Perempuan Cantik dan Buku FIlsafat

794 20 7
                                        


Oleh: Yoga Walanda Caesareka

Mentari pagi memberi salam. Saya memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan di daerah X untuk meminjam sebuah buku. Liburan sebentar lagi dan saya memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan saya dengan membaca buku. Saya pergi pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00, karena saya tahu di kota saya sangat amat macet karena meledaknya kendaraan beroda 4. Saya menuju Perpustakaan itu dengan menggunakan Kereta Listrik yang memang sudah tenar di kota ini. Seperti biasa, saya mengenakan celana gombrong saya, jaket hitam bertuliskan "Bloop". Dibahu kiri saya menggantung sebuah tas jinjing hitam.

Memang jasa Kereta Listrik lah yang amat mudah untuk digunakan untuk pergi ke daerah X. Selain murah, mudah juga dijangkau dengan semua orang. Oleh karena itu, tidak heran jika Kereta Listrik banyak dipadati oleh orang-orang dari kota ini, mulai dari pekerja kantoran, buruh pabrik, mahasiswa, lansia, hingga anak punk sekalipun.

Pukul 07.30, saya sudah berada di Kereta Listrik jurusan daerah X. Ternyata benar, kereta itu amat padat, lagi sesak. Saya sempat kesal dengan keadaan saat itu. Saya dapat merasakan, bagaimana ego masing-masing dari setiap hati penumpang Kereta Listrik itu. Mereka terlihat seperti hidup dalam "kotak"nya sendiri dan terlihat jelas sekat-sekat antara kotak-kotak itu. Bisa dibilang, itulah potret moral-moral manusia yang ada dikota ini.

Saya kira semua orang di Kereta Listrik itu tahu mengenai "Tempat Duduk Prioritas". Tetapi ada satu hal yang benar-benar membuat kepala saya menjadi meledak. Mungkin juga kalian pernah menemukan kondisi ini, sama seperti saya. Saat sedang desak-desaknya situasi, saya melihat satu orang lansia yang tengah berdiri, bersandar pada pelataran kereta. Ia terlihat letih dan absurdnya lagi, di depan lansia itu, terduduk seorang pemuda gagah yang seolah-olah tidak mengerti dengan "Tempat Duduk Prioritas". Ia pura-pura melongo dan linglung. Pikiranku sempat miris sejenak.

Sebenarnya itu bukan pertama kalinya saya menemukan kondisi seperti itu. Ya, itulah adanya. Manusia seperti terlihat hidup sendiri dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Apalagi di kota saya ini. Rupanya manusia memang sudah hidup dalam kotaknya masing-masing dan kotak itulah yang sebenarnya paling banyak merugikan orang lain. Aduh, memang rasanya terasing jika harus hidup berdampingan dengan kotak-kotak itu.

Pukul 09.00, saya sudah sampai di stasiun di daerah X. Terik matahari sudah mulai merasuki. Lokasi perpustakaan cukup dekat dari stasiun. Jadi saya memutuskan: berjalan kaki.

"Nobody knows the trouble that I've seen ,

Nobody knows my sorrow.

Sometimes I'm up and sometimes I'm down,

Oh, yes lord

You know sometimes almost to the ground,

Oh, oh yes lord".

Hanya lagu itulah yang saya nyanyikan selama saya berjalan menuju perpustakaan. Saya juga sempat membakar satu batang rokok yang sudah saya bawa dari rumah.

Saya sudah sampai di perpustakaan. Gedungnya cukup besar untuk seukuran perpustakaan swasta di kota ini. Ketika saya masuk, saya menunjukan kartu identitas anggota saya kepada petugas perpustakaan itu. Setelah itu, yang di pikiran saya hanya 3: Filsafat, Politik atau Sastra. Memang hanya jenis buku itulah yang menjadi kesukaan saya. Setiap kali saya menuju toko buku atau perpustakaan, ketiga jenis buku itulah yang paling pertama menjadi incaran saya. Di perpustakan itu, rak buku ketiga jenis itu memang saling berdekatan. Jadi saya tidak perlu berkeliling perpustakaan.

Saya menuju rak buku Sastra. Banyak sekali pilihan buku itu, mulai dari hikayat, roman 30'an, novel, sampai cerpen-cerpen yang ditulis oleh penulis legendaris Indonesia. Tetapi buku yang membuat saya tertarik adalah "Senja di Jakarta" oleh Mochtar Lubis. Sebenarnya, saya sudah lama tahu tentang synopsis buku itu. Isinya mengenai potret kehidupan, budaya dan politik Indonesia di era 1950-1960an. Saya rasa, itulah buku yang akan saya pinjam. Yasudah, saya ambil buku itu dari rak dan sayang pegang dengan tangan kanan saya. Sekitar 30 menit saya luntang-lantung di rak buku Sastra.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 27, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Perempuan Cantik dan Buku FilsafatCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang