Sebelumnya, Ujan mo rekomendasi cerita nih. Judulnya Under The Sunset by flilocx deh. Itu baguss, Ujan udah baca soalnya, genrenya Teenfict jadi cocok buat kalian yg suka genre itu^^
Genre
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
; Songfict Playlist ; Jangan Takut Gendut by Dhyo Haw
Cafe Eins siang ini terlihat cukup ramai. Seluruh tempat yang tersedia hampir di penuhi pengunjung yang datang makan siang, maupun sekedar kongkow- kongkow dengan teman. Disisi lain, tepat di pojok ruangan kafe, sepasang muda-mudi terlihat sibuk berdebat -tepatnya si lelaki yang sedari tadi berbicara.
"Nen, udah kalii makan aja, gue traktir inih." Rengga berusaha membujuk gadis di depannya.
Sedangkan Neni, dia hanya menggeleng dan menggembungkan pipinya yang seperti bakpau. Tingkahnya membuat Rengga gemas dan kesal di saat bersamaan. Gadis itu duduk dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menyangga kepala. Sedari tadi Neni menolak untuk memakan makanan yang sudah Rengga pesan hanya untuk alasan -yang menurut lelaki itu adalah hal konyol- . Tapi lihat saja sekarang, sedari tadi pandangannya tidak lepas dari satu porsi besar Spagethi, satu porsi Tanderloin cheese steak, dan segelas juice alpukat yang tersedia di meja dengan sesekali meneguk ludahnya. Rengga menghela nafas lelah. Dia menegakkan punggung yang bersandar di kursi lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Neni.
"Kalo suka makan aja. Ngga usah di tahan." Neni mengalihkan pandangan ke arah Rengga, "gue mau diet Reng... dieeettt."
"Ngapain diet sih? Terima nasib aja body lo emang segitu," Rengga menjawab cuek lalu menegakkan tubuhnya dan menyesap ekspressonya yang mulai mendingin dengan pelan, "jangan takut terlihat gendut. Buang pikiran itu ke laut." Sambungnya setelah dua tegukkan ekspresso meluncur ke dalam perut.
Neny berdecak, dia menegakkan tubuhnya lalu menendang kaki Rengga yang ada di kolong meja, membuat lelaki itu mengaduh pelan. "Aww! Eh Gajah! Sakiiit tauu."
Rengga mengelus tulang keringnya yang ditendang Neni lalu mengalihkan pandangan ke arah gadis itu dengan melirik sengit. Tetapi yang dilihatnya justru membuat Rengga terdiam sekaligus menyesal. Lihat saja raut muka Neni yang kini memerah pun bibirnya yang maju dua senti. Alarm bahaya berdering di kepalanya. Tepat saat Rengga menutup mata pasrah, suara Neni yang membahana terdengar.
"Huuuuaaaaa. Kan! Lo juga manggil gue gajah. Huaaaaaa Bendi juga bilang gue gajah, hiks.. lo kan tau gue naksir dia dari SMP!! hiksss... Harusnya lo dukung gue doong!! Huuueeee..." Neni meraung keras, membuat seluruh pengunjung kaget dan melihat kearah mereka. Pun Rengga yang kini salah tingkah serta panik saat Neni menangis dan pandangan menuduh yang di layangkan seluruh pengunjung kafe kearahnya. "Eeh ssst iya Nen,, udah diemm.. jangan nagis. Pppsssst." Rengga berusaha menenangkan Neni yang masih setia dengan raungannya. Gadis itu bahkan sudah menelungkupkan kepalanya di meja.
"Oke oke. Terus lo maunya apa?" Rengga berujar pasrah dengan tangan kanan yang mengelus pelan kepala Neni, berusaha membujuknya. Benar saja, tidak membutuhkan waktu lama, Neni mengangkat kepala meski jejak air mata masih terlihat di pipinya. "Pokoknya gue pengin diet, biar Bendi mau sama gue. Lagian gue juga tiap ke mall ngiler liat high heels yang bagus-bagus itu, tapi ni kaki ngga muat. Gue.. hiks... hiks ... gue emang gajah huaaaaa bener kata lo, huaaa gue gajah! Huaaaaa.."