Prolog

51 4 1
                                        

"Lena, tunggu!!", teriakku. " Lena!! Jangan tinggalkan aku!!"

"Ahahaha!! Kau yang terlalu lambat tau!! Ayo cepat sini!! Kau takkan bisa menangkapku kalau larimu pelan begitu!!" balas gadis kecil berkuncir dua itu, seraya berhenti.

"Ayolah, Lena,.. kau kan tahu fisikku tak sekuat punyamu," kataku sebal.

"Iya, memang,.. tapi kan bukan berarti aku akan mengalah!! Wee!!" katanya sambil berbalik menghadapku dan menjulurkan lidahnya.

"Hah, haah, haaaa... istirahat sebentar ya, aku capek", pintaku saat aku hampir sampai ketempat dimana ia berdiri.

Kami sangat seru bermain sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang selain kami berdua.

"Jack, ayo pulang! Sudah sore!!" Teriak seorang wanita kepada kami.
Dia datang dari arah di belakangku.

"Aah,.. lima menit lagi!!" Balasku, sambil berbalik menghadapnya.

"Tidak. Kita pulang sekarang. Ayo!" Katanya setelah mendecak. "Waktu kita tidak banyak! Dia sudah dekat!!" Katanya sambil menunjuk ke arah di belakangku. Tepatnya, di belakang Lena.

"Oh, tidak! Lenaa!! Menyingkir dari situ!!! Cepat larii!!!" Teriakku. Tapi ia tidak bergerak, ia seperti tidak mendengarku sama sekali.

Kabut tebal berwarna hitam yang tadi di tunjuk wanita itu pun mendekati Lena, dan mulai menutupinya. Aku bergegas meraih tangan gadis itu, hendak menariknya keluar.

"Lena!! Ambil tanganku!!," teriakku.

Ia menyadari keadaannya dan mulai berlari.

"Aaah!!" Balas Lena sambil mencoba meraih tanganku.

Tapi apa daya. Sudah terlambat. Saat tanganku hampir menggapai tangan Lena, tubuhnya  tertarik masuk ke dalam kabut itu.

"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak" Suara teriakan histerisnya pun terdengar. Lalu, kabut itu pun berangsur-angsur menghilang, setelah ia "menelan" Lena.

_______________________________________

"Haah.. haah... haah... mim...pi?"

Dream GuardianStories to obsess over. Discover now