Mata itu tertutup rapat, seolah enggan untuk terbuka. Melihat segurat kekecewaan yang tak bisa diungkapkan.
"Jelaskan kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini?" terdengar sangat lirih. Andai dia tidak sadar kalau dia itu seorang pria, mungkin saat ini dia akan menangis.
"Jalan ini sudah takdir dari-Nya. Sebelum kita jauh melangkah lebih baik kita menghentikannya sampai disini." Anba memejamkan mata, sepertinya keputusan Hanum sudah tidak bisa diganggu lagi. Pria itu menyerah, selama ini hanya dialah yang terobsesi akan wanita itu. Dan tidak sebaliknya. Tidak. Tidak.
"Aku terpaksa menerima lamaran mu, itu semua karena Ayahmu. Dan setelah aku mencoba menjalaninya dengan mu ternyata semuanya begitu sulit. Aku mundur." Hanum menyerahkan cincin bermata putih ditengahnya. Sederhana tapi menawan. Cincin yang diberikan Anba saat acara lamaran dua bulan yang lalu, dan minggu ketiga dibulan ini adalah acara pernikahan yang seharusnya terlaksana sesuai rencana. Sayang itu hanya rencana yang tak akan pernah terealisasikan, gerintis Anba.
"Aku akan pergi ke Aussie, jadi kamu tidak usah khawatir."
"Begitu?" Anba menyilangkan kakinya. Matanya menatap lekat wajah Hanum, mencari lelucon disana. Tapi, nihil. Gadis itu serius dengan ucapannya.
"Aku akan selalu berdo'a semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku."
Egois, jika dia menginginkan tetap mempertahankan hubungan itu. Dan dipihak lain Hanum sudah melepaskan ikatan yang dengan susah payah dia coba pertahankan. Anba hanya terdiam tak banyak berkomentar, ada rasa ngilu yang terus menggelitik hatinya.
"Semoga kamu juga segera dipertemukan dengan pria yang sesuai dengan harapan mu." kata itu terucap begitu ikhlas, terdengar begitu tulus. Satu hujaman keras menancap diinti hati, Hanum tersenyum menyembunyikan setitik luka. Luka yang akan jadi rahasia hidupnya, luka yang dia gali sendiri.
Hanum bangkit, meninggalkan Anba yang menatap pilu kearahnya. Langkahnya kian cepat, meninggalkan keramaian kafe disore hari. Tak ingin menangis, dia bukan gadis cengeng. Ini pilihannya, dan dia harus konsisten dengan semua resiko yang diambilnya.
Sementara itu, Anba menahan emosi yang sudah memuncak. Tangannya mencengkram kuat secangkir kopi yang dipesannya beberapa jam lalu. Hatinya menyuruh untuk menahan gadis itu pergi dari hidupnya. Tapi, akal sehatnya mencegah untuk melakukan itu, gadis itu sudah menolaknya, menolaknya mentah-mentah.
Enam bulan yang lalu Anba menerima gadis yang ditawarkan Ayahnya, saat pertama kali melihat gadis itu, Anba sudah mulai tertarik. Dia yakin gadis pilihan Ayahnya itu adalah gadis yang terbaik untuknya. Dan pertemuan pertama itu mampu mencuri hatinya, gadis yang berjilbab itu begitu cantik, gamis yang dikenakannya itu selalu jadi pakaian yang menjadi kebiasaannya.
Sampai Anba pun mantap untuk mengkhitbah gadis itu, semua berjalan sesuai harapan. Seolah semua terasa mudah, tak ada keraguan pada Anba untuk memilih Hanum. Gadis itu sudah mencuri dunianya, sampai hari ini pun datang, hari yang tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Tentang hati yang tulus dibalas dengan penghianatan. Tentang cinta yang dibalas dengan luka.
*****
Sore itu Anba segera pulang kerumah orang tuanya. Menyembunyikan luka yang masih menganga. Dia memasukan mobil FORTUNER putih kedalam garasi. Bergegas dia keluar mobil, berjalan cepat setengah berlari menuju kedalam rumah.
Kamar. Kamar. Kamar. Kamar
Itu tujuannya, mengurung diri? tentu saja tidak. Dia seorang pria, dia tidak akan mengasihani dirinya sendiri. Takdir-Nya, yah itu, ini adalah takdir dari-Nya.
Pak Rahardi yang sedang bersantai dikursi goyangnya, menangkap hal yang tak beres dengan putra keduanya itu, tak seperti biasanya putranya itu tergesa-gesa seperti itu. Dia melihat Anba setengah berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, wajahnya terlihat sekali kalau sedang ada masalah. Tapi apa?
YOU ARE READING
Sekeping RASA
SpiritualQori Hafizah Kenapa setelah kita melangkah lebih jauh, baru aku tahu bagaimana hatimu yang sebenarnya. Kamu yang menjanjikan kebahagian itu. Tapi, kamu juga yang menghapus kebahagian itu dan setelah itu kamu meninggalkan ku begitu saja lalu memilih...
