Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

PROLOG

42 5 3
                                        

Hatiku terluka ketika mengingat semua kenangan itu

Namanya masih terucap di bibirku yang masih bergetar mewakili pedihnya hati

Aku sadar memang inilah takdir

Tapi takdir tidak akan berubah jika kita hanya diam membatu tanpa berusaha

Tidak ada gunanya jika kita menyerah sebelum berperang

Mungkin yang datang hanya penyesalan karena tidak pernah mencoba.

Dihadapanku, salah, dia berada di seberang sana dengan jarak hanya beberapa langkah. Namun, mata hijau terangnya menatapku. Apa aku salah melihatnya? Kuseka air mata yng entah dari mana datangnya. Dia bukan lagi bocah ingusan yang tumbuh besar bersamaku, bukan lagi orang yang membantuku ketika jatuh, bukan lagi bocah yang rela menerobos derasnya hujan untuk mencariku di tengah gelapnya malam yang segelap mata hitamnya.

Aku menghembuskn nafasku perlahan. Rob, memiliki mata segelap langit malam tanpa bintang, itu pasti bukan dia. Lagi pula wajah Rob penuh senyum dan canda tidak seperti laki-laki itu dengan wajah tegas dan kejam, tapi... rasanya aku pernah melihat mata hijau itu, tapi dimana? Ahh, untuk apa aku memikirkan itu. Lebih baik aku segera berangkat sebelum terlambat dan bosku siap mencakarku sesuka hatinya. Aku sudah membuang banyak waktu sia-sia.

Dibalik punggungnya, Juliette tidak menyadari langkah kaki yang ikut mengikuti setiap langkahnya. Mata hijau itu tidak berhenti mengawasinya. Ujung bibir pria itu terangkat tidak sampai matanya. Laki-laki itu berbalik saat merasa situasi lebih aman, jemarinya menyisir helaian rambut hitamnya menjadi berantakan. Kemudian ponsel hitam disaku jaketnya berbunyi. Tanpa menjawab telepon itu dia sudah tau apa yang akan terjadi. Senyum itu semakin mengerikan dengan salah satu ujungnya yang semakin terangkat.

~***~

●Juliette●

Hawa dingin semakin menusuk kulitku, hujan pun ikut menangis bersamaku. Petir semakin keras membicarakan nasibku, apakah aku serendah itu? Apa aku tidak boleh bahagia? Kenapa mereka membuangku? Serendah apa aku di depan mereka? Aku semakin memeluk diriku erat. Hawa dingin seakan ingin membekukan diriku. Mungkin aku sudah tidak ada artinya lagi di mata mereka.

Entah bagaimana aku bisa merasakan sebuah mobil hampir menabrakku, entah keajaiban dari mana. Mobil itu hangus tersambar petir. Mataku membulat kaget, bingung dengan yang terjadi. Lalu, aku merasakan sebuah pelukan dari belakang tubuhku menarikku ke tepi.

"Please stay, wait me, I'll be back for you, believe me"

Aku bisa mendengar hal yang lebih keras dari sahutan petir. Tapi aku tahu jika tangisannya menandakan bahwa bukan hanya aku yang sedih dengan kepergiannya. Aku percaya dengannya. Selalu.

~***~

"Apa sudah merasa lebih baik?"tanyanya sambil terus mengusap rambutku yang basah dengan handuknya. Aku yang masih kedinginan hanya mengangguk dan mencekram kaos hitam polos yang dipakainya.

"Kenapa kau keluar rumah? Bukannya kau takut petir?" pengawalnya dengan setia berdiri didepan kami dengan payung hitam yang menjaganya dari rintik-rintik hujan.

"A..aku tidak ingin kau pergi!" bibirku masih setia bergetar. Aku memang tidak ada apa-apanya dengan Rob, sekarang dia telah menemukan keluarganya. Keluarga miliknya yang sebenarnya.

Dulu kami tinggal di panti asuhan yang sama. Aku masih ingat ketika pertama kali aku dibawa ke tempat itu. Salju pertama kali jatuh pada tahun itu. Pamanku yang membawaku kesana, dia tidak ingin aku ikut dengannya, dia berharap aku mendapat keluarga yang lebih baik dari pada dirinya yang hanya buruh pabrik. Sebenarnya aku tidak keberatan tentang hal itu, tapi apa yang harus dilakukan gadis kecil yang umurnya saja belum genap empat tahun.

"Ayo kemarilah Liette!" ajak ibu panti sambil merentangkan tangannya. Aku semakin bersembunyi di balik tubuh pamanku. Aku selalu takut dengan orang baru, tidak akan bisa kulupakan wajah asing yang membunuh kedua orang tuaku. Sejak itu aku selalu merasa tidak nyaman dengan orang baru.

Tiba-tiba ada yang menarik lenganku, percayalah jantungku seakan mau berhenti dengan gerakan tiba-tiba itu. Aku langsung menoleh dan mendapatkan senyuman menyebalkan dari bocah penuh lumpur yang merangkulku. Apa dia tidak sadar jika salju mulai turun? Dasar aneh.

"Wah, kita akan punya adik kecil yang manis!" dia berteriak kepada teman-temannya. Lalu banyak anak-anak yang menghampiri kami, aku semakin ketakutan dan memeluknya erat lalu terisak kecil.

"A..kau takut, hiks.. " kalimat itu berulang kali kuucap.

"Hey, tenanglah. Kami akan jadi keluargamu." dia mengusap rambutku perlahan, mataku mencari matanya, ada kejujuran disana. Dia tersenyum kepadaku, bukan senyum menyebalkan seperti tadi tapi senyum menenangkan yang rasanya tidak mungkin dimiliki orang sepertinya.

Sejak itu hanya dia yang bisa benar-benar kupercaya. Terkadang anak panti lainnya sering mengusiliku, tapi aku tak pernah takut karena aku memiliki seseorang yang akan menjagaku, sampai sebuah mobil yang sangat mewah berjejer didepan pintu rumah panti.

Bertahun-tahun aku disini menunggu keluarga baru yang akan menjemputku. Aku sedikit heran dengan pengurus panti yang tiba-tiba mengajakku pergi belanja keperluan panti karena biasanya aku ingin ikut dengannya saja tidak boleh. Dia beralasan kalau ini saatnya anak berumur 12 tahun untuk mulai membantu pengurus panti.

"Ka..kau mau pergi kemana?" aku sudah berdiri didepan mobil mewah yang akan membawanya pergi. Tatapanku begitu kosong , namun tetap menatap matanya dibalik kaca.

"Liette, berbahaya! Ayo kemari!" teriak ibu panti, tapi aku tetap berdiri gemetar. Telingaku seakan tuli mendengar teriakan yang menyuruhku berpindah dari tempatku berpijak dan puluhan klakson yang memekakan telinga.

Seorang pengurus panti langsung mengangkat tubuhku untuk menyingkir dari depan mobil tadi. Aku tidak memberontak, hanya diam seperti tidak bernyawa.

I lost him.

"Kau melamun lagi!" dia melempar handuk kecil tadi tepat di kepalaku dan berdiri dari posisi awalnya. Aku mengerjap dan menatapnya bingung.

"Sudahlah, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik karena mulai sekarang tidak ada aku yang akan menjagamu. Selamat tinggal," dia menatapku bersalah dan menepuk beberapa kali kepalaku, sebelum melangkah menjauh perlahan. Awalnya aku tidak paham maksud kalimat terakhir yang dia ucapkan, tapi hari berubah menjadi bulan dan bulan menjadi tahun dia tidak pernah menungunjungiku.

Sejak saat itu aku semakin tidak mempercayai orang lain. Aku pernah sekali mencoba menemuinya, tapi yang dia lakukan malah mengusirku dari rumahnya. Padahal, untuk mendapatkan alamat rumah itu aku harus menyelinap ke dalam kantor ibu panti.

I lost him and he lied to me.

~***~

JOMBANG, 9 June 16

Leave vote and comments please :)

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 08, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

JulietteStories to obsess over. Discover now