"Yoojin-ah apakah kau sudah meminum obatmu? Maafkan eomma terlambat datang hari ini karena tadi cafe sangat ramai, sehingga ibu harus menunggu hingga pelanggan habis" suara eomma itu cukup keras sehingga bisa merusak tidurku.
"Hmm.."
"Apa maksud dari Hmm mu itu?"
"Mungkin belum" Ya bisa dikatakan aku sudah cukup bosan dengan semua obat-obatan itu. Aku sudah bosan dengan infus itu. Aku sudah bosan dengan semua alat-alat yang terhubung dengan badanku itu.
"Bagaimana bisa kau belum meminum obatmu? Apakah kau tidak ingin sembuh?"
Ingin. Sangat ingin. Hanya saja itu bukan sesuatu yang bisa aku atur eomma. Aku sudah menggantungkan hidupku di rumah sakit ini selama 1 tahun terakhir. Apa yang terjadi? Satu tahun yang lalu aku ditemukan tak sadarkan diri di sekitar Sungai Han. Dan aku sendiri tidak bisa mengingat apa yang terjadi. Karena sekarang aku kehilangan semua ingatanku. Dari seluruh memoriku selama 17 tahun aku hidup (dikurangi 1 tahun yang aku habiskan di rumah sakit), aku hanya bisa mengingat wajah eomma.
"Aku hanya ingin tidur"
***
"Apa yang kamu rasakan hari ini Yoojin-ah?" tanya wanita cantik itu yang sudah sangat aku hafal suaranya. Dia adalah dokter yang menanganiku.
"Mungkin lebih baik"
"Kamu bisa memulai terapi fisikmu hari ini. Karena keadaanmu sudah cukup baik"
"Untuk apa terapi?"
"Karena kamu sudah berbaring di tempat tidur dalam waktu yang cukup lama menyebabkan ototmu kurang bekerja sehingga kamu harus melakukan terapi fisik dulu sebelum kamu pulang" jelasnya panjang lebar. Sesungguhnya aku tidak memerlukan terapi itu karena selama 1 tahun ini pun aku tidak sepenuhnya tidur di ranjang saja.
"Aku masih bisa jalan"
"Lakukan saja yang di perintahkan dokter sayang" Bantah eomma.
Apa daya aku hanya bisa mengangguk.
"Kamu bisa melakukannya mulai hari ini. Selamat pagi" ia membungkukkan badannya. Dan eomma pun membalasnya dengan anggukan.
Tak lama kemudian seorang perawat yang aku pikir dia adalah perawat yang akan membimbingku terapi. Dan benar saja dia datang untuk menjemputku dan membawaku menggunakan kursi roda menuju ruang terapi. Yang benar saja.. aku tak membutuhkan kursi roda ini aku masih bisa berjalan.
Proses terapi sangat membosankan. Aku hanya disuruh melakukan sesuatu yang aku bisa lakukan. Seperti berjalan, memegang sujeo, duduk lalu berdiri, dll. Setelah beberapa hari melakukan hal bodoh itu, aku dinyatakan boleh pulang.
Akhirnya..
$2wU|T
Begitulah akhir dari part 1. Maafkan jika ada kesalahan penulisan dan juga mohon maaf jika ceritanya tidak berkenan di hati para pembaca. Jika menikmati cerita ini, silahkan di tunggu part selanjutnya ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Memory
Fiksi Penggemar"Senyuman itu adalah senyuman terhangat yang pernah ku lihat. Sama dengan seseorang yang kukenal dulu. Aku menyukainya. Bukan sebagai seseorang yang lain. Sebagai dirimu yang sesungguhnya" -Yoojin- "Pelukan yang membuatku nyaman, untuk pertama kalin...
