadu pada Mama, dan akhirnya Dhavy pergi ke sekolah tanpa pamit, karena takut dimarahi Mama.

-----------------------------
Dengan malas Dhavy membuka pintu depan rumahnya
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Indie pun hanya sekedar menjawab salam saja tidak lebih. Tidak seperti biasanya yang selalu meributkan hal kecil sekalipun. Wajahnya masih murung 'mungkin Ia masih marah dengan kejadian tadi pagi' pikirnya. Sebentar lagi pasti udah gak marah ni anak, liat aja. 1..2..3..
"In nih pesenan siomay lu, gue rugi enam ribu, pulpen lu cuma dua ribu siomay nya lapan ribu."
"Ha?" Masih dengan ekspresi bingung "Siomay? Manaaa?" Lalu suara menggelegarnya pun menyeruak dan memenuhi isi rumah (lagi)
'kan bener gue'
"Ini ambil di meja"
"Makasih Dhavy" sekali lagi Indie memeluknya dengan begitu erat, saking senangnya.
Dan sekali lagi kegelisahan dihati Dhavy sudah mencair karena Indie tak marah lagi padanya.
Indie langsung berlari ke dapur mencari piring dan sendok di lemari yang penuh dengan piring dan gelas koleksi Mama.
Indie mencari-cari piring miliknya, yang khusus dibelinya waktu Ia liburan ke Jepang bersama Mamanya 2 bulan yang lalu. Piring berbahan melamine serta gambar Mizayono Kaori sedang memainkan biolanya dalam anime 'Shigatsu wa kimi no uso' serta corak bunga sakura di bagian tepi piring yang berbentuk bulat, pasti hanya satu yang seperti itu dirumah. Indie mengambilnya dengan hati-hati, walaupun berbahan melamine, piring ini berat juga. Saat akan kembali ke ruang tengah, Ia merasa tidak nyaman dengan rambutnya, dan ketika Ia memegang kepalanya..Indie menjerit sekuatnya.
"AAAAA DHAVY ADA KECOA, AAAAH" piring favoritnya itu pun dicampakkannya ke atas, dan teori Newton benar adanya, piring itu jatuh tepat di atas kepala Indie, dan Indie pun jatuh ke lantai bersamaan dengan piringnya itu.
Mendengar suara aneh yang ditimbulkan adiknya itu, Dhavy langsung turun kebawah dan mendapati Indie sudah tergeletak tak berdaya.
Dhavy yang panik langsung mengangkatnya ke sofa diruang tengah.
"Yaelah In, In cuma mau makan siomay aja, sampe pingsan." Dhavy hanya mengehela nafas panjang sambil menunggu adiknya sadar dari teparnya.
Sementara itu...
Indie masih pingsan, dan Indie sendiri menatap dirinya sendiri sedang terkulai lemas.
"Loh? Itu gue? Trus yang ini? Oh mungkin gue lagi dialam mimpi kali ya? Hihi" Indie membayangkan dirinya seperti di anime anime yang sering ditontonnya.
"Ah" kini Ia memegangi kepalanya karena Ia merasa pusing mengingat hal yang pernah terjadi di dunia. "Oh iya ya, tadi gue ketimpuk piring? Lama banget ya gue sadarnya. Atau jangan jangan gue ....aaah enggak lucu ah masa mati gara-gara ketiban piring enggak enggak. Itu cowo yang duduk nungguin gue siapa ya? Ganteng banget ih. Pacar gue? Eh gue kan jones. Siapa ya kira-kira? Aduh" Indie terus memegangi sambil memijati kepalanya yang kini semakin pusing saja setiap kali Ia kembali mengingat apa yang terjadi.
Beberapa menit kemudian bayangan Indie di alam mimpinya mulai lenyap, dan bergegas untuk kembali ke dunia nyata yang seharusnya.
Perlahan Indie membuka matanya, sambil mengucek sedikit dengan tangannya.
"In, In udah sadar lu?" Wajah tampan yang ada disamping Indie saat itu, di mimpinya itu, menunjukkan senyum harunya, dan mulai memeluk Indie dengan wajah yang kebingungan.
"Eh tunggu lu siapa?" Tanya Indie.

To be continued
------------------------------
Hello readers! For the first time nulis di wattpad nih hehe. Gomenne kalo masih ada typo dan ceritanya yang ngelantur berhubung masih amatiran. Vote & comment ya buat newbie writer ini!
Buat spoiler, Indie bakalan jumpa sama seseorang yang akan ngingetin dia ke masa lalunya.

See you on next part!

Time Machine from HeavenStories to obsess over. Discover now