Lembah Misteri

27 1 0
                                        

Aku terbangun ketika cahaya mentari pagi menyinsing dicelah dedaunan pohon yang rindang. Aku mendapati diriku sendirian di lembah yang lembab ini. Adikku, Zeo, dimana dia? Aku memanggil orang-orang yang membawa kami kemarin ke lembah ini. Tapi mereka sudah tidak ada begitupun adikku. Mereka hilang bagai kabut. Apa mereka meninggalkanku sendirian? Oh, Zeo, bagaimana denganmu.

Aku bangun sempoyongan berpegangan pada akar-akar pohon. Tidak ada makanan dan minuman. Aku panik dan cemas memikirkan Zeo. Dia masih 5 tahun apa yang akan dia lakukan. Perlahan cairan hangat merembes di pelupuk mataku. Tergugu meratapi Zeo. Kemana mereka membawanya.

Aku harus bagaimana bila ayah dan ibu bertanya tentang Zeo nanti. Aku adalah kakak yang buruk, seharusnya aku tidak tidur sehingga mereka takkan bisa membawa Zeo.
"Kau jaga Zeo baik-baik. Dia masih terlalu muda, dia tidak mengerti dengan bahaya. Kau paham maksudku kan sayang?"
Kata-kata ibu kembali terngiang di kepalaku. Ketika dia memelukku dan tersenyum mengangkat daguku mempercayakan Zeo dalam pengawasanku. Sekarang apa yang akan aku katakan padanya?
Tidak, aku tidak akan pernah kembali tanpa Zeo.

Seharian aku menyusuri lembah. Menerka-nerka kemana arah yang mungkin mereka membawa Zeo. Keadaanku tidak cukup baik untuk berjalan ditambah lagi kerongkonganku yang kering dan perut yang lapar. Aku berhenti sejenak di bawah sebuah batang pohon yang besar. Aku menunduk menatap tanah yang lembab. Dan melihat jejak kakiku disana. Kemudian, benar juga ! Jika mereka membawa Zeo pergi tentu jejak mereka akan tertinggal di tanah. Terlebih lagi mereka mengenakan sepatu besar dengan sol tebal itu.

Aku melihat dengan seksama ke tanah dan berlari ke tempat aku terbangun tadi pagi. Tapi aku tak menemukan satu jejak pun. Aku hanya melihat jejak kakiku sendiri. Tidak mungkin, bagaimana bisa jejak mereka tidak ada?

Aku mulai kebingungan sendiri melihat kesekitar. Yang aku temui hanya pohon-pohon besar dengan akar-akar yang merambat dan dipenuhi lumut. Anehnya, aku baru tersadar kalau sejak tadi pagi aku tidak mendengar suara binatang apapun. Lembah ini begitu sepi. Bahkan suara seranggapun tidak terdengar. Mendadak aku menjadi ketakutan, keringat dingin menjalar di punggungku. Aku dapat mendengar degup jantungku dan suara nafasku yang mulai memburu. Bibirku kering sekering tenggorokanku. Perutku mulai perih ditambah dengan suasana yang mencekam ini. Aku pikir matahari baru saja menuju puncak tertingginya tetapi kabut mulai turun menutupi lembah.

Aku berdiri untuk menghilangkan rasa takutku dengan tetap waspada melihat kesekeliling. Kian lama kabut makin tebal menutupi lembah. Pohon-pohon yang tinggi menjulang perlahan terlihat seperti bayangan kematian.

Degup jantungku kian cepat, kepalaku pusing, tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Sebelum kakiku yang gemetar tak sanggup lagi menahan berat tubuhku aku melihat sekelabat bayangan diantara pepohonan yang berlari ke arahku. Tapi kemudian semuanya gelap. Aku jatuh ke dalam dimensi yang gelap dan sunyi.
☆☆☆

Yayımlanan bölümlerin sonuna geldiniz.

⏰ Son güncelleme: Apr 04, 2016 ⏰

Yeni bölümlerden haberdar olmak için bu hikayeyi Kütüphanenize ekleyin!

NUDIUSTERTIANBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin