WARNING!!
Cerita untuk 20+, mengandung konten dewasa.
Bijak lah dalam memilih cerita !
***
Braak !!
Praaang !!!
Nafas ku tertahan, rasanya aku lupa bagaimana cara bernafas. Tapi kali ini aku benar-benar lupa, karena terlalu takut pada laki-laki gila didepan ku ini.
Kemudian sunyi..
Hanya deru nafas laki-laki muda yang menahan emosi memenuhi ruangan. Buku-buku jari nya memutih, beberapa butir keringan mengalir antara rahang tegas dan leher nya.
Mungkin jika gadis lain di posisi ku, mereka akan dengan suka rela menyerahkan dirinya demi di penuhi laki-laki gila ini.
"Berjanji lah delilah" suara baritonnya membuat ku semakin tegang
"Apa?"
"Berjanji lah kau tidak akan meninggalkan ku lagi atau aku akan melakukannya"
"Lakukan jika kau mau"
Ya Tuhan, ingin ku cincang lidah ku sendiri. Cabut saja Tuhan, cabut lidah lancang ini.
"Dengan senang hati" pria bertato ini mendekati ku, kini baru tampak jelas bagaimana menyeramkannya ia. Rahangnya tampak keras menahan emosi, mata caramel nya menatap tajam, nafas nya bersahutan berat, alis tebalnya menyatu. Demi Dewa, kapan nyawa ku di cabut?
"Kau fikir, jika kau melakukannya aku tidak akan meninggalkan mu? Kau salah, justru sebaliknya"
"Kau sedang bernegosiasi delilah sayang?" Dengan perasaan jijik terpaksa aku menahan jilatan lidah nya pada rahang ku, bukan delilah jika tidak menutupi rasa takutnya.
"Kau gadis paling keras kepala yang ku temui, bagaimana jika aku memulai dari sini" aku menahannya, menahan air mata ku dan desahan ku. Ia mengecup puncak payudara ku, ntah sejak kapan ia sudah menghisapnya disana.
"Kau mulai menegang heh?"
Aku hanya diam menahan kenikmatan yang menjijikan. Puting sialan, menegang pada saat yang tidak tepat. Ntah lah, sekuat apapun tetap saja aku merasa takut. Sebutir air mata lolos dari kelopak mata ku menyentuh keningnya.
"Jangan menangis, ku mohon jangan menangis. Aku akan berhenti"
Benar saja, dia berhenti dan menghapus air mata ku seraya membenarkan pakaian ku. Kenapa tidak dari tadi saja ku keluarkan senjata wanita yang ternyata benar-benar ampuh.
"Aku begitu mencintai mu, dan aku tak sanggup melukai mu, ku mohon jangan tinggalkan aku, berjanjilah delilah berjanjilah" . Suara baritonnya mulai hilang berganti isakan, yang benar saja laki-laki ini menangis, apakah dia tidak malu pada tatto sekujur tubuhnya?
"Ku mohon berjanji lah" suaranya mulai frustasi dan hey dia mulai menangis di bahuku. Dasar laki-laki cengeng, ku putar bola mata ku, kini takut ku telah pergi. Ya secepat itu lah seorang delilah menenangkan dirinya.
"Ya aku berjanji.. (Akan meninggalkan mu)" tentu saja kalimat terakhir hanya ku ucapkan dalam hati.
"Kau serius?, kau berjanji tidak akan meninggalkan ku?, jangan coba-coba permainkan ku"
"Ya aku berjanji, tapi kau harus memenuhi persyaratannya"
"Kata kan apa syarat nya!" Mata caramel nya mulai meneduh, pandangan penuh cinta?, iuh menjijikan, aku tak menginginkannya.
"Penerbangan ku 2 jam lagi, dan sekarang mommy sedang mencari ku. Bisa kah kau mengantar ku pulang sekarang?" tentu saja aku bertanya dengan wajah polos.
"Kau fikir aku bodoh hah?, kau akan pulang dan tak akan pernah kembali, aku tak sebodoh itu delilah" suara geram baritonnya memenuhi ruangan dan gendang telinga ku. Aku mulai gugup
"Kau benar-benar mencintai ku?"
Aku menatapnya dengan sangat meyakinkan.
"Tentu saja, kau lihat? Aku hancur karna takut kehilangan mu delilah"
"Lalu kenapa kau tak mempercayai ku Mason?" Omong kosong apa ini delilah, biar lah aku sedang bernegosiasi agar aku segera keluar dari sekapannya.
"Kau gadis cerdas delilah, saat seperti ini sulit untuk dapat mempercayai mu"
"Kau sangat mengenal ku bukan?, aku tidak akan menjalin hubungan pada pria yang tidak mempercayai ku dan kau tahu aku tidak pernah suka mengulang kata-kata ku"
"Baik lah, aku mengantar mu pulang. Tapi bolehkah aku mendapatkannya ?" Pria rapuh nan sialan. Otak mu terlalu kotor dan kosong untuk berhadapan dengan ku. Kau fikir aku rela ditiduri oleh mu?, Kau membutuhkan detergen bung!
"Aku yakin kau tak akan tega melakukannya" aku menyinjit dan memeluknya. Dengan perasaan muak ku hisapi bibir dan urat-urat pada leher nya.
"Sssshh..delilaah" dia mulai menjambak halus rambut ikal panjang ku dan... Ya dewa ya dewa apakah itu kayu??
Aku tetap dengan aktivitas ku dan mulai meremasnya dari balik celana.
"Delilah.. Sshhh haah.." Ya dewa, jari nya membelai lembut payudara ku.
"Aku memberi tanda disana, kau sekarang milik ku Mason" sesegera mungkin ku selesaikan permainan menjijikan ini.
Cup..
Hanya sekilas di keningnya, percaya lah pada ku itu hanya muslihat untuk membuatnya percaya.
"Sekarang antarkan aku pulang, sayang"
"Kapan kau kembali?" Bola matanya menatapku lekat, seolah mencari titik kejujuran di mata ku. Tentu saja ku lakukan semua dengan baik
"Setelah urusan ku selesai"
Setuju tanpa kata yang di tunjukan padanya, tangan kekar nya merangkul pinggul ku, kami berjalan menuju pintu kayu besar berukir naga. Di depan pintu besar ku lihat pria berambut klimis dengan alis kanan terbelah sedang memandang ku, yang ku tau namanya Victor.
"Apakah kau melakukannya?"
Tampak jelas sunggingan senyum di ujung bibir kecil nya. Hah, jika meniduri ku adalah saran dari mu, hah sudah lah~
"Tidak, aku akan mengantarnya pulang. Kau kembali lah"
"Ah, kasian sekali. Seharunya kau melakukannya"
Ringan sekali lidah pria ini, maco tapi lidah mu seperti janda beranak. Yah, Maaf kan aku Tuan tampan, sahabat kuat kau ini terlalu lemah jika berhadapan dengan ku.
Mason kembali membimbing ku keluar. Menuju tangga berlikuk dengan red karpet terbentang, lengan tangga ini berukir naga yang menjulurkan lidahnya. Beberapa guci besar berukir naga timbul tersusun rapi di sudut ruangan, piring dan beberapa pecah belah seperti cangkir dan gelas berukiran naga juga menghiasi rumah megah ini, rumah bernuasa coklat, gold dan merah. Rumah ini terlalu menunjukan karakter pemiliknya, rumah yang hangat dan sangat luas, tapi tak ku jumpai 1 penjagapun disini. Ah mana mungkin mereka membutuhkan pengamanan, mengingat dia yang sedang menggandeng ku adalah titisan naga hidup yang berkeliaran dimana-dimana.
Akhirnya aku sampai didepan pintu yang sangat besar, dengan rasa tergesa-gesa yang terpendam ku dekati pintu kayu yang "lagi berukir naga", akhirnya aku bisa menghirup udara segar.
Dor !
Semua begitu cepat, kemudian gelap.
***
Hallo readers
Aku pendatang baru
Silahkan baca, comment dan vote.
Happy Reading *kiss kiss
Penulis
YOU ARE READING
The Beauty of Indigo
RomanceDelilah Arnault Fererro - Seorang gadis future lawyer dengan bakat indigo, pribadi nya yang berubah-ubah membuat pasangan sulit mengerti dirinya. Menjalani hubungan 4 tahun dengan Karl dan ia gadis penganut aliran setia. Akan kah ia memaafkan kesala...
