Sinar mentari pagi menerobos di balik tirai besar, yang membuat cahaya itu masuk dan menyinari wajah cantik sang perempuan yang masih setia bergelung di selimut hangatnya.
Semakin lama cahaya itupun semakin menerang yang membuat wanita itu terbangun dari tidur pulasnya.
Saat ia membuka matanya hal pertama yang ia lihat adalah foto seorang lelaki tampan yang sedang membaca buku.
Lelaki tampan itulah yang membuat perempuan itu jatuh hati saat pandangan pertama.
Lelaki itu, lelaki yang sudah disukainya sejak ia masih duduk dibangku SMP kelas 1, hingga sekarang ia yang baru duduk di bangku SMA kelas 2.
Sudah empat tahun lebih ia menyukai lelaki tampan itu, selama itu pula ia selalu menjadi SECRET ADMIRER lelaki tampan itu.
Banyak sekali foto" lelaki tampan itu yang ia simpan, dan dengan berbagai macam gaya dari mulai lelaki tampan itu yang sedang membaca buku, mendengarkan lagu, bermain basket, dan sedang duduk di cafe.
****
Saat aku masih asik memandangi foto lelaki tampan itu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Non bangun sudah pagi",
Kata bi ginah.
"Iya bi nah aku udah bangun kok", jawabku dengan suara agak keras.
"Yasudah kalau begitu non mandi ya habis itu sarapan, bi nah sudah siapkan sarapannya di meja makan", kata bi inah.
"Iya bi makasih", jawabku.
Bi ginah adalah orang yang sudah merawatku sedari kecil.
Bi ginah lah yang sudah menggantikan sosok almarhumah mamah ku yang sudah meninggal saat aku berumur 3 tahun.
Mamah ku meninggal akibat kecelakaan mobil disaat ia akan pergi ke panti asuhan yang ia dirikan, tapi saat di perjalanan mobil yang di kemudikan mamah ku hilang kendali, akhirnya mobil itu pun menabrak pembatas jalan dan akhirnya terguling hingga hancur dan terbakar.
Menurut polisi kecelakaan itu adalah kecelakaan yang sudah di rencanakan, dan menurut papah pelakunya adalah lawan bisnis papah yang kalah saing dengan papah.
Semenjak kejadian itu papah menjadi pribadi yang pendiam dan juga terkesan dingin.
Padahal sebelum kejadian itu, papah adalah pribadi yang sangat ceria dan juga lucu.
Tapi semua itu sudah berubah, bahkan semenjak mamah meninggal, papah jadi jarang pulang kerumah dan juga jarang menghabiskan waktu bersamaku. Terkadang aku merasa iri dengan teman"ku yang selalu diperhatikan orang tua nya, yang selalu mempunyai banyak waktu bersama orang tua nya. Sedangkan aku? Untuk bicara dengan papah saja sangat susah apalagi menghabiskan waktu bersama.
Tak terasa bulir" air mata sudah menjatuhi pipiku. Dadaku serasa ditimpa dengan batu seberat 1 ton. Sesak itu yang kurasakan saat mengingat itu semua, untung saja tuhan masih berbaik hati kepadaku dengan mengirimkan seorang ibu pengganti untukku yaitu bi ginah. Orang yang masih sangat perduli dan juga sayang kepadaku, kalau tidak ada bi ginah aku tidak tau siapa yang akan memperhatikanku.
Tiba" pintu kamar ku di ketuk lagi.
"Non sudah mandi belum, kalo sudah cepat turun kebawah dan sarapan, takutnya nanti non telat", kata bi nah
"Ah iya bi nah aku mandi dulu",
Jawabku sambil menghapus air mata dan langsung berlari menuju kamar mandi.
****
Setelah selesai mandi dan juga memakai seragam aku langsung turun ke bawah untuk sarapan.
Saat aku sudah di meja makan aku tidak melihat papah.
"Papah udah berangkat bi?",
Tanyaku saat bi nah membawakan susu untukku.
"Iya non tadi tuan berangkat pagi sekali", jawab bi inah.
"Selalu seperti itu", jawabku sambil menunduk agar air mata yang mulai menjatuh ke pipi ku tidak terlihat oleh bi nah.
"Yang sabar ya non", kata bi nah yang ternyata melihat air mata ku.
"Kan masih ada bi nah non, makan sma bi nah aja ya", kata bi inah dengan ceria, untuk menghiburku.
"Iya bi, yaudah mari makan heheh", jawabku sambil menghapus air mata dan berusaha tertawa, meski dipaksakan.
Setelah selesai sarapan aku pun langsung berangkat ke sekolah diantar sama mang asep.
Setelah sampai aku langsung turun dari mobil.
"Makasih mang asep",
Kataku sambil tersenyum.
"Sama-sama non, oh iya nanti mamang jemput kan?",
Tanya mang asep.
"Iya mang nanti aku sms mamang aja ya".
"Siap non", jawab mang asep sambil memberi hormat ala tentara.
"Hahahah, yaudah aku masuk dulu mang", kataku dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari mang asep.
****
Di sepanjang perjalanan menuju kelas banyak sekali yang menyapaku, dan ku balas sapaan lagi dan dengan senyuman, walau ku yakin bahwa senyum itu adalah senyum paksaan, untuk menutupi kesedihanku.
Tiba" ada yang menepuk pundakku, aku pun langsung menoleh dan ternyata dia adalah sahabat baikku dina.
"Fake smile", katanya dengan senyum yang menurutku itu adalah senyum iba.
"Enggak kok", kataku dan mencoba mengeluarkan senyum termanisku, tapi kurasa itu sia-sia.
"Gua kenal lu udah lama moti, lu kenapa apa ada masalah?", tanya dina dengan panggilan sayang kami berdua.
Ngomong" dina memang sudah tau apa yang terjadi dalam keluargaku, karna mamahnya adalah sahabat dekat almarhumah mamahku, dan juga dina adalah sahabatku dari kecil, Jadi dia sangat tau apa yang sedang terjadi denganku.
Moti-poti adalah panggilan sayang kami berdua, moti panggilan untukku dan poti untuk dina.
"Gak ada kok, yaudah kita ke kelas yuk", ajakku sambil mengalihkan pembicaraan, yang sial nya diketahui oleh dina.
"Mengalihkan pembicaraan", jawabnya sambil memasang wajah kesal.
"Yaudah yuk", ajak dina sambil menarik tanganku
****
Hai guys gua mau curcol nih, ini kan cerita pertama gua jdi gua mohon maaf kalo cerita nya gaje banget gitu, maklumin lah ya saya masih baru jadi tolong minta sarannya dan bantuannya ya wkwkw.
Jangan lupa vote dan juga comment ya guys....
Thanks •,,~
Salam Poti dan Moti
YOU ARE READING
Secret Admirer
Teen FictionAku selalu memperhatikanmu dari jauh Aku selalu ada si dekatmu walau tak pernah terlihat olehmu Aku selalu tahu apa yang kau rasakan dan kau alami Aku akan terus seperti ini mengagumimu, menjagamu, dan membuatmu bahagia tanpa kau sadari Aku akan ter...
