Rintik-rintik air hujan terjun dengan bebasnya dari ujung langit teratas. Terjun hingga melewati beberapa kumpulan uap air sempurna atau bahkan melewati sekumpulan uap air yang baru beberapa saat lalu terbentuk dengan jelas. Beberapa rintik air itu akan memilih untuk menetap dikumpulan uap air, berbaur, dan bersantai menunggu giliran terjun bebas yang tak jelas wujudnya. Beberapa rintik air yang lain memilih untuk melanjutkan perjuangannya menuju daratan. Dengan begitu ia akan lebih mudah kembali ke langit teratas kelak. Sang rintik air pemberani akan terus terjun hingga menyentuh lapisan atmosfer bumi dan permukaan daratan. Namun, perjalanan rintik air tersebut tak kan berhenti dan menghilang tanpa kabar secepat ini. Sang rintik air akan meresap di dalam tanah, menjelajahi lapisan tanah yang tak terhitung jumlahnya, dan sesekali penjelajahan itu harus terhenti akibat ulah akar pohon yang menghalau jalan. Terjun kebawah, tertarik gaya gravitrasi, pelan namun pasti. Tanpa komentar, tanpa ocehan. Hanya menjelajah dan mengalir sesuai kehendak sang Kuasa. Hingga suatu saat akan menyentuh lapisan tanah terdalam, berhenti bahkan terhenti di lapisan ini dengan merasuk ke setiap butiran tanah, atau menjalani kehidupan panjangnya lagi dengan kembali ke langit teratas. Tetapi, pada akhirnya semua akan sama, jelas, tak dapat dielakkan. Rintik air akan diserap oleh tumbuhan, diuapkan ke langit, mengendap sementara, kemudian menuruni langit hingga lapisan tanah terdalam, dan begitu seterusnya. Proses Sirkulasi yang sempurna. Sempurna tanpa komentar, ocehan, keluhan, dugaan, harapan, dan impian. Karena tak ada gunanya memikirkan itu semua, bila kita sudah mengerti apa tujuan kita diciptakan dan apa yang terjadi selanjutnya. Sungguh tak sedap dibayangkan bahkan didengar.
Seandainya aku adalah rintik-rintik air itu, akankah kehidupanku berjalan lebih baik?
Tanpa pertanyaan, tanpa pernyataan. Tanpa jawaban, tanpa penjelasan. Tanpa soal, tanpa materi. Tanpa harapan, tanpa kenyataan. Hanya mengoptimalkan sesuatu dan tak mencoba untuk melestarikannya. Karena sudah diketahui masa depannya, hanya perlu menjalankan dengan baik dan benar. Beruntunglah, bagi orang rajin dan tekun. Masa depan sudah terjamin, tak perlu dipikirkan dan diraih. Karena kita sudah mengetahui semuanya. Seluruhnya hingga detail-detail kecil. Tak ada yang disembunyikan, maka individualis meraja lela. Siapkah dunia ini? Ah, betapa bodohnya mempertanyakan hal ini. saat ini memang terjadi, aku tak perlu bertanya karena semuanya sudah jelas dan terperinci. Akan muncul lapisan masyarakat yang tak terkendali, yang terlahir kaya akan menjadi kaya dan yang terlahir miskin akan menjadi miskin. Si kaya akan hidup dengan bahagianya. Si miskin akan merutuki nasib buruknya bahkan tak jarang dari mereka akan bunuh diri, mengakhirinya dengan satu tembakan pistol di bagian kepala atau tusukan belati di dada. Sungguh simple, mudah ditebak. Bumi ini akan dihuni para pecundang dan orang-orang kaya yang sangat bodoh. Perselisihan, perang saudara, dan bunuh diri akan jadi kabar harian surat kabar. Hukum dan keadilan sudah tak dibutuhkan, karena mereka sudah tau apa yang harus mereka lakukan, dan jarang sekali mereka akan membiarkan diri mereka memasuki jurang kelam yang dibuatnya sendiri. Anggota kepolisian dan detektif semakin sibuk, memindahkan jenazah korban-korban hasil bunuh diri dan tak kan bekerja terlalu keras karena tak ada yang perlu diselidiki. Tak butuh alasan, toh tak ada gunanya mengungkapkan rahasia orang. Membuang waktu saja. Semua orang akan bersifat individualis, tak peduli dengan sekitar, melupakan jati diri, dan melakukan apa yang sudah di tuliskan. Berjuta robot yang tutut perintah karena dijanjikan embel-embel harta dan hidup bahagia akan memenuhi bumi ini. situasi yang menegangkan, yang hanya mampu dikenang atau bahkan diwujudkan. Kehancuran. Satu kata ini mampu mewakili seluruh situasi saat itu, maka selesailah semuanya. Sudah tak pantas disebut kehidupan, karena kita hidup tak bernyawa.
Sesuatu yang telah diketahui terlihat tak elok dan bahkan mampu mengakibatkan kehancuran, maka lebih baik aku tak tahu itu semua, tak mendengarnya, tak melihatnya, dan tak mengalaminya. Tertutup dan ditutup, terlindungi dengan sempurna. Seandainya saja, tetapi tidak karena semuanya telah terjadi. Dihadapanku, dengan kedua mataku mengamatinya, dengan kedua telingaku mendengarnya, hingga bibirku tak mampu berkata-kata. Semua telah terjadi, begitu saja, begitu cepat,begitu buram dan kusut. Karena telah berakhir sebelum ada yang memulai. Datang dan menghilang begitu saja. Terlesapkan.
“sebuah karangan yang indah” terdengar suara samar yang mampu membuka mataku dengan pelan namun pasti
Samar-samar terlihat sesosok wanita paruh baya yang terlihat asing dihadapanku. Beliau membawa selembar-dua lembar kertas usang yang kupercayai bahwa itu milikku. Kertas itu sudah kusut dan terlihat telah terbasuh derai air mata tak terhitung jumlahnya, setitik darah, dan beberapa tetes tinta yang melebur dengan partikel kertas. Aneh. Aku mengenali tulisan itu, tulisan yang penuh dengan emosi terlihat jelas dibentuk setiap hurufnya. Ya, itu tulisanku. Tetapi aku telah melupakan seluruhnya, aku tak mengenali diriku, aku tak mengetahui apa yang telah terjadi, aku tak mengerti dimana aku berada, bahkan aku tak ingat bahwa aku pernah menulis di selembar-dua lembar kertas itu. satu-satunya yang kuingat adalah bahwa aku memang seharusnya berada disini, duduk disini, bersama wanita ini, dan aku sangat yakin bahwa kertas itu milikku walau aku bahkan tak mengingat pernah menulisya.
YOU ARE READING
Terlesapkan
RandomYang diraih tanpa rencana Yang diraih hanya berbekal ketidaktahuan Yang diraih dengan keteguhan hati Yang diraih dengan peluh perjuangan Yang diraih tanpa kata lelah Yang diraih dengan penuh kepercayaan Yang diraih dengan sekuat tenaga walau tak jel...
