Born

222 18 6
                                        

"Apa kau siap nak?"

"Kau lebih tahu jawabannya."

"Oh ayolah, bisakah kau berpura-pura tak tahu siapa aku? Kau sungguh tak punya selera humor nak."

"Kau yang menciptakanku begini, bagaimana aku bisa menolak?"

"Ya ya ya, baiklah. Jadi kau mau dilahirkan dimana?"

"Terserah."

"Ingin orangtua yang bagaimana?"

"Terserah."

"Oh, ayolah. Kau pasti ingin sesuatu khan?"

"Tidak terima kasih. Aku tahu itu tak gratis, dan aku takkan tertipu kali ini."

"Hahaha inilah yang aku suka darimu."

"Kau hanya menyukai dirimu sendiri."

"Oke baiklah pertanyaan selanjutnya. Kau ingin dilahirkan sebagai pria atau wanita?"

"Bisakah semua pertanyaanmu itu dijawab dengan terserah? Aku sudah muak mengulangnya lagi dan lagi. Setelah siklus ini aku ingin selesai. Kembali padaMU dan tak perlu turun kesana lagi. Dan lagi kenapa tak kai suruh saja petugasmu yang biasanya? Kupikir kau lebih sibuk dari ini."

"Hahaha kau lupa siapa aku hmm? Aku berhak melakukan apa saja dan jadi siapa saja. Aku bisa saja mengisi semua form ini dengan terserah karena aku sudah tahu sebelumnya bahkan sebelum alam semesta ini tercipta nak. Tapi aku tidak melakukan itu, karena aku memberimu kesempatan. Tak banyak yang mendapatkan kemurahanku belakangan ini, apa kau yakin tetap ingin mengisinya dengan terserah?"

"...."

"Jawab aku dan ini akan segera berakhir."

"Aku yakin jika mereka yang memujamu dibawah sana mengetahui betapa menyebalkannya dirimu, mereka akan lebih memilih menyeburkan dirinya ke neraka dengan senang hati."

"Hahaha aku mengetahui apa yang tak kamu ketahui nak. Jadi apa jawabanmu?"

"Terserah."

"Baiklah, tapi jangan sungkan untuk memohon dibawah sana. Aku akan mendengarkan."

"Ya ya ya. Jadi apa tugasku kali ini?"

"Kau akan mengetahuinya ketika tiba waktunya. Hingga saat itu tiba yang harus kau lakukan adalah ber-sa-bar. Mengerti?"

"As YOUR wish my LORD."

"Good boy. Nah sekarang takdirmu disiklus ini telah aktif. Kali ini aku akan memberimu suatu hal yang menarik."

"Apa ini? Kertas kosong?"

"Bukan kertas biasa."

"Terlihat seperti kertas kosong yang terbuat dari emas olehku."

"Kau tahu khan aku memiliki sebuah buku yang berisikan seluruh takdir alam semesta? Tak ada sehelai daun pun yang gugur diperut hutan belantara yang luput dari pengawasanku."

"Lalu?"

"Itu salah satu lembarannya."

"Untuk apa kau memberiku ini?"

"Terserah."

"Jadi sekarang kau balas dendam padaku dengan menggunakan kata-kataku?"

"Sebenarnya itu kata-kataku yang diucapkan olehmu."

"Terserahlah. Kau selalu membuatku frustasi."

"Hahaha kau terlalu tegang nak. Relax. Kau bisa terbunuh sebelum terlahir jika begini caranya."

"Baiklah aku akan menyimpannya dan mencari kegunaannya dibawah sana."

"Gunakan dengan bijak nak."

"Semoga tak perlu kugunakan, karena pasti harga yang harus kubayar sangat mahal."

"Hahaha ayolah kau tahu khan Aku pemurah?"

"Ya, dan adil. Selalu ada reaksi untuk setiap aksi. Itu khan peraturan mutlakmu?"

"Hahaha kau selalu membuatku terhibur nak. Itulah mengapa aku menyukaimu."

"Kau hanya menyukai dirimu sendiri.

"Kau selalu saja sarkastik nak, kau perlu sedikit berbenah diri. Dibawah sana keras kali ini."

"Aku telah melewatinya beberapa miliar kali. Jadi sedikit tambahan penderitaan takkan membuatku kalah."

"Kau tahu kenapa kau masih mengulang sampai detik ini?"

"Kau yang mengirimku, kau ingat?"

"Karena kau salah mengartikan perintahku."

"Oh ya? Aku melakukan semua yang kau perintahkan. SEMUA. Setiap detailnya. Persis seperti yang kau minta."

"Itulah mengapa kau masih mengulang. Kau sama sekali belum mengerti."

"Apa yang tidak kumengerti? Mana? Bagian mana? Tunjukkan padaku! Aku selalu berusaha melakukan tugasku sebaik sesempurna mungkin. Untukmu. Hanya untukmu. Bagian mana dari itu yang salah?"

"Kau kurang memperhatikan nak. Kali ini kuharap kau mengerti."

"Kau sudah tahu hasil akhirnya bahkan jauh sebelum aku melakukannya."

"Satu hal yang harus kau ingat nak. Aku mencintaimu. Dan aku takkan merubah nasib seseorang jika orang itu tak merubahnya sendiri."

"Ambigu. Klise. Kau bebaskan kami tapi kau mengikat kami dengan takdir. Omong kosong."

"Hanya bagi mereka yang tak paham. Sepertimu."

"Terserah."

"Semoga beruntung nak."

"...."

"Kali ini kau tak sendirian. Beberapa dari kalian akan kuturunkan."

"Jangan bilang kau..."

"Ya."

"Jangan! Kau tak perlu melakukannya. Aku bisa selesaikan semuanya sendiri."

"Kurasa tidak."

"Jangan, kumohon, jangan turunkan mereka."

"Begitu besarkah cintamu pada mereka?"

"Kumohon, aku tak pernah meminta padamu. Kali ini saja, kumohon..."

"Kau lebih mencintai mereka daripada aku? Itu membuatku cemburu."

"...."

"Aku akan tetap menurunkan mereka. Dan tugas tambahanmu adalah bimbing mereka. Hanya kamu yang akan mengingat ini semua nak. Jadi yakinkan mereka untuk tetap dijalannya. Kau mengerti?"

"Yes...My LORD."

"Sekarang lahirlah."

JourneyStories to obsess over. Discover now