Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Prolog

49 7 1
                                        

-POV Wanita Bergaun Emerald-

"Just because you take some more time than others, doesn't mean that you're failed." -E.T

Kububuhkan inisial namaku selesai menulis kata-kata kutipan tersebut di selembar kartu ucapan, lalu kusisipkan pada pot tanaman yang kupegang.

Kuamati tanaman Apple Mint itu untuk memastikan lagi bahwa telah terhias sempurna serta kondisinya masih segar.

Setelah perjalanan jauh menyusuri kota yang tak pernah tidur ini, daun-daunnya tampak sedikit muram. Mungkin akibat menyerap terlalu banyak polusi. Persis tampang orang-orang di sini.

Apa perlu kuciprati air mineral ya, biar terkesan fresh-from-the-garden?

"Hehehe" aku terkekeh membayangkan adegan ciprat-ciprat yang akan kulakukan di sini, di atas hamparan karpet mahal ini.

"Ehem!" Pria kekar dan bertampang sangar di depanku berdehem dan sontak membuyarkan lamunanku.

Kutengok air mukanya. Benar, muram berpolusi.

Kusenyumi saja penjaga itu sekenanya sambil mengambil botol air mineral dari hobo bag-ku.

"Ehem!" Kali ini dia berdehem lebih keras dan berat. "Anda tadi bilang sebentar saja, kan?" Tandasnya memperingatkan. Air mukanya yang sudah muram kini bertambah keruh dan gusar. Rupanya dia tak menyukai keberadaanku di sini atau tak puas dengan pekerjaannya sebagai penjaga?

"Oh... emm... iya, Pak," perkataannya membuatku tergesa membuka tutup botol, "hanya lima me..."

"Dari tadi lima menit lagi, lima menit lagi!!!" Hardiknya.

Aku terkesiap dan memberengut kesal ke arahnya. Dia tidak tahu apa kalau dari tadi aku repot menyiapkan kado spesial ini. Alih-alih menjaga pintu, kerjanya hanya merecokiku dengan peringatan bahwa Tuannya tidak menghendaki siapapun menyambutnya di luar ruangan.

Aku tidak mau kalah, "Saya...

Mendadak menyeruak orang-orang datang dengan teriakan bergemuruh memadati koridor tempatku berada. Meringsek ke arahku yang berdiri tepat di depan pintu VVIP itu, membuatku goyah, dan...

Byuuuur!

Oh, tidak! Kadoku...

Buru-buru kudekap Apple Mint-ku, melindunginya dari kerumunan massa yang datang entah dari mana. Untung saja kadoku aman, tapi... oopsy... wajah Bapak-tampang-polusi tadi basah kuyup.

"AAAAARGH!"

Seketika koridor sunyi senyap. Semua orang mengatupkan mulutnya ketika mengetahui singa di depan pintu itu mengerang.

Sejurus kemudian, pintu berwarna zamrud terang itupun mengayun terbuka.

......................★★★.....................

-POV Pria Bermantel Perak-

"Just because you take some more time than others, doesn't mean that you're failed." -Cherry

Aku menggumamkan kata-kata yang tertera di pembatas buku itu dalam hati ketika menjepitkannya pada halaman buku yang baru saja kubaca.

Pikiranku menerawang jauh sehabis membaca satu bab dari buku J. Khrisnamurti itu.

Bukan merenungkan intisari tulisannya atau bahkan membayangkan penulisnya tentu saja, tapi pikiran ini diajak berkelana ke memori empat tahun silam.

Saat aku baru berjuang untuk membaca buku filsafat ini, ia mengucapkan kata-kata itu. Entah dari mana ia mengutip kata-kata itu, tapi saat mendengarnya mengucapkan serangkaian kalimat lengkapnya, hatiku tersentuh hingga ke dasarnya.

Kupinta ia mencatatkannya untukku di notes ponselku. Dan itulah obat yang selalu kuingat di saat aku harus menelan pil pahit kegagalan demi kegagalan dalam perjuanganku.

Sampai saat ini pun aku merasa belum bisa menebus kegagalanku sepenuhnya.

"Dasar, otak hamster!"

Hahaha... aku tergelak mengingat makian favoritnya setiap kali aku bandel... tunggu, itu juga makiannya, maksudku setiap kali aku bekerja keras.

Ya, si pemrotes ulung itu selalu hadir dengan tangan terlipat di dada sambil membuncahkan jurus makiannya ketika menemukanku terlelap di studio; makian itu juga selalu ditandaskan gemas saat dirinya menorehkan lipstik merah baladonya ke hidungku, menggangguku menikmati jam sarapan dalam mimpi; hingga aku merasa makiannya memang sudah mendefinisikan siapa aku.

Mungkin memang benar jika kapasitas otakku tak jauh berbeda dengan hamster. Aku merasa masih bersemangat berlari mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah kudapat. Persis seperti hamster yang terus-terusan berlari di dalam roda mainannya.

Orang-orang di dekatku juga memandangku terlalu ngotot memperbaiki kegagalanku, padahal prestasiku sudah terbilang cukup membayarnya.

Benarkah mereka? Benarkah dia? Benarkah aku?

Aku ingin tahu jawabannya sekarang, di hari besarku.

The InverseHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora