Aku menghempaskan tubuh ke atas kasur. Perjalanan yang melelahkan. Tujuh jam yang seharusnya dilalui bertambah menjadi sepuluh jam. Dan sekarang, Aku disini, bagian paling ditunggu setiap tahunnya. Rumah Nenek.
Liburan yang menyenangkan telah tiba, tapi sepertinya aku butuh beberapa jam kedepan untuk tidur.
•••
Aku terbangun saat matahari mulai tenggelam di barat. Suara nenek yang berbicara dan disambung tawa seorang pemuda masuk ke indra pendengarku.
Aku menyisir rambut dan mengikatnya asal. Mencuci muka dan berganti baju dengan kaos longgar dan celana olahraga. Aku keluar dari kamar lalu turun ke ruang keluarga. Disana seorang pemuda tengah duduk bermain bersama Dera dan Nino, adik sepupuku. Tepat saat kakiku memijak anak tangga terakhir, mereka bertiga menoleh kearahku. Aku menghampiri mereka dan menyalami pemuda itu, Dia Om Alva. Sepupu ibuku.
"Ini Rhea? Udah beda banget." Ia terkekeh.
Aku tersenyum canggung dan berlalu ke dapur.
Aku memang jarang bertemu dengannya, karena Ia kuliah di kota lain. Aku bersandar di dinding dan memperhatikannya. Sungguh ciptaan tuhan yang indah alis hitam, mata cokelat, bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibir yang--
"Rhe, panggilin Om Alva, ajak makan." Nenek membuyarkan lamunanku.
Apa-apaan otakku ini, ingat Rhea dia bukan yang seharusnya. Bahkan usianya terpaut dua belas tahun.
"Iya Nek."
Aku berjalan kearahnya.
"Om, makan dulu." Ia tersenyum dan mengangguk kearahku.
"Kalian berdua juga, jangan main terus."
Dera dan Nino hanya mengangguk singkat.
Om Alva bangkit dan berjalan melewatiku. Aku mengikuti dibelakangnya. Kami makan dalam diam. Usai makan, aku memilih berdiam di kamar sambil membaca buku.
Aku hanyut dalam cerita yang kubaca, saat melihat jam, jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Aku keluar dari kamar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar di seberangku. Om Alva keluar dan tersenyum padaku. Aku tertegun, menatapnya. Kenapa Dia masih disini?.
"Rhe, cari makanan yuk?." Suara tenang itu memecah keheningan.
Aku tersadar dan mengalihkan pandangan.
"Cari makanan? Maksudnya? Di kulkas banyak kok, mau Rhea ambilin?."
Dia tersenyum.
"Jangung bakar, Om mau cari jagung bakar. Mau ikut?."
Tanpa bisa dikendalikan Aku mengangguk. Oh tubuh kenapa kalian tidak sesuai dengan otak?.
"Rhea ganti baju dulu." Dia mengangguk.
"Om tunggu dibawah."
•••
Saat ini aku duduk di mobilnya. Berpura-pura santai dengan headphone di kepalaku. Yah, headphone memang selalu menjadi penyelamat.
Mobil berhenti di sebuah parkiran yang cukup luas. Diluar jendela terlihat beberapa penjual makanan.
Aku menoleh.
"Di mobil aja?." Ia bertanya sambil merapikan barang-barangnya.
Ia melihat kearahku karena tak menjawab.
"Rhe?."
Aku mengangguk cepat. Ia keluar dari mobil dan memesan ke salah satu penjual jagung bakar. Ia kembali membawa piring berisi dua jangung bakar. Ia memberikan satu untukku. Keheningan kembali mengisi.
Aku makan dengan cepat. Ia mengembalikan piring ke penjualnya.
"Pulang?." Aku bertanya.
Ia menghidupkan mesin mobil dan mulai melaju.
"Kemana?." Aku menatapnya.
"Ke deket taman kota. Ada festival lampion."
"Festival lampion?."
"Iya."
Ia memarkirkan mobil di dekat taman. Daerah sekitar taman terdapat banyak gedung tua. Dan saat ini gedung-gedung itu dihiasi dengan lampion-lampion.
"Masih satu jam lagi. Mau kemana dulu?." Ia bertanya.
Mataku menelusuri tempat itu dan berhenti di salah satu tempat. Di tempat itu terdapat sebuah kolam dengan lampion berbentuk teratai mengapung diatasnya.
"Kesana." Aku menunjuk tempat itu.
Ia mengangguk. Dan berjalan dengan langkah kecil-kecil agar seimbang denganku.
Ia membeli dua lampion.
"Mas." Saat baru pergi beberapa langkah si penjual memanggilnya. Dia kembali menghampiri si penjual. Aku memperhatikan mereka.
"Mas pembeli ke seratus malam ini. Ini ada hadiah." Penjual itu memberikan sepasang gantungan kunci berbentuk teratai.
"Mitosnya sih, kalau satu gantungan kunci itu dikasih ke pasangan, bakalan langgeng." Penjual itu melirik kearahku.
Dia mengangguk, lalu berjalan kearahku.
Aku menaruh lampion diatas kolam, diikuti dengan Dia.
"Mau itu?." Dia menunjuk ke stand yang menjual biskuit berbentuk lampion.
Aku mengangguk. "Ayo." Aku menarik tangannya.
Aku mengambil dua biskuit. Ia membayarnya dan mengambil biskuit yang sama. Aku duduk ditrotoar dan dia berdiri bersandar ke dinding bangunan. Aku menghabiskan biskuit dalam sekejap.
"Rhe, sepuluh menit." Ia menarik tanganku menuju jalan di seberang stand makanan. Ia membeli dua lampion.
"Ini, tulis harapan kamu." Ia memberikan spidol. Aku menuliskan harapanku.
'Segala yang terbaik untukku. Dan dia, seseorang didekatku saat ini, selalu disisiku.'
Aku membawa lampionku dan berkumpul dengan orang-orang yang juga memegang lampion. Ia berdiri disampingku.
"Lima"
"Empat"
"Tiga"
"Dua"
"Satu"
Aku melepas lampion ditanganku yang langsung terbang ke langit malam.
Aku menoleh kearah Om Alva. Ia mendongak melihat langit yang dipenuhi cahaya dari lampion. Dan untuk yang kesekian kalinya aku merasakan sesuatu yang aneh didiriku.
Entah sejak kapan. Mungkin sejak ia datang ke rumah tadi sore, atau saat ia mengajakku keluar, atau mungkin sekarang, saat aku berada begitu dekat disampingnya.
YOU ARE READING
White Cloud
Romance"Maaf. Setelah ini bersikaplah seperti biasa, seakan aku tidak pernah mengucapkan apapun." -Alva Setyatama "Aku tidak akan pergi, karena aku sudah terlalu mencintai." -Rhea Velandra /// Dia bukan yang seharusnya. Tapi saat rasa sudah berkata. Akanka...
