#Impianku_part 1

19 2 0
                                        


"ayah ayah, tadi aku dibuatkan budhe tarti kue coklat kesukaanku rasanya enak banget. Ayah harus coba kalau kita kesana lagi"

"apa enaknya kue coklat?, enakan juga keju iya kan bunda?"

"emmm,.. coklat dan keju kayaknya sama-sama enak deh" bu ani mencoba menengai perdebatan kecil antara kakak dan adik itu dengan tersenyum.

"ahh iya bun betul banget apa lagi kalau dicampur jadi satu.. emm ayah jadi pengen"jawab sang ayah mengikuti bu ani untuk menengai perdebatan kecil anak-anak mereka.

"aa ngga mau enakan juga coklat kemana-mana, apa tuh keju? Warnanya aja kuning ngga menarik"

Perdebatan antara kakak dan adik itu masih saja berlanjut sampai tangan mungil si adik menarik tangan ayahnya yang sedang menyetir

"awas li jangan mengganggu ayah sedang menyetir"

"huaa.. hiks ayah kakak ngatain kalau coklat itu kayak tanah, kakak jahat ayah hiks hiks"
Tarikan tangannya pada sang ayah masih berlanjut hingga mengakibatkan mobil oleng dan menabrak pohon besar.

"aaaaaaa"

CIIT.... BRAKKKKKKKK...

**********
"kak, maaf kan prilly. Prilly ngga bisa jadi orang yang baik gara-gara prilly kakak jadi kayak gini dan kita ngga punya orang tua lagi hiks hiks.." sambil mengusap rambut sang kakak yang tidur dipangkuannya dengan air mata yang berjatuhan mengenai pipi kakaknya.

"besok prilly bakal masuk ajaran baru kekelas XI dan prilly bakal punya banyak temen baru"

"kakak sekarang tidur ya, ini udah malam" ucap prilly sambil mengusap air mata nya dan mengusap pipi sang kakak yang tadi terkena air matanya.

Aku memindahkan kepala kakakku yang semula berada dipangkuannya ke bantal, sebelum aku benar-benar berdiri tangan kak rafli memegang erat pergelangan tanganku.

"ada apa?" tanyaku lembut sambil sebelah tangan yang tidak dipegangnya mengusap lembut rambutnya.

"ti..tidurlah dengan kakak, kakak tidak mau kehilangan lagi" jawab kak rafli dengan tangan dingin dan sorot mata yang memancarkan ketakutan.

"iya aku bakal tidur sama kakak, sekarang kakak tenang ya" jawabku dengan sesegera mungkin berbaring disebelahnya dengan tanganku yang memeluknya dan dibalas kak rafli dengan pelukan erat.

Untuk kesekian kalinya aku mendengar kak rafli mengucapkan "tidak mau kehilangan lagi" yang membuat dadaku terasa nyeri bahkan sesak yang teramat dalam. Aku sadar semua itu karena aku, andai saja waktu dapat diulang aku tidak akan menarik tangan ayah waktu itu dan kata pepatah yang cocok untukku "penyesalan selalu datang terlambat".

ImpiankuWhere stories live. Discover now