01 Januari 2012
Dear Diary
Ini awal tahun, entah mengapa aku malah tetap memikirkan dia. Bahkan kini hatinya tak lagi untuk-ku. Aku benci saat bayangan dirinya hadir, dan menjadi rangkaian film. Aku benci saat namanya selalu berputar dalam benak-ku. Bahkan aku benci saat rasa rindu dan sakit datang beriringan. Dan aku SANGAT BENCI DENGAN KENYATAAN YANG BERKATA BAHWA AKU MASIH MENCINTAI DIA.
I HATE YOU !!
Stevani Putri Nugraha
--
Suara ledakan-ledakan itu semakin semarak sejak lewat pukul 00.00. Warna-warni kembang api menghiasi langit yang cerah. Semua bahagia menyambut hari tahun baru.
Berbeda dengan gadis ini, yang sejak hari itu sering melamun-entah memikirkan apa. Tangisan itu kembali pecah saat rasa sakit itu datang 'lagi'.
"Aaaaaaaa!" teriakan gadis itu. Teriak pilu yang membuat siapa saja iba.
"Kita PUTUS, aku mau fokus sama cita-cita aku!"
"Kamu itu cuman ngejar Anniversary doang-kan!"
"Cinta kamu gak tulus!"
"Jangan ganggu aku lagi!"
"Aaaa, kenapa harus terjadi. Sakit, sakit banget!!!"
"Kenapa gak mikirin perasaan aku sih?! Aku benci kamu aku benci!" lanjutnya dengan linangan air mata.
Hancur. Hatinya hancur, pikirannya hancur, tidak ada lagi kehangatan yang didapat. Sesorang telah menyembunyikan mentari, seseorang telah menghancurkan hatinya.
--
Perkenalkan namaku Stevani Putri Nugraha. Siswi kelas X di SMK favorit di ibu kota. Putri sulung dari pasangan Divan Nugraha & Putri Anaya.
Aku tinggal dengan Bi Nuri. Ayah dan Bunda? Mereka selalu berpindah-pindah. -Urusan kerja.
Bi Nuri merawatku dari kecil, tapi jangan salah Ayah dan Ibu aku sangat teramat menyayangiku.
---
Tok tok tok
"Putri? Nak ada teman kamu di luar." Suara Bi Nuri membuat Stev tersadar dari lamunannya.
"Siapa bi?" teriak stev. Dia enggan bertemu dengan siapapun.
"Teman kamu Put, non Naura." sahutnya di depan pintu. Dengan sangat ogah-ogahan Stev membuka pintu dan menemui Naura.
"Eh? Yaudah bibi bikin minum dulu ya." kaget Bi Nuru dan beranjak ke dapur.
"Ada apa Naura cunguk?" gadis itu menghampiri sahabatnya yang sedang duduk manis di sofa empuk berwarna silver itu.
"Sialan lo! Tau kaga gue nunggu lo di cafe! Lo yang janji lo yang ingkar." cerocos Nau dengan mendelikan mata.
"Sorry bro, gue lupa." yang di ceramahi malah nyengir kuda.
"Lo nangisin cowo brengsek lagi." itu bukan pertanyaan. Tapi pernyataan.
"So tau!" jawaban ketus, seolah tebakan Nau benar.
YOU ARE READING
Dear Diary
Non-FictionHanya sebuah diary yang mampu mengerti aku. Tidak ada prolog, kalau ingin baca jangan lupa sama vote dan juga comment. Masih abal-abal, butuh saran dan kritikan membangun
