"Ian, cepat bangun! Kau lupa ini hari apa!?"
Teriakan ibu membangunkanku, dengan malas aku hanya menjawab iya, dan kembali tidur, tapi sesaat aku melirik ke arah jam dinding, itu menunjukkan 05.00, astaga!! Aku lupa! Inikan hari pertamaku sekolah! Segera aku berlari mengambil handuk dan segera mandi.
"Ibu, kenapa ibu tidak membangunkanku lebih awal." Tanyaku terburu-buru
"Ngomong tuh sama tembok." Jawab ibuku singkat.
Aku langsung mandi, berpakaian dan pamit tanpa sarapan, jantungku berdegup kencang, hatiku amat senang, membayangkan sekolah baruku, dan tentu saja teman baru. Sampailah aku di depan gerbang sekolahku, tanpa basa-basi aku langsung masuk, dan mencari dimana kelasku berada, saat itu seseorang menepuk bahuku dan berkata.
"Ian? Lu Ian kan? Lu sekolah disini juga?" Tanya orang itu
Aku memandangnya, dengan teliti aku mengingat siapa orang ini, tiba-tiba otakku mengingat akan kejadian yang aku benci, kejadian yang amat kelam, yang tak akan pernah kulupakan. Dia adalah orang yang memulai kejadian itu, bahkan saat aku melihat wajahnya aku berharap petir menyambar saat itu juga, ia adalah Rio seorang pembully dan pernah membullyku dulu, tak kusangka dia juga sekolah disini.
"Eh Rio? Lu juga disini?" Tanyaku
"Kayak yang lu liat, iyalah gue sekolah disini." Jawabnya
"Oh gitu, yaudah ya gue kekelas duluan." Balasku berusaha untuk menghindar.
"Eh tunggu, emang lu kelas mana?" Tanyanya
"X.I kenapa? Emang sekelas"
"Nggak, cuma nanya, seenggaknya gue tau dimana mainan gue berada." Balasnya dengan tersenyum keji.
"Yaudahlah, gua duluan" Aku langsung pergi meninggalkannya.
Sial! Mengapa dia berada di sekolah ini? Apa dia sengaja agar bisa membullyku lagi? Ah ini menyebalkan, amat sangat menyebalkan. Pikiranku meracau kemana-mana, aku sangat kesal, aku ingin mati saat itu juga, yah setidaknya dia tidak sekelas denganku, dan mungkin aku bisa mencari teman baru yang kuat, yang bisa melindungiku hahaha.
Aku masuk kedalam kelasku, ternyata masih sepi hanya beberapa orang yang baru datang, itupun sibuk dengan diri mereka sendiri. Aku memilih tempat duduk di barisan ke-4 dari pintu dan kedua dari depan, aku memilih barisan itu karena dibarisan lain sudah ditempati, aku terkenal pendiam, aku tidak akan memulai pembicaraan sebelum orang lain bicara, aku juga tidak suka memperkenalkan diri langsng kepada orang lain.
Menit demi menit berlalu, siswa demi siswa pun masuk kekelas, semua memilih tempat duduk yang menurut mereka cocok, dan duduk dengan teman yang sudah mereka kenal, sedangkan aku? Syukurlah tidak ada yang mau duduk denganku, dan syukurlah tidak ada yang kukenal disini, tapi didalam, pikiranku meracau, tentu saja tidak ada yang mau duduk denganku, aku ini hanya laki-laki lemah dan tidak bisa apa-apa, ah sudahlah ini akan berlalu juga nantinya. Beberapa menit kemudian guru pun masuk dan memperkenalkan dirinya.
"Ya anak-anak, Selamat pagi." Sapanya
"Pagi pak." Jawab semua siswa
"Sebelum mulai pelajaran, bapak ingin memperkenalkan diri bapak dulu, nama bapak Irfan Fuad Oktapratama, panggil bapak sesuka kalian, asal sopan. Bapak disini selaku wali kelas sekaligus guru Matematika kalian. Bapak bertembat tinggal di ........ Nah, sekarang coba bapak mau kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing, dimulai dari kamu yang dekat pintu." Jelasnya panjang lebar.
Para siswa yang ditunjuk langsung maju kedepan, memperkenalkan dirinya dan disuguhi beberapa pertanyaan klasik. Sekarang tibalah giliranku, kulangkahkan kakiku, berdiri didepan kelas dan mulai memperkenalkan diri.
"Selamat pagi. Nama saya Alfian Kanesis, umur 15 tahun, saya turunan luar jadi namanya begitu, hehe" Jelasku dengan tersenyum.
"Oke Ian, sama seperti yang lain, apa alasan kamu memilih sekolah ini?" Tanya Pak Irfan
Deg! Jantungku serasa tertusuk, keringatku mengalir deras, senyumku pudar, tubuhku terasa lemas mendengar pertanyaan itu, aku tidak kuat, hatiku seperti meronta, lagi-lagi aku mengingat kejadian itu.
"Ian kamu kok diem?" Tanya Pak Irfan heran
"Menghindar... aku ingin menghindar" Jawabku tanpa sadar.
"Menghindar dari apa?" Tanya Pak Irfan lagi
"Menghindar... aku ingin menghindar." Aku menjawab dengan jawaban yang sama
"Ian? Kamu nggak apa-apa? Kok keringetan gitu?"
Nafasku terasa sesak, palaku mulai pusing, dan air mataku tak sengaja mengalir.
"Ian cukup, sekarang duduklah, tenangkan dirimu. Bapak gak akan tanya-tanya lagi"
Aku tersadar, aku menoleh ke pak Irfan, ia memberi sinyal untuk mengusap air mataku, aku mengusapnya dan kembali ke tempat duduk, aku melihat ke sekelilingku, mereka mulai melihat ke arahku, membicarakanku dengan wajahnya yang terlihat jijik, dan aku hanya duduk, berharap semua ini hanya mimpi, karena aku tidak mau kejadian itu terulang lagi.
To Be Continued.....
YOU ARE READING
A Little Piece of Pain
Non-FictionDisaat orang hanya duduk dan menangis, apa kau tau apa yang mereka rasakan? Yah, setidaknya aku tau, aku tau apa yang kurasakan saat itu.
