Nada Kehidupan

11 0 0
                                        

Perasaan apa ini, mengapa begitu menyesakan dan menyakitkan. Dulu, ya dulu perasaan ini sangat indah sehingga dia ingin mengulanginya. Menunggu kehadiran teman yang dulu pernah dicintai. Perasan yang harus membuat dirinya buta terhadap apa yang ada. Mengharuskan kelamnya langit malam tanpa bintang menghisap seluruh energinya.

Esok yang murung dan menghitam. Darah, darah mengucur dari kepala yang terhantam benda tumpul itu. Mengapa ia harus menyelamatkan perempuan itu dari kepungan preman. Mengapa ia berlari mendekatinya ketika ia hanya ingin membuat dirinya semakin jatuh ke dalam? Mengapa? Dia berteriak frustasi, yang membuat lukanya semakin terbuka.

Darah merembas dari kain kasa putih yang membalut luka di kepalanya. Ia semakin mengerang kesakitan menjambak rambut hitam kelam yang tidak terbebat. Siapa yang mau perduli dengan pemuda berandalan sepertinya? Siapa yang mau repot-repot menyelamatkannya waktu itu? Ia ingin mati di tempat itu juga. Gorong-gorong tempat ia ditemukan sulit untuk melewatinya.

Para dokter dan perawat segera berlari memasuki kamarnya. Menyuntikkan obat penenang langsung menembus kulitnya. Teriakan memilukan dan tangis mulai memudar setelah obat itu bereaksi.

Tuhan sungguh jahat, dalam keadaan terpuruknya, ia bertemu dengan kedua orang yang membuat hidupnya semakin rusak. Dua orang yang membuat dirinya menjadi berandalan. Apa kau bilang percaya dengan Tuhan? Benarkah Ia ada? jika memang Ia benar ada, tidak mungkin Ia menghukum pemuda itu.

Nafasnya terputus-putus, matanya memutih dan tubuhnya menggigil hebat. Ia merasakan sakit itu lagi, sakit yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga. Andai ada pisau atau benda tajam, ia akan memakai benda itu sekarang juga. Siapa yang perduli? Tidak ada yang mau perduli dengan berandalan tengik seperti dirinya. Orang tuanya sudah menganggap dia keluar dari daftar anggota keluarga. Sanak saudara, heh ! Mereka hanya menggerus harta satu sama lain, dia benci itu. Teman, ia sudah melupakan frasa itu setelah kejadian yang akan selalu dia ingat hingga kematian menjemput. Ya, dia akan balas dendam pada kedua orang yang telah mempermainkannya.

Pintu bercat putih berderik. Memunculkan wanita dewasa yang wajahnya masih layak disebut remaja dengan berkerudung ungu dan gamis ungu pula dengan hiasan payet melingkar dipinggangnya. Ia membawa buah-buahan untuk menjenguk pemuda yang kini sedang tertidur seperti anak kecil. Mengulumkan senyum lalu meletakkan keranjang buah di atas meja dekat tempat tidur. Wajahnya tampak sendu. Memikirkan pemuda yang dulu sangat ceria, namun kini lihatlah ia tampak kurus wajah tanpa jerawatnya setirus orang tua berumur lima puluh tahun.

"Kasihan kau Rei." Ucapnya mengelus rambut hitamnya dengan lembut. Tatapan sayang di layangkan kepada kain kasa putih yang telah diganti oleh dokter dan suster. Karena sebelum ia kemari, dokter sudah memberitahukan jika pasiennya kambuh lagi. Dan menjambak rambut hingga darahnya merembes keluar menimbulkan warna merah dibagian belakang kepala.

Dadanya naik turun dengan teratur. Menandakan bahwa pemuda itu cukup tenang saat ini. Banyak perban melilit tubuhnya. Semakin luluhlah pertahanan gadis tegar itu. Genangan air mata terlihat dibawah kelopak mata indahnya. Namun kemudian cepat-cepat ia usap agar tidak dianggap lemah oleh pemuda di depannya jika ia terbangun nanti.

Sreett

Lengannya ditahan ketika ia akan pergi.

"Jangan pergi,"

*

*

Tempat ini putih bersih mengkilau. Tidak ada apa pun yang terlihat di segala penjuru. Hanya tempat luas berwarna putih tanpa diketahui dimana tepi-tepinya. Sungguh jika ia berada di penjara khusus, ini adalah penjara yang paling canggih. Ia hanya sendiri, duduk memeluk lututnya tanpa ingin mencari jalan keluar.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 03, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Nada KehidupanWhere stories live. Discover now