PROLOG

140 5 0
                                        

Suara seseorang yang kehabisan nafas terdengar dari dalam sebuah lumbung padi. Baju yang dikenakannya basah, rambutnya tak karuan, dan terdapat bercak darah dibagian pelipis pemuda itu. Deru nafasnya masih belum teratur ketika ia mulai dikejar oleh sekelompok Charon, si pemberantas kekuatan.

Gemuruh halilintar dan gelapnya awan diluar sana menambah gelapnya seisi dalam lumbung padi. Si Pemuda itu duduk terkapar diatas jerami yang kini mulai basah akibat terkena bajunya.

"Dasar Charon sialan!" runtuk si Pemuda.

"Tidak ada untungnya kita meraung-raung disini. Yang seharusnya kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar kita keluar dari sini, dan menghindari Charon tersebut." Seseorang pemuda lainnya muncul dari balik jerami yang berada disudut lumbung.

"Kikira Charon berbentuk seperti manusia pada umumnya, ternyata mereka sama seperti para alien." Ada lagi Pemuda lainnya yang mulai berdiri dari duduknya didepan pintu lumbung.

"Apakah para Charon itu sudah menghilang?" tanya si Pemuda pertama, Adrastea.

"Aku tak tau, dan tak mau tau" jawab si Pemuda yang tadi duduk dipintu lumbung, Ganymede.

"Sebaiknya kau cek saja keluar, Gany" ujar Pemuda yang satu lagi, Elara.

"Kau mencari ribut, ha? Sekali kita membuka pintu, tak menutup kemungkinan kita akan tamat!" tandas Gany.

"Aaah, kalian ini! Sudahlah, tak usah bertengkar. Pelipisku semakin sakit" pekik Adras.

"Memangnya pelipismu kenapa?" tanya El yang segera naik keatas jerami dan menghampiri Adras. "Sini aku perbaiki."

El menyatukan kedua tangannya, dan memejamkan matanya sambil mengucapkan kalimat yang tidak bisa didengar sedikit pun. Ia mulai menggosok-gosokkan tangannya, dan sedetik kemudian cahaya biru metalik keluar dari kedua telapak tangannya. Ia menyentuh pelipis Adras yang berdarah, dan cahaya itu mulai bereaksi.

"Sudah." El berdiri dan segera turun dari jerami. "Jadi, untuk selanjutnya apa yang akan kita lakukan? Diam saja disini untuk beberapa saat?"

Adras yang sudah merasa membaik, menegakkan posisi duduknya, dan menyentuh pelipisnya yang sekarang hanya menjadi segores luka kecil. "Dengan sangat terpaksa kita diam disini saja."

"Berapa lama?" tanya Gany yang memainkan jerami.

Tidak ada yang menjawab, semuanya berpikir untuk mencari jalan keluar dan menghindari para Charon. Dan berpikir untuk menyelesaikan misi-misi yang diperintahkan dengan cepat.

"Bagaimana dengan misi kita? Menurut kalian apakah kita akan bisa dan berha...."

"Tentu saja kita pasti bisa dan berhasil, Gany. Jangan berpikir kita tidak akan berhasil" tandas El.

"Tapi dengan bertaruh nyawa kita sendiri adalah hal yang berat, terutama bagiku, yang memang tidak pernah setuju dengan misi yang diberikan ini. Aku tak sudi me..."

"Cukup, Gany! Ini sudah terlanjur dijalani. Kita dipercaya untuk melakukan misi ini oleh Ayah. Kau tak bisa melanggarnya!" tegas Adras, si anak pertama, menekankan nada bicaranya.

Gany yang merasa dirinya egois sekaligus tak terima dengan semua ini, kembali terduduk, dan mencengkram kuat rambutnya. Merasakan kesal, kakak-kakaknya tak ada yang menyetujui jalan pikirannya.

"Perintah Ayah adalah cara satu-satunya yang harus kita jalani. Toh, ini juga ada untungnya bagi kita dimasa yang akan datang kan? Tidak ada yang harus disesali. Kita tidak bisa egois dan menuruti kata hati sendiri" jelas El, si anak tengah, meleraikan kedua saudaranya yang sedang dilanda amarah.

Suasana lumbung hening kembali. Hanya ada suara gemuruh halilintar dan rintik hujan yang lebat. Ketiganya dilanda pikiran yang tertuju pada misi tersebut.

Tiba-tiba, seluruh lampu lumbung menyala, dan mengagetkan mereka yang tengah melamun. Pandangan mereka segera tertuju pada sudut lumbung, yang terdapat pintu kecil terbuka, dan seseorang paruh baya hadir disana sambil membawa lampu minyak yang menyala.

"Siapa kalian?!"

****

THE ASTRONOMY CIRCULARWhere stories live. Discover now