BIRU

20 0 2
                                        

Empat puluh delapan bulan desiran angin terasa senyap membias di antara terik fajar menyapa pada lembut embun. Tanah yang sembab setelah hujan menyeruakkan bau tenang ke sela-sela rongga hidungku. Kaki yang menapak pada tanah enggan bergeser walau hanya satu inchi membiarkanku menekannya lebih kuat agar terpapar jelas tapakku. Ini bukan pantai tetapi basahnya lebih dari sekedar laut, ini bukan dermaga tetapi tepiannya kuat lebih dari sekedar rantai, dan ini bukan tentang rejam hati yang berserak di lorong angan.

Tak ada ilalang di sini yang terbiasa menari bersama desau lalu bergugur helainya. Hanya ada aku di sini bersama kau yang sesungguhnya tidak ada, tidak akan pernah ada. Aku lihat tamanmu hijau berganti bunga basah karena pupuk lalu tamanku tandus berganti gersang. Bola mataku nanar mencari bayang-bayang yang samar bahkan terlalu tipis untuk diacari. Sore yang kering tersapu oleh siluet jingga di atas medekap pelangi erat lalu perlahan hilang.

* * *

Fajar bertemu fajar aku tetap pada angan dan asa yang sama, rindu. Tanah lapang lagi bersama ilalang yang tidak menari meski angin merayu. Tanah ini bukan bagian dari pantai tetapi aku mendengar ombakmu hanya aku tidak melihat dermagamu. Layarmu jauh mendayung ke tengah pusara laut. Pasir berbisik bersama remahan tanah kering yang lupa akan hujan.
"Biru..." bisikmu aku dengar
"Jika tanganku berada di atas jemarimu jangan genggam" lanjutmu
"Kenapa?"
"Tidak semua yang berada di atas jemarimu bisa kau genggam terkadang hanya bisa kau rasa, biasnya"

Kau merebahkan kepalamu di sisi pundak yang akan selalu hangat menopangmu. Mahkota hitammu tergerai lembut menyapu lapisan kulitku yang dingin. Setidaknya itu adalah percakapan empat puluh delapan bulan lalu, di sini.

BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang