POV Keira
"Hhhuuuhhh..." Untuk kesekian kalinya aku mengeluh. Bagaimana bisa ada soal yang begitu gila seperti ini. Astaga, akan kukutuk kau livie. Persetan dengan persahabat kita. Gara-gara loe, gue bisa terancam terkurung dirumah. Hanya karna soal-soal yang seharusnya bisa ku kerjakan dengan mudah seperti biasa.
"Tteennnggg...tttteeeennnggg..." Ohh MY GOD, tamatlah riwayatku "kalian bisa keluar sekarang, tinggalkan saja kertas jawaban kalian diatas meja" perintah Miss Aida langsung dilaksanakan oleh teman-teman sekelasku termasuk aku walau ada sedikit keterpaksaan didalamnya.
"astaga, tunggu!!! Aku hanya menyelesaikan 9 soal dari 15 soal yang ada dan belum tentu semua itu benar. Aku pasti gila, ya aku memang gila sekarang" ringisku pelan sambil mengacak-acak rambut indahku dikantin.
"Kei... loe kenapa? Ohh... Ya, gue denger kalian tadi ada ulangan ya Kei?" aku hampir menjerit disaat sabahabat yang sebentar lagi kuhabisi ini menepuk pundakku dan duduk disampingku dengan senyuman manis yang tercetak indah diwajah polosnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Livie, mendingan loe kabur sekarang. Sebelum nih minuman pindah tempat ke muka loe" ancamku dengan ekspresi wajahku yang campur aduk antar kesal, marah, dan tak tega. Livie, ya Liviana Sofhie Waterson adalah sahabat sekaligus sepupu yang amat teramat ku sayangi, wanita yang berparas cantik, bertubuh tinggi dan seksi layaknya model international atau lebih tepatnya seperti gitar spanyol yang terkenal dengan bentuk lekukannya yang terpahat indah. "Emang gue salah apa Kei? Gue kan cuma nanya doang" jawabnya dengan wajah takut karna aku sudah menggenggam minumanku dan kuangkat seperti akan menyiram wajahnya.
"Loe masih ngak tau juga, loe lupa. Amnesia atau loe memang ngak mau ingat haa!!!" Bentakku keras sampai menjadi perhatian banyak siswa siswi yang sedang melakukan berbagai aktivitasnya di jam istirahat. Baik yang berada dikantin maupun dilapangan basket yang memang berhadapan dengan kantin "tunggu Kei, emang gue salah apa? Gue beneran ngak tau" jawabnya pelan sambil menunduk karna risih dengan pandangan orang-orang yang memfokuskan perhatiannya ke kami. Livie memang wanita yang berparas cantik, tapi dia tidak seperti wanita cantik pada umumnya yang akan menyombongkan kecantikannya kepada dunia. Atau bahkan mempergunakan kecantikannya untuk mendapatkan pria tampan dan berharta dengan bertingkah layaknya b*tch. Livie lebih memilih tidak dikenal daripada harus menjadi pusat perhatian banyak orang karna kecantikannya. Tapi dia akan sangat bangga jika dikenal sebagai wanita yang pintar. Aneh memang, mendapatkan wajah yang sempurna tapi tidak digunakan.
"Oke, kalo memang loe lupa, biar gue kasih tau. Supaya otak loe yang pintar itu bisa berfungsi seperti biasanya" aku langsung memperlihatkan layar handphone kesayanganku pemberian ayah bulan lalu kepadanya.
"Astaga!!! Kei gue lupa, loe beneran dateng Kei?" jawabnya sedikit terkejut setelah aku memperlihatkan pesan yang ia kirim semalam. Pesan yang membuatku harus menjadi dirinya lagi dan melewatkan jam belajar intensiveku hanya karna perjodohan bodoh yang biasa dilakukan oleh mamanya. "Menurut loe? Setelah gue jadi kayak orang frustasi karna nilai terburuk yang gue punya seumur hidup gue sebentar lagi bakal keluar dan kebebasan yang menjadi kebanggaan gue selama ini bakal hilang hanya karna sms yang gue kira bisa nyelamatin sahabat gue dan ninggalin les intensive gue. Tapi sayangnya sahabat sekaligus sepupu gue yang cantik ini bahkan ngak peduli sama nasib gue kedepannya" cerocosku cepat tanpa jeda dan langsung pergi meninggalkannya tanpa harus melihat ekspresi memelasnya seperti biasa yang pasti dia tujukan padaku.
"Kei... Tunggu. Guekan ngak tau kalo hari ini loe ada ulangan" seruku sedikit berteriak karna aku sudah hampir jauh meninggalkan kantin dan segera menuju kelas.
----
"Keira...." Bujuk Livie dengan senyuman manisnya sambil menggandeng sebelah tanganku dalam perjalanan pulang kami menuju halte. ya memang, aku dan livie memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Tapi aku dan livie lebih memilih pergi dan pulang sekolah dengan angkutan umum. Karna menurut kami, kami masih gadis dibawah umur. Dan belum saatnya kami menggunakan kendaraan pribadi, lagipulakan kami juga membantu negara dalam mengatasi kemacetan bukan. Ya, walau ku akui aku ingin sekali membawa pergi mobil pertamaku pemberian ayah waktu ulang tahunku yang ke-18 tahun, 3 bulan yang lalu. Tapi itu tak masalah. Aku berencana kuliah nanti aku akan membawa kendaraan pribadi dan itu tidak lama lagi. Karna memang kami akan tamat sebentar lagi.
"Apa sih Liv, loe kayak tokek aja. Nempel trus, jauh jauh ahhh.... Risih gue tau ngak" sungutku kesal disaat kami sudah didalam bus dan dia belum juga melepaskan tangannya dariku walau sudah ku coba untuk menyingkirkannya.
"Keira... Ayolah. Ngambekan banget sih loe, guekan lupa. Beneran loh, gue lupa. Maafin dong Kei" mohonnya dengan wajah memelas
"Ngak!!! loe pikir dengan permintaan maaf dan wajah melas loe itu. Nilai gue bisa berubah gitu. Ngak kan, Ya udah!!!" bentakku keras
"Ya ampun Kei, ngak usah kuat-kuat juga kali" ringisnya pelan sambil menutup kedua telinganya dengan tangannya. Tapi itu tidak membuatku memaafkannya, aku tetap bergeming menanggapinya. Setidaknya sekarang tangan kiriku bisa bergerak.
"Kei... Maaf dong. Loe minta apa, gue beliin deh. Apapun, bahkan kalo memang loe mau cafe, juga gue beliin. Tapi loe maafin gue ya" melasnya sambil menarik paksa headsetku yang memang ku pasang disaat dia sudah melepaskan rangkulannya ditangan kiriku tadi.
"Ya elah, sombong banget sih loe. Dari pada loe beliin gue cafe mending loe beli headset sendiri, ngak usah ngambil-ngambil headset gue" jawabku kesal sambil berusaha mengambil kembali headsetku ditangannya
"Keira guekan-"
Tanpa melihatnya aku segera pergi meninggalkannya dan membiarkan headsetku padanya.
YOU ARE READING
My Prince
Teen FictionKeira Agatha Stern putri tunggal dari keluarga Stern gadis belia yang berumur 18 tahun ini berparas cantik, anggun dan baik tapi sedikit ceroboh. Layaknya gadis belia pada umumnya, dia menginginkan sosok seorang pria yang tampan layaknya pangeran be...
