Bagian 1

74 2 1
                                        

Warning! This fic may have mature scene in some chapter.

Oke! Here we go~

Suara Baekhyun tertahan di tenggorokannya. Rasanya seperti terbakar; perih. Tak ada kata yang mampu ia ucapkan. Perih didadanya semakin terasa kala kedua bola mata itu menjatuhkan kristal beningnya. Semua kata-kata tertahan dilidahnya, sulit dikeluarkan.

Jemarinya menggapai wajah rupawan itu. Isakan tidak tertahankan lagi. Bibirnya gemetar, segemetar tangan dan kakinya. Bibirnya mencebik. Suara terdengar parau dan menyakitkan.

Bibirnya terbuka-- melafalkan kalimat 'Aku Mencintaimu' berulang kali tangannya ia kepalkan dan memukul-mukul dadanya. Mencoba menghilangkan rasa sakit namun nihil tidak membuahkan hasil.

Tapi rupanya seorang didepannya terlihat biasa saja. Wajah rupawannya memandang datar ke arah Baekhyun yang sedang terisak. Akan tetapi, percayalah sesungguhnya ia juga tidak ingin ini terjadi. Ini merupakan tuntutan yang harus ia laksanakan.

"Tapi, Chanyeol.. bukankah kau sudah berjanji?.. bahwa kita akan selalu bersama?" suara parau Baekhyun terdengar, seperti lirihan yang dibawa bersama hembusan angin.

Chanyeol menghela napas, kemudian tak lama suaranya terdengar "Semua orang bisa berubah Baek" katanya kejam. Baekhyun menatap Chanyeol berkaca-kaca air matanya tak dapat dibendung lagi, seketika sebuah aliran air mata menetes di kedua belah pipinya membentuk sebuah aliran sungai air mata. "Tapi, mengapa..?" Tanya si mungil lagi.

"Kau tahu tidak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini, Baek. Oleh sebab itu, lebih baik kita berhenti saja." Jawab si jakung. "Tapi, bukankah kita saling mencintai? Tidakkah alasan itu cukup untuk mempertahankan hubungan kita?" Si mungil bertanya untuk yang ketiga kalinya.

Chanyeol menghela napas. Merasa cukup jengah dengan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Baekhyun. "Itu tidak cukup Baek. Kita butuh alasan yang lebih banyak daripada saling mencintai. Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, oleh karena itu jangan menangis seperti anak gadis manja yang cengeng hanya karena aku pergi meninggalkanmu Baek!" Bentak sang pemilik suara husky tersebut.

Baekhyun terkejut akan bentakan yang Chanyeol lontarkan untuknya. Ini tidak seperti Chanyeol-nya. Chanyeol yang ia kenal adalah sosok yang ceria dan selalu tersenyum bukan Chanyeol yang dingin dan kasar.

Chanyeol tidak mungkin membentaknya.
Chanyeol tidak mungkin memarahinya.
Chanyeol tidak mungkin meninggalkannya.
Chanyeol tidak mungkin.. mencampakannya.

"Kurasa cukup sampai disini. Hiduplah dengan baik, selamat tinggal" kedua kaki panjang tersebut berbalik dan melangkah meninggalkan Baekhyun yang masih mematung ditempatnya.

Baekhyun menangis, bahkan meraung-raung. Memohon mohon kepada Chanyeol untuk tidak pergi. Tapi terlambat, sang pemilik hati telah hilang dibalik dinding tinggi yang membatasi mereka berdua.

----
Baekhyun berjalan dengan gontai ke apartement kecilnya. Dengan malas ia menidurkan tubuhnya di sofa lapuknya. Ia memeluk kedua lututnya, menengelamkan kepalanya didalamnya, lalu menangis lagi. Isakan pilu Baekhyun terdengar semakin kuat, memenuhi apartement. Baekhyun tahu, bukan tanpa alasan Chanyeol mencampakkannya dengan sekejam ini. Jauh sebelum Chanyeol mengakhiri hubungan mereka pun Baekhyun telah tahu, bahwa memang tidak ada yang bisa ia harapkan dengan hubungan mereka. Bahkan kemungkinan hubungan mereka akan berhasil hanya 1% dari 100%.

Namun meskipun begitu, Baekhyun selalu berdoa setiap harinya akan hubungan mereka. Walaupun kemungkinannya hanya 1% saja, bukankah masih ada harapan walau hanya secuil saja?

Hidup mereka jauh berbeda. Chanyeol adalah sang penerus perusahaan keluarga mereka yang telah berjalan selama tiga generasi. Sedangkan dia? Jangan tertawa, ia hanyalah seorang anak dari sebuah keluarga sederhana. Tentu saja hidupnya masih cukup, ayahnya adalah seorang pegawai kantor pos sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Tetapi gaji ayahnya tetaplah cukup untuk mereka makan sehari-hari. Juga, Baekhyun bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Bagi mereka, uang yang mereka punya sudah lebih dari cukup.

Namun, bila dibandingkan dengan apa yang keluarga Park miliki, mereka berada jauh dibawah garis. Akan tetapi meskipun begitu Baekhyun tetap mensyukuri atas apa yang ia punya.

Terkadang, Baekhyun menjadi sangat merindukan kedua orang tuanya. Saat ia sedang merindukan orang tuanya, ia akan pergi ke atas atap apartementnya untuk menangis dan bercerita seolah-olah ia sedang mengobrol dengan orang tuanya. Jika kalian bertanya mengapa Baekhyun memilih atap, maka jawabannya adalah karena Baekhyun pikir itu adalah tempat yang paling dekat dengan surga karena atap merupakan tempat terdekat dengan langit.

Awalnya hidup terasa begitu kejam kepada seorang Byun Baekhyun, namun Baekhyun perlahan mulai mendapatkan cahaya lagi dihidupnya ketika ia bertemu dengan Park Chanyeol.

Mereka bertemu pada pertengahan musim semi. Saat itu kampus mereka sedang mengadakan festival, Kyungsoo, teman Baekhyun mengenalkan Baekhyun kepada Chanyeol yang adalah sepupu dari Do Kyungsoo. Saat itu, mereka hanya belum tahu saja jika sebenarnya mereka telah jatuh cinta bahkan pada saat kedua bola mata itu bertemu. Semakin hari, mereka menjadi semakin dekat. Hingga muncul sebuah hukum bahwa; dimana ada Chanyeol disitu ada Baekhyun, begitupun sebaliknya. Hingga pada suatu saat, mereka menyadari bahwa mulai dari rasa nyaman, mereka telah saling jatuh cinta. Cinta mereka sungguh dalam.

Pada suatu saat, mereka saling mengakui perasaan mereka dan Chanyeol meminta Baekhyun untuk menjadi kekasihnya. Awalnya Baekhyun merasa ragu, namun sebuah kecupan manis yang diberikan Chanyeol membuatnya tenang dan mengiyakan ajakan Chanyeol untuk berkencan. Keraguan Baekhyun adalah masalah latar belakang keluarga mereka dan juga percintaan mereka atau dengan kata lain; gay. Dinegara mereka, tentu saja itu merupakan hal yang tabu dan juga itu adalah dosa. Tetapi rasa cinta mengalahkan segalanya, mereka tetap bersama meskipun banyak pihak yang tidak setuju dan pro kontra yang ada.

Hubungan mereka berhasil sampai 4 tahun lamanya, hingga saat ini; saat Chanyeol mencampakannya.

Dan malam itu, Baekhyun menangis untuk yang kesekian kalinya.

TBC

A/N:

Well, aku tahu aku kurang ajar karena udah ngepost fanfic baru, padahal fic gs yang aku remake 'salju dilangit seoul" belum aku selesein. Aku sempet males lanjutin tapi, tenang aja buat yang baca ff itu ttp akan aku lanjutin kok. Hanya aja ngga tahu kapan. Mood swing aku itu buruk banget, cepet berubah-ubah. Aku tahu harusnya aku selesein ff itu dulu, tapi tangan aku dengan kurang ajarnya ngga sabar buat ngepost ff  ini. Kkkk~

So guys, wdyt?
Next? Vote and comment juseyoo

P.s: actually, i like comment than vote

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 04, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

L E A V EStories to obsess over. Discover now