Kata mereka,bila rumah tak dapat memberi apa yang kau butuhkan maka kau dapat menemukan itu di sekolah dan lewat teman-temanmu. Kata aku,itu semua bullshit. Omong kosong. Pengajaran palsu,begitu kata guru agamaku.
Saat aku tidak dapat menemukan apa yang aku harapkan di rumah. Saat aku tidak dapat merasakan apa yang aku rindukan dari sebuah keluarga. Maka itu berarti,aku tak akan pernah merasakan atau menemukan hal itu dimanapun juga.
.
.
.
.
Hari ini sepulang sekolah,aku harus melakukan hal yang seharusnya tidak perlu ku lakukan pada usiaku yang baru 17 tahun. Oh ya,perkenalkan namaku Alona Vennisa,panggil saja Alona.
Jalanan ini selalu terasa sepi,entah diwaktu siang maupun malam hari. Yah,jangan samakan jalanan di desa dengan di kota yang penuh hingar bingar. Beberapa batuan kerikil sengaja ku tendang. Seandainya kerikil itu dapat bicara,mungkin dia akan menjerit kesakitan.
Tidak jauh dariku,terlihat sebuah warung,sederhana saja untuk tampilan depannya. Tapi jangan salah,disinilah aku biasa membeli sayuran atau segala kebutuhan rumah.
"Permisi Mbah,mau beli sayuran. Ada apa aja ya ?" tanyaku pada Mbah Mar sang empunya warung.
"Dilihat aja Dek ada di dalem"sahut Mbah Mar.
Beberapa sayuran segar tertata rapi dimeja yang sudah sediakan. Dan aku asyik memilih-milih sayuran apa yang akan aku masak hari ini. Hmmm,enaknya apa ya ? Tanyaku pada diri sendiri.
"Dek,kemarin ibumu pulang dari Jakarta ? Kok ndak mampir ?"
Aku terhenti dari kegiatanku memilih sayuran ketika mendengar pertanyaan dari Mbah Mar."Ibu ndak pulang Mbah. Oh,yang kemarin itu temennya bapak,"jawabku.
"Akrab banget kalo gitu ya ? Apa ibumu ndak tau ? Kata ibu-ibu diarisan,bapakmu itu punya simpenan. Kamu ngerti maksudnya tho Dek ?"Mbah Mar memandangku dan kubalas dengan tatapan kesal bercampur sedih."Maaf Dek,jangan diambil hati. Justru mbah minta tolong buat bilangin ke bapak,biar ngga jadi omongan orang,"imbuh Mbah Mar.
"Iya Mbah,saya ngerti kok. Nanti saya sampaikan ke bapak. Ya udah,saya mau beli kacang sama tahunya aja. Berapa mbah ?"
.
.
.
.
Akrab banget kalo gitu ya ? Apa ibumu ndak tau ? Kata ibu-ibu diarisan,bapakmu itu punya simpenan. Kamu ngerti maksudnya tho Dek ? Maaf Dek,jangan diambil hati. Justru mbah minta tolong buat bilangin ke bapak,biar ngga jadi omongan orang.
Perkataan Mbah Mar masih terus terngiang dikepalaku. Aku tau ini akan terjadi. Yang aku tau,mereka hanyalah teman sekerja. Tapi aku juga sadar,dari cara mereka berbicara,cara mereka saling menatap,dan cara mereka saling memberi perhatian menunjukkan suatu hubungan yang lebih dari teman kerja.
"Al,kamu thu niat ngga sih latihannya. Ntar waktu pensi kelas kita thu harus nampilin yang terbaik. Kalo kaya gini kamu cuma bikin malu tau !"
Itu suara Naga yang merupakan ketua kelasku,kelas XI IPA 3. Aku memang salah karna membawa masalah keluarga ke sekolah. Tetapi,aku benar-benar tak bisa berhenti memikirkannya. Ditambah latihan drama musikal untuk pensi yang menambah kekesalanku.
"Kalau kamu ngrasa aku cuma bikin malu. Gini aja,aku ngga akan lagi buat kalian malu. Jadi aku ngga akan ikut pensi. Terserah kalian mau ngomong apa," seruku sambil membanting kumpulan kertas yang berisi naskah drama,setelah itu aku berlari kearah pintu dan keluar meninggalkan kelas.
YOU ARE READING
Alone
Teen FictionKetika tempat yang selalu kau rindukan berubah menjadi tempat yang kau benci. Kemana kau harus berlari ?
