Dulu kala pertama kujumpa dirimu, rasanya mustahil aku mampu meraihmu.
Dulu kala pertama netramu menatapku, rasanya gumpalan jantungku mampu menyembul.
Dulu kala pertama suaramu membalasku, rasanya busurku mampu tersenyum tuk selamanya.
Kau cakrawala batinku.
Kau pertiwi anganku.
...
Waktu bergulir, kau dewasa. Pun aku.
Waktu bergulir, kau bersua dengan karirmu. Pun aku.
Waktu bergulir, kau habiskan hari bersama rentetan darmamu. Pun aku.
...
Kini memang bukanlah dulu.
Pun dirimu bukanlah gadis remaja layaknya dulu.
Pun aku bukanlah pemuda labil layaknya dulu.
...
Namun, sekalipun waktu terus bergulir, bolehkah aku tetap begini?
Namun, sekalipun waktu terus bergulir, bolehkah aku tetap begini?
Namun, sekalipun waktu terus bergulir, bolehkah aku tetap begini?
...
Aku bertanya padamu.
Aku bertanya padamu.
Aku bertanya padamu.
...
Baiklah
...
Tak masalah apabila kau enggan menjawabku, karena toh, aku tak butuh jawabmu.
...
Bukankah memang begitu adamu?
Berapa kalipun aku bertanya,
Berapa kalipun aku berujar,
Berapa kalipun aku berseru,
Untukmu tanyaku, ujarku, pun seruku hanyalah desisan resah angin lalu.
Bukankah begitu?
...
Sudahlah
...
Aku hanya ingin kau tahu.
Sekalipun kau beranjak dari sini,
Sekalipun kau berbalik dari sini,
...
Aku tetap disini.
Menunggu dirimu layaknya orang bodoh.
-Arelang Yanuar
