Sebuah syair pernah menuliskan; Ayah adalah pahlawan pertama anak lelaki dan cinta pertama anak perempuan. Benarkah? Bisa ia bisa tidak. Namun dalam kenyataan, ayah-ayah terbaik di dunia ini memiliki anak-anak yang baik. Hal ini biasanya dibuktikan dengan penuturan sang anak betapa bangganya mereka memiliki ayah seperti ayah mereka. Betapa hari-hari mereka bersama ayah mereka adalah hari-hari terbaik dalam kehidupan mereka. Pun begitu sebaliknya. Tengoklah kisah atau berita tragis yang menuliskan tentang anak yang dianiaya. Entah oleh ayah atau ibunya.
Suatu hari seorang anak perempuan SMP ditempat saya mengajar bertanya dengan nada heran kepada ibunya. Kebetulan saya sedang duduk di dekat sang ibu sambil meneguk air mineral sambil bersiap pulang. "Temen-temen adek itu aneh lho, Bu. Mereka ga biasa main atau jalan-jalan dengan ayahnya. Untung ayah Adek ga gitu ya, Bu." Saya yang mendengarkan bertanya-tanya, sebegitu susahkah seorang ayah meluangkan waktunya untuk bermain dengan sang buah hati hari ini. Sebegitu sibuknya kah? Sampai-sampai untuk menghabiskan sedikit waktu dengan sang buah hati tak lagi tersisa waktu. Sementara masa-masa ini tak akan terulang kedua kali dalam kehidupan sang ayah dan juga sang anak. Masa-masa itu adalah waktu emas pendidikan dan penanaman nilai-nilai moral dan universal dalam diri sang anak. Terlewat maka wassalam.
Padahal peran seorang ayah dalam kehidupan sang buah hati begitu pentingnya. Kyle D. Pruett menuliskan hasil penelitiannya dalam buku Fatherneed: Why Father Care is as Essential as Mother Care for Your Child, manfaat keikutsertaan ayah dalam mendidik dan menanamkan nilai moral spiritual anak. Berikut adalah jabaran beliau tentang manfaat tersebut:
Pertama, hasil pendidikan anak akan menjadi lebih baik. Sejumlah studi menunjukkan bahwa ayah yang terlibat dalam mengasuh dan bermain-main dengan anak balita-nya akan meningkatkan kecerdasan (IQ), kemampuan bahasa dan kapasitas kognitif anak.
Kedua, anak akan lebih siap secara mental untuk menghadapi suasana sekolah.Sekolah merupakan salah satu lingkungan luar rumah baru bagi sang anak. Berbagai prasangka akan mempengaruhi mental, sikap dan sudut pandang si anak terhadap lingkungan baru ini. Anak-anak yang memiliki kedekatan fisik dan interaksi yang cukup dengan ayahnya akan lebih sabar dan lebih mampu mengatasi tekanan dan frustrasi yang ada hubungannya dengan kegiatan belajar di sekolah dibanding anak yang ayahnya kurang begitu peduli. Hal ini terutama pada hari-hari pertama sekolahnya.
Ketiga, lebih stabil secara emosional. Ayah yang ikut melibatkan diri sejak anak lahir akan membuat emosi anak lebih stabil, lebih percaya diri dan berani untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Mereka tidak canggung mencoba dan tak patah semangat oleh kegagalan. Dan saat mereka tumbuh dewasa akan memiliki koneksi sosial dengan teman-temanya secara lebih baik. Juga kecil kemungkinan akan membuat masalah di rumah, sekolah atau lingkungan sekitar.
Keempat, anak dapat memasuki usia sekolah dengan lebih tenang dan kecil kemungkinan mengalami depresi, menampakkan perilaku disruptif atau berbohong. Anak juga lebih cenderung menampakkan sikap pro-sosial.
Kelima, anak laki-laki lebih cenderung tidak nakal di sekolah sedang anak perempuan cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat. Di samping itu, sejumlah survei menyimpulkan bahwa anak yang dekat dengan ayahnya lebih mungkin memiliki kesehatan fisik dan kejiwaan yang baik. Performa di kelas lebih baik, dan cenderung terhindar dari kenakalan remaja seperti narkoba, kekerasan dan perilaku menyimpang lain.
Status seorang ayah bukanlah status sembarangan. Status ini bukan sekedar didapat karena ia memiliki seorang anak. "Jika dengan memiliki anak seseorang mengaku-ngaku telah menjadi seorang ayah, maka apa bedanya dengan seseorang yang hanya karena memiliki bola ia mengaku-ngaku pemain bola." Tulis seorang facebuker dalam statusnya. Maka menjadi seorang ayah tidaklah bisa berprinsip "mengalir seperti air." Menjadi seorang ayah membutuhkan persiapan-persiapan penting. Ayah haruslah seorang pembelajar tanpa lelah sepanjang hayat. Ayah haruslah teladan pertama sang buah hati.
VOUS LISEZ
A Slice of Life Story
Non-FictionKumpulan opini yang bersifat subjektif. Memakai sudut pandang orang pertama tanpa data dan fakta empiris. Sangat sulit dibuktikan kebenarannya karena sebagian dari isi tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi. Membacanya membuat anda akan sedikit...
