Bab 1

56 7 0
                                        

“Now, meeting you feels like a disaster which comes to me for a long time..
And not seeing you, feels like a freedom..”

Dulu, saat aku sangat menyukaimu, melihatmu saja sudah bagaikan berada di surga dunia. Kau terlihat tampan di mataku, tapi segelintir orang menganggap aku hanya membual bahwa kenyataannya kau tidak tampan. Ya, kau memang tidak tampan. Tapi senyummu begitu manis bagaikan cokelat favoritku yang melumer di lidah. Tapi mereka tetap menyangkalnya, kau tidak tampan maupun manis.

Aku mulai berusaha mendekatimu. Semua perlakuan temanmu padamu pun aku persepsikan bahwa kau juga menyukaiku. Mereka seperti menggodamu untuk mendekatiku.

Tapi, sekarang? Teman-temanmu sudah seperti tak peduli apa yang akan terjadi. Kau pun sama, seperti berusaha untuk menjauhiku. Aku jadi tidak mengerti dengan semua kejadian yang dulu kualami. Kukira kau menyukaiku, tapi nyatanya tidak.

Lalu apa arti semua ini?
.
.
.

A ConscienceWhere stories live. Discover now