Cerita Sani

48 7 6
                                        



Satu persatu undangan reuni mulai berdatangan. Wajah-wajah yang dulu muda kini nampak menua dimakan usia. Tidak hanya usia, namun juga pengalaman kehidupan. Bisa ditebak antara yang berat tekanan hidupnya dengan yang tidak. Yang berat tekanan hidupnya, wajahnya lebih tua daripada usianya. Kehidupan hari ini semakin berat. Tuntutan hidup kadang menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus. Yang bertahan dengan jalan lurus harus tertatih dan berhati-hati menapaki jalan kehuidupan.

Saxophone Kenny G mengalun dari music player yang putar oleh panitia. Beberapa orang yang  saling mengenal berbincang dan bertanya kabar satu sama lain. Sementara yang kurang terkenal seperti aku biasanya mengasingkan diri dari kumpulan. Aku duduk di pojok ruangan setelah mengambil segelas sirup jeruk. Menyeruput setengahnya sambil mengamati tamu undangan yang datang. Beberapa ada yang ku kenal, namun lebih banyak yang tak ku kenal. Sebagian lagi hanya kenal wajah, tak kenal nama. Aku sesekali melempar senyum dan membalas "Hai" untuk orang-orang yang aku kenal wajah saja.

Seorang lelaki berwajah agak gelap masuk. Badannya tegap dengan otot-otot menonjol dari suit press body yang ia pakai. Ia berhenti sejenak setelah tiga langkah dari pintu masuk. Matanya menyapu ruangan. Nampaknya ia mencoba mencari kawan yang ia kenal. Matanya terhenti di pojok ruangan dimana Aku sedang duduk dengan santai sembari menikmati minumku. Ia melangkahkan kakinya mendekati dimana Aku duduk.

"San..., masih ingat aku?"

Sang Lelaki tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangan itu sambil menyerngit dahi. Mencoba mengingat-ingat siapa gerangan lelaki ini.

"Aku.., Matius. Teman satu kos dulu."

Lelaki itu menarik kursi lalu duduk disampingku.

"Weeii, Matius. Apa kabar?"

Aku terlonjak dan tersenyum lebar ketika tahu bahwa yang duduk disampingku itu adalah Matius. Teman satu kosku dulu.

"Baik, San. Sekarang aku tinggal di Balikpapan. Di asrama tentara. Kalau tak ada kamu dan Didit dulu, entah jadi apa aku sekarang."

Aku tersenyum lebar. Aku merasa senang dengan kawannya yang satu ini. Awal-awal kuliah di UNMUL kami dipertemukan disebuah kos di dekat mesjid As-Said jalan pramuka. Matius merantau jauh dari Flores menghindari orang tuanya yang memaksa ia untuk masuk kuliah jurusan kristologi. Dengan hanya berbekal nekat, beberapa lembar baju dan uang di dompet, serta sekarung beras ia menuju Samarinda. Sebuah tanah yang dijanjikan baginya.

Sementara Aku adalah anak pesisir Bontang. Meneruskan pendidikan ke UNMUL setelah lulus dari SMA. Hampir mirip dengan Matius. Walaupun rumah orang tuaku lebih dekat daripada Matius, namun kondisi ekonomi kami tak jauh beda. Dengan kondisi keuangan yang terbatas kami berburu kamar kos dengan sewa yang paling murah. Jadilah kami dipertemukan di kos itu.

Mengenang masa-masa sulit itu, kadang Aku tersenyum sendiri....

.... 12 tahun yang lalu

Kos itu hanya memiliki 8 kamar yang disewakan dengan ukuran 2 x 2. Sedikit lebih luas dari lubang kuburan. Di ruangan inilah kami menghempaskan badan lelah setelah seharian berkutat dengan perkuliahan dan organisasi. Kadang terbersit hati untuk pindah ke kos yang lebih nyaman. Namun apa daya keuangan tak mencukupi. Jika akhir bulan, makan saja susah. Lebih sering berpuasa. Alasannya menjalankan sunnah rasul sembari menghemat uang bulanan.

Syukurnya, ada saja undangan makan dari masyarakat sekitar yang sedang ada hajatan. Atau kadang pernikahan kakak tingkat atau alumni. Momen seperti ini tak pernah terlewatkan. Seperti juga sore itu. Setelah dzikir dan doa shalat magrib, sang imam masjid as-said bangkit berdiri. Beliau mengumumkan kepada para jemaah agar setelah shalat ini menuju rumah pak Imron. Beliau mengadakan hajatan syukuran atas kelulusan anaknya. Anaknya baru saja menyelesaikan study S2-nya di UI.

"Para jemaah yang dirahmati Allah. Menyampaikan amanat salah seorang jemaah, yakni pak Imron. bahwa setelah shalat magrib ini kumpul dirumah beliau untuk hajatan syukuran."

Bagi kami anak kos dan perantauan yang tipis kantong, ada dua kabar yang paling membahagiakan untuk didengar. Yang pertama mendapatkan nilai A dalam mata kuliah dan yang kedua adalah undangan makan.

Aku, Arif, Didit, Herwan saling pandang dengan senyum tersungging penuh bahagia. Kami kemudian mengangkat tangan untuk berdoa dengan khusu'. Aku bahkan bisa mendengar lirih doa mereka.

"Ya Allah, terima kasih atas rezekiMu... Sering-sering saja ya Allah."

Pak Imron adalah salah satu warga yang cukup sering mengadakan hajatan. Beliau yang paling tahu masalah keuangan anak kos seperti kami, menempatkan kami ditempat khusus.

"San..." panggil pak Imron."Ke dapur. Ajak yang lain sekalian."

"Siap, Pak!"

Sumringan. Aku dan kawan-kawan menyelinap menuju dapur. Mantap. Tak ada tempat yang paling favorit bagi mereka selain dekat dengan sumber makanan.

Dandang nasi didekatkan bersama dengan dandang sayur. Selesai doa dibacakan adalah pertempuran bagi kami. Tak ada kata-kata yang terucap. Namun tangan kami dengan cepat meraih sendok nasi dan menumpuk nasi semuat piring. Menyendok sayur dan lauk dan meletakkannya di sisa ruang di piring. Setelah itu yang terdengar hanyalah sendok yang beradu dengan piring sesekali. Kepala tunduk khusu' menatap piring nasi sembari tangan menyendok nasi kemulut. Belum ditelan nasi di mulut datang lagi sesendok penuh nasi ke mulut.

Aku, Arif, Didit, Herwan saling pandang sambil terus menyendok nasi ke mulut. Tatapan mata itu mengisyaratkan satu kesimpulan saja.

Makan Bleh,.... Makan sebanyak-banyaknya. Kalau bisa sampai tahan kenyangnya dua hari.

Dan begitulah selalu kami dan acara makan hajatan. Berakhir dengan perut membuncit sampai tak bisa berdiri dan keringat membanjiri dahi. Khas orang Indonesia. Tak berkeringat jika bekerja namun banjir peluh jika makan

)I(----------)I(

Bersambung ...

Note form writer to reader:

Komen "lanjut" jika merasa cerita ini menarik dan ingin tahu lanjutan ceritanya 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 06, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ReuniWhere stories live. Discover now